Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #34

Pushing The Limit ... Fungsi Aljabar ... Hueek!

Pagi. Langit berpulas sedikit mendung. Meski layanan prakiraan cuaca di ponselku tidak menjanjikan hujan, aku dorong langkahku supaya lebih cepat sedikit. Dan bagai sayap-sayap sang takdir mengiringi langkahku selaras dengan hasrat dan harapanku, aku berpapasan dengan Rio di gerbang pagar sekolah.

“Tumben kamu lebih pagi. Assalamualaikum,” sapaku, tanpa memiliki kuasa untuk menyembunyikan senyumku.

“Waalaikumsalam. Tumben apaan? Aku pernah jemput kamu, `kan? Berarti aku pernah lebih pagi dari ini,” jawab Rio.

Hehe, iya, sih. Gak bantu kakek kamu buka warung hari ini?”

“Hari ini tutup. Kakek ada urusan sama papa kamu.”

“A-A-A-A-APA?!”

Langkahku yang tadinya hendak beralih ke gerbang mendadak terhenti. Mataku melebar sampai bisa saja mataku copot kalau saja tidak segera kututup dengan sebelah tangan. Aku rasakan suhu mukaku meninggi.

“A-nya satu aja, Ann! Lagian kenapa kamu kaget segala? Urusan mereka soal pekerjaan papa kamu. Katanya ada masalah di lokasi konstruksinya sama preman setempat. Minta Kakek menengahi.”

“Ooooh ….”

Aku mengerti, tapi …. Tapi kenapa aku merasa sedikit kecewa, ya?

“Tapi Papa kenal sama kakek kamu pastinya lewat kamu, `kan?”

Rio lanjutkan langkahnya memasuki gerbang sekolah. “Enggak juga. Kemarin papa kamu datang langsung ke warung. Pastinya tahu alamatku dari mama kamu, kalau gak nanya sama kamu.”

Oh, I see ….

Oh, really? What did you see, Miss Arianna?” goda Rio, meski aku tahu konteks dia mengatakannya adalah membalas candaku padanya di video-call semalam, tapi aku tidak bisa mencegah khayalku yang menangkap ucapan Rio seperti rayuan seorang … kekasih.

Uh, shut up!” desisku sambil membuang muka, takut merah wajahku terpapar di hadapan Rio.

Dih marah.”

“Aku hanya menangkap gelagat Papa kalau dia suka kamu. Waktu Nia nginap, Papa pernah utarakan niat buat ngajak kamu memancing, tapi Nia jawab kalau kamu gak suka mancing.”

Oh, I see ….

 “See what?!” pekikku sambil berhenti berjalan dan menghadap Rio, lalu aku simpan sebelah telapak tangan di pinggangku dan melempar telunjuk tangan yang lain ke wajah Rio. “Cukup! Saat ini aku deklarasikan Mandat Khusus Ratu Arianna! Ungkapan ‘I see’ terlarang untuk Rio dan berlaku hari ini! Jika melanggar akan mendapatkan vonis cubit paksa!”

Dih, Firaun complex, tuh!” komentar Rio diiringi tawa. Dia sempat menghentikan langkahnya untuk meladeni aktingku, tapi segera kembali berjalan tanpa menunggu aku menurunkan telunjukku. Dengan terpaksa aku hentikan kekonyolanku dan cepat-cepat mengikuti langkah Rio.

“Jadi, Ann,” Rio bersuara dan kini terdengar serius dari sebelumnya. “Kalau papa kamu ngajak aku, apa perlu aku tolak?”

Sontak aku terperangah, tapi tidak sampai menghentikan langkahku lagi. Aku hanya melirik Rio dan melihat dia melirikku. Sepertinya dia mengharapkan jawabanku.

“Eh? Papa beneran ngajak kamu mancing?” tanyaku.

“Bukan mancing, tapi main basket sama teman-teman sekantornya, Sabtu ini,” jawab Rio.

“IKUT!” pekikku tiba-tiba sambil menarik kain lengan hoodie Rio . “Aku ikut!”

“Hah?!” Kini Rio yang terperangah, jelas sangat tidak menyangka akan reaksiku.

“Eh, tapi aku gak pernah tahu  loh kalau Papa bisa main basket,” gumamku sambil menunduk dan mencubit bibir bawahku. “Aneh juga tiba-tiba gitu.”

“Itu gak penting! Kamu gak jawab pertanyaanku!” dengkus Rio. “Lagian kalau mau ikut mestinya minta sama bapak kamu!”

“Aku ikut kalau kamu ikut.”

Rio menepuk keningnya. “Cacat logika macam apa itu?” keluhnya pada dirinya sendiri.

“Cacat logika yang pernah kamu adaptasi saat aku ajak kamu gabung teater. ‘Aku ikut kalau Nia ikut,’ gitu kamu bilang.”

Lihat selengkapnya