Lelaki dengan tatapan tajam dan menusuk, berjalan masuk cepat pada sebuah ruko kecil. Wajahnya tirus dengan hidung kecil dan bibir mungil. Walaupun terlihat tampan, orang yang melihatnya mungkin akan merasa terintimidasi karena tatapan dinginnya. Ia mendorong pintu kaca dengan hiasan cantik di sana.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” sapa seorang gadis resepsionis berhijab di sana.
Rainer Liam, nama pria berusia 26 tahun itu, mengedarkan pandangannya pada ruang studio yang tidak terlalu luas. Tatapannya berhenti pada wanita muda yang mencoba tersenyum padanya walaupun kaku. Di tangannya, digenggam sebuah benda tipis persegi panjang berwarna hazelnut berpita satin coral almond.
“Ada Kiara di sini?” suaranya datar tetapi kesannya dingin.
“Apa sudah ada janji sebelumnya, Kak?” tanya gadis resepsionis ragu.
Pertanyaan itu belum sempat dijawab karena sedetik kemudian keluar dari ruangan lain wanita muda berhijab panjang dengan gamis casual. Wajahnya bulat dengan bibir sedikit berisi. Sebuah kacamata bertengger di wajahnya. Ketika ia tersenyum, deretan giginya terpasang kawat dengan warna-warni karetnya. Wajahnya terlihat merah padam dan cemas.
“Eh, ada Kak Rainer. Sudah datang, ya?” ucap gadis muda berusia 23 tahun bernama Kiara itu berbasa-basi. Senyumnya berusaha ia tampakkan pada klien di depannya. Sama seperti resepsionis yang berjaga, senyum itu kering dan kaku karena melihat pria dingin di depannya. Apalagi tampaknya kini raut wajah Rainer berubah mengkerut.
“Mata lo buta apa?! Kok bisa, nama calon istri gue ini salah cetak?!” geram Rainer.
Dilihat dari sorot mata dan ekspresi wajahnya, pemuda tampan itu benar-benar berang dengan hasil cetak undangan pernikahannya yang salah.
Sementara gadis berhijab di depannya hanya menunduk tatkala kliennya itu melontarkan kekesalan padanya. Senyuman di wajah Kiara perlahan berubah hingga lengkungan itu hilang. Tatapannya masih menunduk dengan benak yang sedang merutuk. Ini murni bukan salahnya, karena ia hanya penyedia jasa Wedding Organizer, yang menyanggupi semua permintaan klien di depannya ini. Termasuk permintaan untuk mencetak undangan pernikahan.
“Ma—“ baru saja ia akan meminta maaf, tetapi pria itu sudah berbicara lebih dulu.
“Profesional kata lo?! Buktiin seprofesional apa bisnis lo ini!”
Rainer benar-benar tidak menyangka, gadis yang bertanggung jawab untuk mengurus keperluan pernikahannya tidak tahu apa-apa. Kertas undangan berglitter itu dikirim langsung oleh karyawan WO ini langsung ke alamat rumahnya. Bahkan kepada seluruh daftar alamat penerima yang sudah ditulisnya. Kacau. Rainer memijat pelipisnya.
Sementara itu, Kiara meneguk ludahnya sendiri. Ia memang tidak sempat mengeceknya lagi. Karena saat pihak desainer dan percetakan mengirim hasil digital, ia sudah memastikan dengan benar bahwa di kertas undangan itu memuat nama calon istri pria di depannya.
Kemudian, ketika kertas undangan itu akan dikirim, baik dirinya dan karyawannya tidak memeriksanya lagi karena semua kertas undangan itu sudah berada di dalam kotak cantik yang menutupinya.
Namun sebenarnya Kiara dan karyawannya belum mengirim undangan itu seluruhnya karena pamannya-- yang notabene merupakan tamu undangan Rainer-- sudah memberitahu lebih dahulu ketika ada kesalahan dalam undangan itu. Jadi, Kiara masih bisa menghentikannya.
Kali ini, Kiara berusaha menahan perasaannya. Meski ini kali pertama yang terjadi selama bisnisnya berdiri, tetapi kekeliruan ini akan menjadi pelajaran yang berulang kali harus dicatat.
“Maaf, Kak. Kami akan bertanggung jawab dan ganti semuanya,” ucap Kiara menunduk.
Tentu saja, ia harus mengganti seluruhnya. Terlepas rugi atau nama baik bisnisnya tercoreng sedikit. Sebagai pemilik, ia akan menanggung seorang diri.
“Males gue jadinya kalau belum apa-apa aja, lo udah salah. Baca ini!”
Rainer menunjukkan tulisan bertinta emas dengan aksen emboss itu. Di sana terangkai indah sebuah nama cantik, Kiara meliriknya sedikit. Meski ia sudah membacanya berulang kali, ia masih tidak menyangka namanya terukir di sana.
Ya, nama lengkap dirinya sendiri. Serafina Anika K. Tetapi ia tidak berani mengatakan pada Rainer kalau itu adalah namanya. Terlalu takut dan mungkin pria itu akan menyangka yang tidak-tidak.
Mengapa dunia sekejam ini? Mengapa namanya sendiri yang harus menjadi korban kekeliruan salah cetak undangan? Apakah desainer undangan itu sengaja menulis namanya yang sedang patah hati itu, mengetahui sahabatnya menaruh rasa pada gebetannya?
“Nama siapa ini?” tanya Rainer seolah menantangnya.
Kiara menatap takut pada pria di depannya. Ia masih menundukkan wajahnya.