“Apa Nia ikut membantu Kak Alya menuliskan naskahnya?” tanyaku.
“Cuma minta pendapat Nia, dan … dan pendapatnya selalu berkaitan dengan dialog Ibu Peri atau monolog Ibu Peri yang berhubungan dengan Pangeran. Kamu akan tahu kalau ka-kamu telah membacanya menyeluruh.”
Kak Alya habiskan nasi gorengnya dan mendorongnya dengan air jeruk.
“I-itulah kenapa aku ingin me-menyerahkannya dulu kepadamu. Be-belum berani mengirim filenya … ke grup.”
Aku termenung. Agak sedikit linglung, aku raih print-out naskah itu. Menatap sampul depan yang bertuliskan kalimat “Love and Demise of Fairy Godmother” itu membuatku membayangkan Nia. Nia yang pernah melacak pemilik anak anjing tersesat yang ternyata tetanggaku, yang pernah menyelamatkan Rio dari rundungan kakak kelas di klub basketnya hanya dengan satu teriakan saja, yang … pernah mengatur sandiwara penculikanku …. Aku bisa mengerti maksud Kak Alya ketika mengatakan kalau Nia ada kalanya terlalu cerdas untuk kebaikan dirinya sendiri.
“Maaf, ya? Jadi ba-bahas masalah pribadi. Bukannya naskah itu,” lanjut Kak Alya.
“Tidak apa-apa, Kak. Justru Anna berterima kasih. Kini Anna bisa melihat lebih utuh … soal Nia,” ucapku sambil membuka-buka lagi lembaran itu. Lewat peripheral sudut pandangku, aku bisa melihat Kak Alya tersenyum lembut.
“Bagaimanapun, Anna yang mengajak Nia ikut klub teater. Lebih dari itu, Nia teman Anna yang berharga. Dari yang Anna lihat, Nia seperti … memberi Anna kesempatan untuk merebut Rio, tapi … semakin Anna terlibat, justru Anna merasa semakin tidak layak mendapatkan Rio,” ungkapku, sambil terus membuka-buka lembaran naskah itu, tapi bukan isinya yang menjadi pusat perhatianku, dan sepertinya Kak Alya sadar akan perbuatanku sehingga dia hentikan tanganku dengan meraih dan menggenggam sebelah tanganku.
“Ann, ummm bisa perhatikan aku sebentar …., mungkin kita berada di atas pijakan yang sama, tapi kamu bukan aku. Dan Rio juga Nia bukan Mas Higa dan Teh Mariam …. Kita punya jalan masing-masing, tapi dengan membantu kamu menuliskan naskah drama itu, aku mendapat se-semacam insight yang … yang hanya aku sendiri yang bisa menerjemahkannya … untuk diriku sendiri. Kamu juga, Rio dan Nia juga, yang memainkan drama itu akan mendapatkan insight masing-masing … yang bisa kalian jadikan referensi untuk mengambil langkah di masa depan. Cuma satu hal yang sangat-sangat-sangat aku tidak inginkan … kalian kelak merasa menyesal kalian pernah berteman. That’s a big NO!” Kak Alya akhiri perkataannya dengan menyilangkan kedua lengannnya sambil menggeleng-geleng kepala.
Aku tersenyum. “Siap, Kak. Itu pasti! Terima kasih.”
Kak Alya juga tersenyum.
“Sebaiknya aku bayar dulu, ya, makanan kita,” kata Kak Alya seraya beranjak.
Aku mengangguk dan berniat membaca lagi draf naskah drama itu, tapi … aku melihat Kak Alya telah berdiri di sisi meja—hanya berdiri, tidak lanjut melangkah. Aku meliriknya.
Kak Alya tampak sedikit gelisah. Matanya menatap ke kasir dan kedua tangannya memutar-mutar ponselnya seperti mainan spinner yang pernah populer waktu aku kecil. Ketika Kak Alya melihat aku meliriknya, Kak Alya langsung berkata, “Umm, Ann, umm, bisa antar bayarnya?”
“Siap, Kak,” responku setelah mendengkus dan menahan tawa.
“Iih, kamu ketawain aku? Jahat!” rajuk Kak Alya, atau lebih tepatnya merintih karena suaranya sangat pelan. “Kamu mesti maklum, aku jarang keluar rumah!”
“Gak apa-apa, Kak, tenang aja. Tapi Anna malah jadi penasaran bagaimana Kakak bisa sampai ke kafe ini?” tanyaku setelah beranjak dan mulai melangkah mendampingi Kak Alya.
“Umm, diantar Mas Higa,” jawab Kak Alya sambil melempar pandangan ke jendela, ke pelataran parkir di depan kafe, ke sebuah MiniChroome biru tua. Aku tidak melihat siapa-siapa di mobil itu, tapi melihat punggung kursi di kabin pengemudi tidak tampak, sepertinya Mas Higa yang disebut Kak Alya sedang rebahan di dalam mobil itu.
Ayahnya Nia ada di sana ….
Lepas dari kasir, aku pun mohon pamit untuk pulang dan berterima kasih atas makanannya, juga draf naskah drama yang Kak Alya bantu tulis. Kak Alya sempat menawarkan diri untuk mengantarku pulang, tapi aku menolaknya karena rumahku memang sudah dekat. Setelah kami berpisah, aku percepat langkah pulang.
Mengiringi langkahku pulang, benakku otomatis mengulas obrolanku dengan Kak Alya. Aku cukup sadar Kak Alya menemuiku bukan sekadar untuk membahas naskah drama itu, tapi aku juga tidak menyangka kalau Kak Alya hendak mengungkap kehidupan pribadinya. Meski memang, apa yang Kak Alya ungkap hanya sebatas uraian singkat yang bisa menjadi salah satu unsur latar belakang dari motif Nia berjuang membangun kepercayaan dirinya. Aku juga sempat menyangka Rio-lah yang menjadi pemicu niat Nia meng-upgrade diri. Namun, sepertinya Nia punya niat lain yang lebih ... destruktif ....
"Aku butuh nasihat," bisikku lirih. Tapi sama siapa? Sandra? Ah, sepertinya jangan. Gak enak sama Kak Alya.
Langkahku sampai di pagar rumah. Azan Maghrib berkumandang. Lalu, sebersit ide melesak ke dalam benakku, memberitahuku siapa yang bisa aku mintai nasihat.
Setengah berlari aku masuki pintu pagar, lewati pintu depan rumah dan lewati pintu kamar. Di antara pintu-pintu itu, aku sempat kena tegur Mak Sari supaya jangan terburu-buru, sempat juga mendapatkan pertanyaan Mama, "Ada apa, Ann?" yang aku jawab, "Perlu secepatnya telepon teman!"
"Salat Magrib dulu!" tandas Mak Sari, memberi jeda lebih panjang antara pintu rumah dan pintu kamar, memberi jeda pada niatku untuk segera menelepon Rio.
Ya, Rio. Aku hendak meminta nasihat Rio. Sah-sah saja, `kan?
Setelah kesempatan itu datang, aku duduk menghadap meja belajar, mengatur napas untuk siapkan mentalku, lalu aku tekan nomor kontak Rio dan aktifkan fitur video call.
Terdengar nada panggil. Cukup lama. Membuatku segera terpikir kalau Rio sedang sibuk di warungnya. Dan ketika telepon diangkat, bukan Rio yang mengangkatnya.
Sepintas aku melihat wajah Bah Yudin di tampilan layar, tapi sepertinya beliau tidak menyadari kalau aku menghubungi melalui telepon video karena beliau segera mendekatkan ponsel Rio ke telinganya.
“Halo?”
“Halo, Bah, ini Anna.”
“Oh, Neng—Eh, dari mana Neng tau Abah yang angkat?”
“Ini telepon video, Bah. Coba liat layarnya.”
Tampilan layar bergerak dan segera memperlihatkan kembali wajah bercodet yang tak lagi muda.
“Walah! Kirain! Hahahaha! Kalo mau bicara sama Ri—”
“Sssssst, jangan panggil dulu Rio, Bah!” potongku sambil mendesis dan berbisik.
“Eh? Eh, ada apa?” BahYudin ikut-ikutan bisik-bisik, ikut-ikutan mendekatkan wajah ke layar. Tampak lubang hidungnya membesar.
“Bisa intip Rio lagi ngapain, Bah?”
“Oh, oke, oke.”
Bah Yudin menyingkir dari layar dan tampilan berubah seiring langkah Bah Yudin ke bagian depan rumah Rio, ke bagian warung. Tak lama kemudian aku melihat tampak samping Rio yang sedang memberikan kembalian kepada seorang pembeli. Setelah pembeli itu pergi, Rio masih berdiri di balik etalase yang ternyata di atas etalase di hadapannya terdapat buku-buku yang tengah terbuka, tersembuyi dari pelanggan oleh toples-toples penganan ringan. Awalnya aku pikir Rio sedang membaca, tapi ketika melihat dia meraih sebatang pensil dan menulis pada buku catatan sambil merujuk pada buku lainnya, aku segera bisa menyangka kalau Rio sedang belajar.
Rio tampak tenang, tampak fokus, memperlihatkan sisi kalem yang menularkan perasaan tenang kepadaku. Aku teringat kalau Rio pernah mendapat atribut pendiam, penyendiri dan suram di sekolah. Tapi sekarang … aku tidak bisa melihatnya seperti itu lagi. Tanpa sepenuhnya aku sadari, aku menghela napas panjang. Aku tahu tidak sepantasnya aku mengintip seperti itu tapi jarang aku mendapat kesempatan untuk melihat sisi lain Rio—sisi di luar sekolah seperti sekarang.
Kalau diperhatikan … Rio ganteng juga, ya?
Mendadak aku rasakan debar yang tidak biasa. Celoteh pikiran spontanku itu membawa benakku menerpa kenangan yang memperlihatkan citra wajah Rio yang terengah-engah. Wajah yang berkeringat dan napas yang terpenggal-penggal menerpa wajahku. Aku teringat ketika pertama kali melihat Rio semasa SMP. Wajahku terasa sedikit memanas, tapi aku segera bisa menguasai diri karena menyadari kalau tampilan layar tampak tetap. Fix. Tidak goyang. Tidak seperti sedang dipegang oleh Bah Yudin.