The cat is out of the bag.
Ekspresi itu sepertinya sesuai, ya? Si kucing telah keluar dari karungnya. Rasa suka yang aku pendam kini telah diketahui teman-teman sekelasku (ada kemungkinan termasuk yang cowok meski tidak se-eksplisit yang cewek). Tidak lagi misteri bagi mereka, tidak lagi acak-acak kucing di dalam karung. Mungkin ekspresi itu ada hubungannya dengan peribahasa “Membeli kucing dalam karung”, ya? Mungkin memiliki sumber yang sama jika ditelusuri sejarah bahasa kedua ungkapan itu. Tapi bagaimanapun, ungkapan itu tidak mewakili perasaan malu saat melihat tatapan mata teman-teman sekelas kepadaku tidak lagi sama.
“Jujur, Ann, gak nyangka kamu yang cool dan penuh karisma ternyata punya sisi yang imuuuut banget!”
“Ho`oh! Emang sih pernah liat suka becanda juga, tapi kayak masih keliatan elegan dan terjaga gitu. Tapi sekarang ….”
“Ngerti banget! Liat salah tingkah Anna kayak nemu telur gatcha level triple S!”
Komentar mereka yang seperti itu membuatku malah semakin salah tingkah. Aku ingin menghentikan salah tingkah ini dan aku pikir aku akan bisa kembali menguasai diri setelah bel istirahat berakhir.
“Hah?! Itu bel masuk? Aku belum pipis!”
“Sama! Aku juga mau ke toilet!”
“Buka barikade! Cepat!”
“Awas ada yang mau ngompol! Minggir!”
Mendadak sebagian teman-temanku bubar dan berhamburan keluar kelas, sementara yang lain kembali ke bangku masing-masing. Lalu teman-teman sekelas yang cowok mulai memasuki kelas dan aku tidak bisa mengabaikan perasaan kalau mereka memperhatikan aku. Hanya saja, ketika aku balas menatap mereka, mereka secepatnya berpaling seolah sungkan. Hanya seorang cowok yang berani mendatangiku. Aku tidak ingat namanya, tapi di kontak ponselku dia kusebut NPC1.
“Sepertinya peluangku sudah tertutup, ya?” tanyanya. “Kalau gini mustahil dia gak tau.”
“Mungkin,” jawabku, dan cukup mengejutkanku karena kini aku telah bisa menguasai diri dari sikap salah tingkah tadi. Aku balas menatap NPC1 dan melanjutkan, “Tapi tidak akan pernah terdefinisi sampai aku yang menyatakannya langsung kepadanya, atau dia menyatakan langsung kepadaku.”
“Wow! Kamu banyak berubah, Ann! In a good way.”
“Terima kasih. Pastinya karena pengaruh dia juga.”
“Well, good luck.”
Dia pun berlalu, kembali ke bangkunya.
Sandra yang memperhatikan dari tadi ikut beranjak. Sebelum dia menarik kursinya kembali ke bangkunya, dia tepuk pundakku dan berkata, “Welldone!”
Aku tidak tahu maksud Sandra dengan, “Welldone!” Mungkin karena aku berhasil menguasai diri tidak lagi bersikap salah tingkah, atau aku berhasil jujur pada perasaanku dan membuka diri kepada teman-teman yang lain. Atau keduanya? Tapi sepertinya itu paradoks—maksudku, jika aku jujur dan bersikap terbuka maka aku tidak perlu juga salah tingkah. Dan jika memang aku berhasil mengatasi salah tingkahku, maka ucapan Sandra itu jadi tidak tepat karena salah tingkah-ku masih bersemayam, tidak sirna. Bahkan salah tingkahku kembali mencuat ketika istirahat makan siang Rio mendatangi kelasku.
Waktu itu aku baru saja menyimpan buku catatanku ke dalam tas saat sudut mataku menangkap seorang teman sekelas setengah berlari menghampiri. Dia tampak riang dan semangat. Ketika telah dekat denganku dia berbisik sambil menunjuk ke pintu kelas, “Ann, dicariin Rio, tuh!”
Aku bisa rasakan mataku melebar saat melihat di luar pintu kelas Rio melambai kepadaku.
“Eh-oh, thanks,” kataku tergagap sambil berdiri dan keluar dari bangku. Aku bisa rasakan gerak kakiku terasa kaku. Langkahku seperti terhambat, apalagi ketika mendengar bisik-bisik teman-teman di belakangku yang pastinya mengharapkan tampilan drama romantis.
“Ri-Rio! Ada apa?” tanyaku setelah langkahku hampir mendekati pintu.
“Soal latihan teater—”
Mendadak perkataan Rio terpotong oleh seorang teman sekelasku yang merangkul leherku dari belakang. Namanya Kira, dia lebih tinggi dariku dan juga anak klub basket. Sepertinya Rio juga mengenalinya.
“Hey, Rio, Anna cantik, `kan, ya?” kata Kira riang, masih sambil merangkulku akrab (sok akrab lebih tepatnya).
Kulihat Rio mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Dia jelas merasa heran dengan pertanyaan Kira.
“Hah? Situ baru sadar? Kemana aja selama ini, Non?” respon Rio.
“Dih, salah tingkah dikit kek! Kayak kebanyakan cowok kalo ditodong pertanyaan kayak gitu!” protes Kira sambil melepas rangkulannya dari leherku, cemberut menatap Rio.
“Tapi Rio cowok limited edition,” celetukku dan ini tidak sepenuhnya aku sadari—semacam respon cepat untuk mengiringi jawaban Rio terhadap pertanyaan Kira. Jawaban Rio membawa konteks percakapan pada ranah bercanda, maka otomatis aku pun merespon dengan canda. Hanya saja aku tidak menyangka kalau candaku membuat Rio tampak tercengang dan … wajahnya memerah.
“Nice Assist, Anna!” seru Kira sambil mengangkat telapak tangan kepadaku, mengajak tos tinggi seolah aku baru saja membantu Kira mencetak skor.
Spontan aku terima tosnya dan ketika bunyi telapak tanganku beradu dengan telapak tangan Kira, aku rasakan ada yang merekah dalam dadaku. Mendadak dadaku terasa ringan. Ada sebentuk perasaan lega yang menggelayut seperti setetes embun di ujung rumput yang enggan jatuh.
Rio … tersipu malu? Waktu aku bilang dia cowok limited edition?A-apa ada perasaanku yang tersampaikan dari ucapanku itu?
“Salah tingkah tuh!” seru Kira sambil menunjuk muka Rio dan kemudian berjalan melewati Rio sambil tertawa. Kira berlalu meninggalkan aku dan Rio di pintu kelas. Mungkin hendak ke kantin.
“Apaan sih dia?!” dengkus Rio kesal sambil melempar tatapan mengikuti punggung Kira.