“Rio enggak memperkenalkan diri?” ujar Sandra setelah aku memperkenalkan diri kepada Bi Alya.
“Ri-Rio sudah sering main ke sini,” respon Bi Alya. “Si-silakan duduk.”
Ketika aku duduk bersimpuh di atas karpet, aku sempat melirik Ummi Nia dan melihat tatapannya melembut setelah melihat Bi Alya menerima kami. Aku dan Sandra duduk berseberangan dengan Bi Alya, sementara Rio belum duduk.
“Ummi tinggal dulu, ya. Umm, kalian suka pedas, `kan?”
“Jangan repot-repot, Ummi!” seruku.
“Oh, tidak. Ini malah harus dirayakan. Baru kali ini ada teman perempuan Nia berkunjung. Ummi senang sekali. Tunggu, ya. Ummi mau bikin seblak spesial!”
Lalu Ummi berlalu, meninggalkan kami, juga meninggalkan jeda hening yang canggung, yang menggantung di antara kami dan Bi Alya.
Hening pun segera dipecah oleh Rio yang berkata, “Aku mau salat Ashar dulu. Dan omong-omong, Bi Alya itu penulis fiksi di platform digital, juga seorang illustrator—kadang bikin komik meski gak ada yang tuntas. Kalian bisa bahas naskah drama yang kira-kira cocok sama karakter yang bisa Nia mainkan.”
“Ni-Nia mau ikut drama, Rio?” tanya Bi Alya.
“Iya. Di klub teater sekolah. Aku tinggal dulu, ya.” Rio beralih kepadaku dan Sandra sebelum menyambung ucapannya, “Kalian ngobrolnya yang tenang.”
“Dih, kamu bertingkah kayak bapakku, Rio!” cibir Sandra.
Rio hanya mengangkat bahu tak acuh dan kemudian pergi. Rio tinggalkan kami dengan Bi Alya tapi Rio membekali kami bahan pembicaraan yang bisa kami manfaatkan untuk mencairkan suasana.
“Drama se-seperti apa?” tanya Bi Alya sambil menatapku, namun beralih ke Sandra saat tatapannya menumbuk mataku, dan kemudian beralih ke permukaan meja saat menumbuk mata Sandra. Sungguh sosok yang canggung.
Aku melirik Sandra dan Sandra pun melirikku.
“Niat awal sih drama original tapi menurut Anna …,” Sandra mengawali.
“Nia akan kesulitan mendalami karakternya kalau tidak ada referensi,” sambungku.
Aku melihat perubahan air muka Bi Alya yang seperti menajam dan serius. Beliau benar-benar serius menanggapi kami, tidak ada rona sikap gugup yang sudah beliau tunjukkan sejak aku melihatnya. Hanya saja, sikap gugupnya kembali menyelimuti air mukanya saat dikejutkan suara langkah dari tangga, dan kemudian berubah melembut saat melihat Nia muncul di tangga.
“Ann, San,” sapa Nia sambil setengah melambai dan melangkah menghampiriku. Sampai di sampingku dia duduk lalu menyimpan kepalanya di panggkuanku. “Bosan …,” gumamnya.
Aku tersenyum dan mengusap kepala Nia. Nia memakai kerudung langsung yang ukurannya agak kekecilan, warnanya putih, tidak selaras dengan piyama longgar warna biru tua.
“Bosan tiduran terus?” tanyaku.
“Bukan. Baru selesai kerjain PR yang dikirim Rio. Sekarang bosan,” jawab Nia sambil menelungkupkan wajahnya ke pangkuanku. Aku sempat geli dibuatnya karena bingkai kacamatanya menekan pahaku.
“Ah, anak peringkat satu memang beda!” celoteh Sandra.
Lalu aku dengar kekeh Bi Alya melihat tingkah kami bertiga.
“Mana Rio?” tanya Nia.
“Salat Ashar dulu.”
“Benar kata Arianna, kalau … Nia sebaiknya memerankan tokoh yang sudah ada referensinya,” gumam Bi Alya.
“Hah?” Nia heran sambil memutar wajahnya. Kepalanya masih dipangkuanku. Kembali aku merasa geli saat dia bergerak.
“Rio kasih ide cerita Cinderella, tapi Cinderella-nya cowok. Nia jadi Ibu Peri-nya,” ungkap Sandra.
Nia langsung mengangkat kepalanya. “Ta-tapi aku gak bisa terbang!”
Aku terkekeh sambil mencubit pipi Nia, gemas. “Nggak ada yang bisa terbang, Niaaa! Tapi kamu benar. Kamu sebaiknya fokus pada aktingnya saja. Sulit juga membagi perhatian antara akting dan terbang pakai properti panggung.”
“Iya, itu maksudku!” Nia cemberut.
“Nia malah lebih cocok jadi Cinderella-nya, sih,” gumam Bi Alya, yang sepertinya ditujukan pada dirinya sendiri. Matanya tertuju ke permukaan meja dan tampak memikirkan penokohan yang cocok untuk Nia.
“Iya, Anna juga berpikir seperti itu, Bi—eh, boleh Anna panggilnya Kak Alya saja? Kayaknya lebih akrab begitu buat Anna.”
“Aku juga mau! Boleh, ya, Kak Alya?” Sandra ikut-ikutan, sambil mengepal kedua tangannya dan sorot matanya seperti memancarkan gemintang nan ceria kepada Kak Alya.
“Bo-bo-bo-boleh,” jawab Kak Alya tergagap parah.
“Bo-nya sekali aja, Bi,” komentar Nia.
“Ah, kamu juga suka tergagap,” komentarku sambil mencubit lagi pipi Nia.