Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #30

Sejumput Ulasan Pribadi

Jujur, hatiku benar-benar mencelos saat Kak Alya mempresentasikan outline cerita bajakan Cinderella itu. Batinku seperti bergejolak, namun bisa aku paksa reda setelah menekankan kalau apa yang diutarakan Kak Alya hanya untuk proyek drama klub teater yang kami coba modifikasi supaya Nia bisa ikut serta. Hanya saja ….

“Nah, ide bagus, tuh! Gimana kalau kita buat Ibu Peri-nya ternyata jatuh cinta sama pangerannya? Namun eksistensinya sebagai Ibu Peri yang mesti mengarahkan takdir sang pangeran pada pasangan sejatinya bertabrakan dengan perasaannya sendiri.”

Begitu premis yang diutarakan Kak Alya, terpicu oleh ide Rio. Dan aku menyebutnya hebat. Hebat karena begitu akurat menganalogikan kondisi aku, Rio dan Nia. Aku memang seperti Ibu Peri, yang berdiri di antara Pangeran dan pasangan sejatinya …. Benar-benar hebat …. Saking hebatnya, ketika aku sampai rumah, aku langsung ke kamar dan menekan wajahku ke bantal. Aku tidak menangis, aku juga tidak mencoba berteriak, hanya melampiaskan emosi yang berkecamuk. Kesal, sedih dan senang berbaur dalam dada. Senang karena aku mendapat teman baru, Kak Alya; sedih karena proyeksi dari presentasi Kak Alya menandai aku sebagai orang yang kalah; kesal karena Rio tidak peka dengan semua itu!

“Kita buat si pangeran terus mengejar Cindy seiring gaun Cindy berubah compang-camping karena sihirnya terurai. Lalu si pangeran berhasil menangkap Cindy di taman istana, Cindy meronta sambil mengatakan kalau dirinya tidak pantas bersanding dengan pangeran, namun sang pangeran tidak peduli karena cintanya hanya untuk Cindy seorang yang kemudian Cindy menyerah dalam pelukan sang pangeran. Menyaksikan semua itu, ibu peri pun tersenyum sambil berurai air mata. Menandai tugasnya telah selesai, dia pun terbang dan pergi ….”

Begitulah Kak Alya mengakhiri presentasinya, lalu disambut celoteh Rio.

“Pergi mudik terus jualan jamu gendong di kampung.”

“RIO BEGOOOO!” jeritku tertahan bantal.

Akibat jerit itu, napasku mendadak sesak. Ada semacam gumpalan yang menekan ke tenggorokanku yang memaksaku memutar badan dan bernapas terpenggal-penggal. Secepatnya aku tutup wajahku dengan kedua telapak tangan seolah dengan begitu bisa menahan air mata supaya tidak tumpah. Tapi akhirnya aku menangis juga ….

“Rio … bego …. Apa gak ada sedikit pun terbersit kalau … kalau yang di … dipresentasikan Kak Alya itu … cerita kita …,” bisikku lirih, tertahan telapak tanganku. Aku rasakan ada yang hangat mengalir dari sudut mataku hingga sampai ke telingaku.

Ponselku berbunyi. Aku buka wajahku dan meraih ponsel di tasku. Aku kembali sadar setelah tahu sejak diantar pulang oleh Kak Alya tadi, kotak pesan di ponselku telah bertumpuk.

Presiden : [Selamat, Sandra! Atas terpilihnya menjadi Presiden Klub Teater!]

Itu salah satu pesan dari puluhan pesan bernada sama. Memang sebelumnya—saat kami makan seblak di rumah Kak Alya—di grup chat klub teater tengah berlangsung pemilu, mengingat masa jabatan anggota kelas 12 akan segera berakhir. Hanya satu pesan yang bunyinya tidak sama.

Sandra : [SELAMAT APAAN! NAMBAH KERJAAN, TAU! (maaaf caps jebol)]

Aku tersenyum melihat pesan sobatku itu. Lalu aku ketik pesan pribadi kepadanya.

Arianna : [Selamat jd Babu Rakyat Teater!]

Sandra : [Babu yg punya kuasa! Biar aku bikin nanti kamu cium Rio di panggung!]

Arianna : [Siapa takut!]

Lalu Sandra kirim stiker penjahat anime yang tertawa terbahak-bahak.

Arianna : [San … aku lg sedih …]

Pesanku itu aku tambah stiker kucing yang matanya berkaca-kaca.

Sandra : [Hihi, sedih karna Rio gak peka, ya?]

Arianna : [Iya …. Kayak emang dia gak punya perasaan sama aku ….]

Arianna : [Tp emang sih. dari sudut pandang lain, emang humor yg lucu. Timing nya itu loh! Makin lucu waktu kita lempari Rio.]

Sandra : [Hehe, iya. Tp Ann, apa kamu bakal baik-baik aja? Apa yg diceritakan Kak Alya kayaknya terlalu sensitif deh buat kamu.]

Arianna : [Gak juga sih. Malah penjiwaannya jd mudah.Bagaimanapun, mesti berlatih banyak-banyak.]

Arianna : [Tp itu juga kalau ceritanya disetujui sama yang lain. Belum tentu semua setuju.]

Sandra : [Tenaaaang. Aku presidennya. Aku bakal bikin semua setuju!]

Arianna : [Dih, penyalahgunaan kekuasaan tuh!]

Sandra : [Ah, sudah tradisi bangsa ini kok!]

Aku tertawa dan aku ekspresikan dengan stiker yang sama dengan stiker Sandra sebelumnya, penjahat yang terbahak.

Lalu aku mendapat pesan lain dari grup baru bernama “Rumah Kak Alya”, karena ada Kak Alya di grup itu, selain anggota grup “Private Club”. Pesan itu sendiri dari Kak Alya.

Kak Alya : [Aku usahakan bentuknya seperti naskah drama, ya? Tapi maaf kalau persepsi novelnya ikut masuk. Belum pernah bikin naskah drama, selain waktu sekolah.]

Arianna : [Gak apa-apa, Kak. Pastinya akan mengalami revisi di internal klub kami. Tenang saja.]

Sandra : [Asal cerita intinya tersampaikan.]

Nia : [Dialogku jgn banyak2!]

Lihat selengkapnya