Setelah makan malam, aku baca lagi draf pertama naskah drama yang Kak Alya tulis. Kali ini lebih menyeluruh. Memang masih kasar, tapi setidaknya garis besar ceritanya telah terbentuk. Tidak jauh berbeda dengan outline yang pernah Kak Alya utarakan waktu kami menjenguk Nia. Hanya saja, sebagai yang pernah tampil di panggung sekolah, ada banyak adegan yang Kak Alya tulis yang mustahil dieksekusi.
Bagaimana menampilkan pinggiran sungai di atas panggung? Ah, jangankan itu, kereta kudanya juga gimana? Apa kudanya dua orang pake kostum? Ah, cemen,`kan?Atau pake palang rintang yang dikasih roda? Ah, sama cemennya!
Setelah sekali putaran membacanya, aku kirim pesan kepada Kak Alya, meminta izin untuk mencorat -coret print-out naskahnya, memberi catatan yang menurutku perlu direvisi. Aku juga memberi catatan ide Rio soal adegan pertarungan berikut letak adegan itu dalam alur cerita—setidaknya menurut ide yang tiba-tiba muncul dalam benakku.
Aku masih belum mendapat jawaban dari Kak Alya, tapi aku sudah mencorat-coret naskahnya. I’m such a bad girl! Tapi untuk adilnya, jika aku tunda, ide yang ada setelah membacanya bisa hilang terlupakan—sebagai penulis Kak Alya pasti mengerti itu. Setelah memberi catatan di sana-sini sebagai input dariku, aku foto tiap lembar yang mengalami perbaikan (dan itu hampir semuanya) lalu aku kukirim ke Kak Alya.
Saat aku mengirim pesan itu ke Kak Alya, aku mendapat pesan dari Sandra.
Sandra : [Masih bangun, Ann?]
Sebagai jawaban aku buka telepon video yang segera dibuka Sandra.
“S’up?” sapaku saat melihat wajahnya yang berbalur ramuan perawatan wajah dan sepertinya masih dalam proses perawatan karena aku melihat sebelah tangannya memegang semacam kuas berbalur warna ramuan yang sama.
“S’up juga. Kamu lagi belajar?”
“Enggak, lagi revisi naskah yang dikirim Kak Alya,” jawabku. Dan seolah mendapat isyarat gaib dariku, Kak Alya membalas pesanku.
Kak Alya : [Siap, Ann. Aku coba revisi.]
“Eh, San, aku coba ajak Kak Alya gabung, ya?” usulku spontan.
“Oh, oke.”
Lalu aku hubungi Kak Alya untuk gabung dalam telepon video bersama.
Ternyata agak lama juga bagi Kak Alya untuk mengangkatnya tapi aku bisa mengerti kalau Kak Alya sempat salah tingkah untuk mengangkat teleponku. Dan ketika terhubung, yang aku dan Sandra lihat bukan hanya Kak Alya seorang tapi juga Nia. Sepertinya Nia yang mengangkat videocall-ku dan keduanya seketika terperanjat kaget setelah melihat kami—atau lebih tepatnya melihat Sandra.
“Si-si-siapa itu, Ann?” tanya Kak Alya tergagap. Sepertinya Kak Alya dan Nia tidak mengenali Sandra yang tertutup masker facial-nya.
“Ini Sandra, Kak! Sandra!” pekik Sandra terdengar sedih sekaligus putus asa. Tak rela dia tidak dikenali.
Aku dan Nia tertawa, sementara Kak Alya meminta maaf berulang-ulang.
“Habisnya, a-aku gak tau ka-kalau anak SMA sekarang suka facial,” ujar Kak Alya membela diri.
Sandra cemberut.
“Kak, bagaimana masukan dariku? Udah baca?” tanyaku, mengalihkan arah pembicaraan.
“Sudah. Ide yang menarik, tapi aku belum bisa mendeskripsikan adegan pertarungan dalam naskah drama,” jawab Kak Alya.
“Tidak usah detil, Kak. Setidaknya transisi yang mengawali pertarungan dan transisi akhir pertarungan yang mengantar ke adegan selanjutnya. Kalau transisinya tidak pengaruhi adegan selanjutnya, cukup pake tulisan, ‘Pertarungan terjadi antara pangeran dan bandit’, misalnya.”
“Oke deh, kalo gitu. Aku coba”
“Oh, iya, Rio juga sempat mention itu waktu latihan tadi siang. Ya, `kan, Nia?” ucap Sandra dan melempar ayunan percakapan ke Nia.
Nia mengangguk dan menambahkan, “Terus si kepala permen ngomong, ‘Duuuh, pengen deh liat adegan pertarungan Kak Rio!’ Centil! Ganjen!”
“Kepala permen?” tanyaku, heran sekaligus terperangah. Baru kali ini aku melihat Nia sekesal itu—juga artikulasinya terdengar jelas dan lancar (Apa Nia sebaiknya selalu kesal 24/7?). Meski memasang wajah kesal, Nia tampak imut dan lucu sewaktu meniru perkataan cewek yang dia maksud. Tidak cuma terperangah, aku juga merasa geli dibuatnya.
Sandra tertawa. “Itu, anak kelas sepuluh. Si Jenny. Kamu tau, `kan, Ann? Cewek yang suka makan permen loli. Aku liatnya jelas banget dia dekati Rio. Gak dia aja sih. Cewek kelas sepuluh yang lain kayak keliatan banget tertarik sama Rio.”
“Oh, terus Nia cemburu?” imbuhku sambil mengulum senyum yang hampir mendekati dengkus tawa. Mataku menatap dan mengantisipasi rekasi Nia. Nia sepertinya merasakan tatapanku karena dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.