Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #35

BIMBANG! Bukan Bambang, Neng!

Apa aku tidak terlalu mendorong batasanku?

Maksudku, aku tahu Nia mengizinkan aku untuk merebut Rio asalkan Rio terbuka terhadap perasaannya sendiri dan menyatakan perasaannya itu kepadaku. Tapi bukankah itu artinya aku juga terkekang untuk mengutarakan perasaanku kepada Rio? Maksudku, jika aku utarakan perasaanku sekarang, itu artinya aku membatasi pilihan Rio terhadap perasaannya sendiri. Pilihannya hanya antara menerimaku atau menolakku—tidak ada ruang bagi Rio untuk mengeksplorasi perasaannya. Lagipula, mengingat Rio telah memperistri Nia (meski masih rahasia dan belum tercatat hukum negara) dan secara sadar menjadi suami Nia, kemungkinan Rio menolakku sangatlah besar. Aku tidak mau itu!

Aku menarik napas panjang dan menengadahkan kepalaku hingga lampu kamar di langit-langit memaksaku mengatupkan kelopak mata. Tidak silau, hanya after-effect setelah memejamkan mata dan warna-warna berkelindan di dalam kelopak mata seperti memberi ilusi kalau aku sedang memasuki alam mimpi. Mungkin aku akan memasukinya karena rasa kantuk mulai terasa, tapi aku belum bisa tidur. Aku masih berkutat dengan satu soal Limit Fungsi Aljabar yang Nia beri tadi sore, tapi alih-alih aku mengerjakannya sejak duduk di meja belajar selama satu jam, aku malah memikirkan Rio.

“Sepertinya butuh asupan kafein,” gumamku seraya berdiri dan meninggalkan kamar.

Di dapur aku temukan Papa sedang menghangatkan masakan Mak Sari untuk makan malamnya yang terlambat. Mama dan Mak Sari mungkin sudah tidur karena Papa sendirian di dapur. Memang tadi saat makan malam, Papa belum pulang. Saat melihatku turun tangga, Papa tersenyum.

“Banyak PR? Tumben belum tidur?” tanya Papa.

“Belajar buat UAS nanti. Dua minggu lagi—eh, sebelas hari lagi kalau sudah lewat jam dua belas nanti,” jawabku dan hanya mendapat senyuman yang melebar sebagai jawaban. Lalu perhatianku tertarik oleh tas punggung Papa di dekat kaki kursi meja makan. Aku melihat di samping tas Papa ada kantung kain hitam yang membulat menyesuaikan bentuk isinya. Aku mengerenyit heran.

“Papa beli bola basket?”

Papa berpaling kepadaku. “Darimana kamu tahu itu bola basket? Bisa saja bola sepak, `kan?” Papa mencoba berargumen.

“Anna sering lihat ekskulnya Rio, jadi cukup hapal bentuk dan ukurannya,” jawabku sambil melangkah mendekati rak untuk mengambil mug kesayanganku, hanya saja pandanganku belum lepas dari bentuk bola tas kain itu. Ketika sudut pandangku berubah seiring langkahku, aku melihat tas punggung Papa tidak bersandar pada kaki kursi, melainkan pada kantung kain lain berbentuk kotak persegi panjang. Bila persepsiku telah terbentuk oleh bola basket itu maka kotak itu pun bisa aku tebak isinya.

“Jangan bilang Papa juga beli sepatu basket!”

Hehe, ketauan, ya? Sebenarnya Sabtu ini Papa mau ajak Rio main basket sama temen-temen Papa. Boleh, `kan?”

“Ke-kenapa tanya Anna? Tanya sama Rio lah!”

Hehe, sudah sih, tapi siapa tahu kamu keberatan. Kamu suka sama Rio,`kan?”

Mendadak napasku seperti tersekat. Debar jantungku naik dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menatap Papa, sementara Papa mengucapkan itu tanpa melirik putrinya ini. Perhatian Papa hanya tertuju pada piring yang Papa ambil dari rak di atas wastafel dan mengisinya dengan makan malam Papa. Mendapati aku tidak menjawabnya, Papa melanjutkan.

“Papa suka sama Rio, kamu tahu itu? Dia anak laki-laki yang bisa diandalkan. Papa akan merasa tenang kalau kamu jadian sama Rio.”

Segera aku berpaling saat mendapat gelagat Papa akan berpaling menatapku. Kali ini aku sadar kalau aku tidak bisa diam saja, meski tanpa menatap Papa aku segera paksakan sebuah jawaban.

“Katakan itu juga sama Rio, Pa. Dah, ah, Anna mau belajar lagi.”

Aku putar langkah kembali ke kamar, bersama debar dan napas yang tertahan. Lupa kalau niatku ke dapur untuk membuat secangkir kopi.

Sampai di kamar, aku langsung duduk, kembali menghadap meja belajar. Lalu aku dengar ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk.

Papa :[Papa dah bikin kopi nih. Gulanya 2, kan? Jangan tidur terlalu larut, ya!]

Pesan dari Papa yang mengiringi gambar foto mug kesayanganku di atas meja makan yang telah berisi kopi hitam. Asapnya tampak mengepul di foto itu.

Arianna : [makasih, pa.]

Aku balas pesan Papa dan kembali berdiri untuk mengambil kopi itu. Aku bawa ponselku karena setelah melihat pesan Papa, aku juga melihat pesan lain yang telah masuk. Dari Nia. Tapi aku tidak segera membukanya, karena dari widget layar depan ponselku aku bisa mengintip pesan itu.

Nia : [Ann, masih bangun?]

Di dapur, Papa sudah tidak ada. Sepertinya Papa makan di ruang kerjanya. Tas dan belanjaan perlengkapan basketnya juga telah tidak ada. Aku ambil mug berisi kopi buatan Papa di meja makan dan dengan hati-hati aku bawa ke kamarku. Setelah kembali duduk menghadap meja belajar, baru aku buka pesan Nia.

 Arianna : [Iya, msh melek, sayang!]

Bak pesan balasanku itu menjadi aba-aba, ponselku bergetar kuat dan memberitahuku kalau Nia sedang membuka saluran telepon video. Ketika aku angkat, aku lihat Nia yang tidak memakai kerudung dan dia tidak sendiri. Awalnya aku merasa pangling melihat tampak samping sosok perempuan dewasa berkacamata di samping Nia yang memiliki rambut panjang, bergelombang dan tebal. Itu Kak Alya dan sepertinya sedang menghadap layar komputer—komputernya sendiri tidak terlihat olehku, hanya pantulan cahaya layar di kacamatanya.

“Kak Alya! Rambutnya indah banget!” seruku kagum.

Kak Alya terperanjat dan kemudian merunduk seolah sembunyi dariku.

“Kalau saja kamu gak komentar, kamu masih bisa memperhatikan rambutnya,” komentar Nia sambil melirik ke samping bawahnya, mengulum senyum menanggapi tingkah ibu tirinya. (istilahnya tepat `kan kalau Kak Alya ibu tirinya Nia?)

Lihat selengkapnya