Nyuut ... nyuuut!
Kepalaku cenat-cenut. Pusing dan sakit sekali. Aku mesti menerimanya karena memang hasil perbuatan sendiri. Nia pun sepertinya merasakan hal yang sama. Malam itu kami tidak tidur sama sekali—sempat sih beberapa menit saat menjelang Subuh, tapi jelas tidak cukup.
Setelah salat Subuh, Nia minta pamit dan menghubungi Rio untuk menjemputnya—yang sebenarnya agak aneh juga, maksudku, mereka menyembunyikan status pernikahan mereka, bukan? Tentunya bikin curiga kalau Nia malah minta Rio menjemput, daripada minta Ummi atau Abbi-nya.
Tapi mungkin karena sama-sama pusing, aku dan Nia tidak memikirkan itu. Berbeda dengan Mama dan Papa.
"Mereka sedekat itu, ya?" gumam Papa setelah melepas Nia pulang, diantar Rio dengan mobil pick-up kakek Rio. "Kamu yakin di antara mereka gak ada romance atau semacamnya?"
"Gak tau," jawabku terkesan ketus sambil memijit-mijit pelipis kanan.
Nyut ... nyuut ....
Kepalaku lebih merindukan bantal daripada menjawab Papa dengan benar.
"Kalian gak tidur semalaman?" tanya Mama.
Aku menanggapi Mama hanya dengan anggukan dan segera melangkah kembali ke kamarku. Tidur adalah prioritasku saat ini, hanya saja saat hendak menaiki tangga, Mak Sari menghadangku.
“Neng Anna, ini minum dulu,” kata Mak Sari sambil menyodorkan secangkir cairan berwarna jingga. Tangan beliau yang lain memegang gelas berisi air bening.
“Kunyit, jahe dan madu. Minum terus tidur. Gak baik anak gadis begadang. Kecantikan Neng Anna bisa memudar.”
“Terima kasih, Mak. Nanti Anna minum di kamar—”
“Minum di sini, Neng, sekarang,” ujar Mak Sari datar. Sangat datar hingga mem-bypass rasa pusingku dan membuatku merinding takut.
Aku terdiam. Tidak membantah. Aku ambil cangkir itu, duduk di anak tangga dan meminum cepat ramuan Mak Sari itu. Pahit, pedas dan manis berbaur dan menyangkut di kerongkonganku. Lalu aku kembalikan cangkirnya kepada Mak Sari dan otomatis meraih gelas lain dari Mak Sari dan membilas rasa yang tersangkut di kerongkonganku.
“Nah, anak baik. Nanti waktu tidur kompres dengan ini.” Mak Sari sodorkan handuk kecil lembab yang sepertinya mengandung ramuan khusus buatan Mak Sari. Entah ramuan apa itu.
Aku terima handuk itu dan beranjak. Aku berniat mengikuti arahan Mak Sari, dan setelah aku ikuti, tiba-tiba hari telah melewati tengah hari.
Waduh! Delapan jam hidupku hilang!
Yap! Aku tertidur pulas dan tidak ada yang membangunkan aku. Hanya saja, aku bangun dalam keadaan segar dan sehat. Dan sadar—sadar kalau keadaanku sangat berbeda dari saat sebelum tidur. Karenanya, ketika menyadari itu, aku langsung beranjak dan menemui Mak Sari dan berterimakasih. Namun sangat kecil aku sadari kalau kehadiran Mak Sari dalam hidupku adalah sebuah berkah yang tak terhingga karena tidak seperti aku, keesokan harinya, Nia tidak masuk sekolah. Sandra juga, meski masih tetap sekolah, tidak luput dari sisa efek begadang di Sabtu malam.
Ketika aku berpapasan dengan Sandra di Senin pagi depan sekolah, dia sedang memijit-mijit keningnya dengan sebelah tangan.
“Kok bisa sih kamu baik-baik saja?!” keluh Sandra.
Saat itu kami baru saja melewati gerbang depan gedung sekolah dan aku mengimbangi langkah Sandra yang terkesan berat.
“SuperAnna tidak akan goyah hanya dengan semalam begadang!” seruku sambil mengepalkan sebelah tangan di depan dadaku.
“Begadang? Hmmm, jadi curiga,” ucap seseorang di belakangku.
Aku berpaling dan melihat Kak Tari.
“Kamu sakit, San?” tanya Kak Tari, dia berjalan menyela di antara aku dan Sandra. “Kalian begadang ngapain?”
“Bahas drama berikutnya buat tampilan akhir semester,” jawabku. “Nia dan Rio ingin ikut gabung tapi denga syarat mereka ikut tampil. Menurut Kak Tari bagaimana? Sebagai Presiden Klub?”
“Mulai bulan depan aku bukan Presiden lagi. Aku udah kelas dua belas, `kan? Udah gak boleh lagi ikut ekskul.”
“Oh, benar juga.” Aku mendadak tercenung dan menerawang sedikit masalah di masa depan. “Siapa yang akan jadi Presiden nantinya?”
“Aku sih rekom Sandra,” jawab Kak Tari sambil melirik Sandra.
“Apa?!” Sandra yang sedang dalam proses memijit-mijit kepalanya mendadak berhenti. “Bukannya Anna lebih cocok?”
“Oh, Anna posisinya sebagai primadona jangan diganggu,” tukas Kak Tari. “Biar fokus sama penampilannya.”
“Oh, gitu toh,” ujar Sandra melanjutkan memijit-mijit kepalanya, seperti kembali menekan tombol play setelah sebelumnya di-pause.
Aku terkekeh pelan melihatnya.
“Kita bahas nanti di chat aja. Dah, ya,” ujar Kak Tari sambil melangkah lebih cepat dan melambai.
Aku dan Sandra membalas lambaiannya. Sandra masih memijit-mijit kepalanya.
“Mau aku antar ke UKS?” tawarku.
“Tapi temani sampai upacara bendera selesai, ya?”
“Kita lihat nanti apa kata Kak Amanda,” jawabku. Kak Amanda adalah Penjaga Unit Kesehatan Sekolah, sekaligus Pembina ekskul Palang Merah Remaja, sosok perempuan muda mantan bidan yang trauma setelah membantu persalinan janin gugur. Orangnya sebenarnya baik. tapi posturnya yang kurus dan agak pucat seperti memberi kesan misterus dan menakutkan. Karena itu Sandra minta ditemani.
“Biar keliatan legit aku sakit, papah aku dong,” pinta Sandra.
Aku rangkul bahunya. Memapah jalannya.
“Kakiku lemas, Ann. Gendong, boleh?”
“Kalo tendang boleh,” ujarku sambil melepas rangkulanku dan bersiap mengayun lututku ke pantatnya. Tapi Sandra berhasil melarikan diri sambil terpingkal. Sepertinya sakit kepalanya tidak seberapa.
“Awas, ya!” aku mengejarnya. Urung menuju UKS.
Sepertinya Sandra berencana membiarkan aku mengejarnya sampai tangga menuju lantai dua tempat kelasku berada, tapi mendadak berhenti saat mendekati ruang guru. Aku juga berhenti. Kami melihat Rio keluar dari ruang guru.