“Pakai pretext apa kamu ajak Rio Sabtu nanti ke temen-temen kamu?” tanya Mama setelah Papa utarakan niatnya mengajak Rio berakhir pekan bersama teman-teman kantor Papa.
Kami baru selesai sarapan pagi dan mendengar Mama menyebut kata “pretext”, aku jadi ingat percakapan semalam dengan Sandra. Dengan kata lain, Mama bertanya ke Papa dengan dalih seperti apa Papa memperkenalkan Rio pada teman-temannya.
“Sekantor udah tahu soal Bah Yudin, jadi aku kenalkan Rio sebagai cucunya. Tentu saja mention kalau dia teman Anna dan juga jago basket,” jawab Papa.
“Jadi pengen liat Rio bantai gerombolan cowok paruh baya,” ucapku dengan nada datar mirip Nia, meski niatku sebenarnya bercanda.
Mama dan Papa tertawa mendengar komentarku. Tawa yang cukup lepas.
“Kamu mau ikut sama Papa nanti?” tanya Mama.
“Enggak deh. Pastinya Anna bakal ganggu acaranya cowok. Apalagi kalo perempuannya cuma Anna seorang, jadi kayak perawan di sarang penyamun gitu.”
Papa dan Mama kembali tertawa. Namun kini tawa Papa dipotong pendek sambil beranjak dan berkata, “Dah, ah! Papa pergi dulu.”
Papa berdiri sambil menyelempangkan tas ranselnya ke bahunya. Lalu Papa melangkah mengitari belakang kursi Mama sambil mengecup kepala Mama, lalu menghampiriku sambil mengusap cepat kepalaku.
“Assalamualaikum,” ucap Papa.
“Waalaikumsalam,” jawabku dan Mama sebelum Papa menghilang ke pintu samping rumah untuk mencapai sepeda motor Papa di garasi.
“Kamu yakin gak akan ikut Papa Sabtu nanti?” tanya Mama, memastikan.
“Yakin. Masih banyak yang mesti Anna kerjakan. Matematika Anna masih blank.”
“Yah, siapa tahu kamu bisa arahkan pembicaraan Papa sama Rio. Kamu ngerti, `kan?”
“Ah, soal itu Anna percayakan sama Papa deh. Anna siap-siap sekolah dulu, Ma!”
Aku bangkit sambil membawa piring bekas makanku ke wastafel dan mencucinya sendiri. Setelah itu aku beranjak menuju tangga dan mencapai kamarku.
Aku tidak tahu mekanisme emosinya seperti apa, tapi mendapati kedua orang tuaku sendiri colek-colek urusan … percintaanku, membuatku risih dan malu—porsi malunya mungkin lebih banyak. Sebenarnya aku tidak keberatan—justru senang mereka bisa terlibat. Siapa yang tidak senang ketika hasrat hati didukung oleh orang-orang terdekatku? Dan siapa lagi yang lebih dekat selain mama-papaku sendiri? Tapi mungkin aku akan sangat menghargai kalau bentuk dukungan mereka merupakan cara mereka sendiri, sementara aku berjuang dengan caraku sendiri. Dan sepertinya, inilah alasan bagiku untuk tidak ikut Papa Sabtu nanti. Papa berjuang demi aku dengan cara Papa sendiri, jadi sebaiknya aku tidak mengganggu jalan Papa. Hanya saja, perasaan gamang merayapi batinku, mencengkram seluruh perhatianku akan akibat di akhir Sabtu nanti. Papa pastinya singgung soal hubunganku sama Rio …, lalu bagaimana nanti hasilnya? Apa ada yang bisa aku prediksi?
“Kamu kayak lagi banyak pikiran?” tanya Sandra saat melihatku melamun di kelas setelah bel istirahat berbunyi. “Masih mikirin hari Sabtu?”
Aku tidak menjawabnya, tapi dari senyumku sepertinya Sandra menganggap aku mengiyakannya.
Sandra menarik kursinya mendekat ke mejaku.
“Kamu cukup beruntung loh, punya orang tua yang dukung kisah percintaan kamu,” komentar Sandra, yang membuatku seketika terbelalak dan sebelah tangan menyergap mulut Sandra.
Dasar mulut ember!
Sayangnya aku terlambat! Teman-teman cewek sekelas punya telinga sepeka penciuman nautilus dan seketat radar ultrasonic kalong! Aku bisa bayangkan telinga mereka meruncing saat mendengar kata “percintaan”.
“Percintaan?!”
“Anna?!”
“Siapa cowoknya?”