Sesi latihan klub hari ini mendadak berubah menjadi sesi tanya jawab soal keberadaan Kak Tari. Pada dasarnya teman-teman satu klub tidak tahu keberadaannya, namun sepertinya mereka sepakat kalau pacarnya Kak Tari terlibat.
“Bagaimana, Nia?” tanyaku kepada Nia setelah mendengar kesakisan empat adik kelas yang pernah melihat Kak Tari dijemput seorang cowok pakai sepedamotor sekelas superbike.
“Datanya masih terlalu sedikit. Perlu lebih dari penampakan Kak Tari dijemput cowok,” jawab Nia. Menunduk dan berpikir.
Aku dan Nia duduk bersimpuh di atas panggung aula, melingkar bersama empat adik kelas yang semuanya perempuan. Awalnya kami hendak berlatih mengatur volume suara, tapi hilangnya Kak Tari merebut perhatian kami dari latihan.
“Maaf, Kak, kalian berdua akrab, ya?” tanya salah seorang adik kelas, heran sekaligus penasaran dan tiba-tiba.
“Iya, padahal `kan saingan.”
Aku sedikit terperangah dan membuatku otomatis melirik Nia. Aku baru sadar kalau adik kelas juga tahu soal aku, Rio dan Nia. Nia juga sama terperangahnya sepertiku namun reaksinya berbeda dariku.
“Sa-sa-sa-saingan?!” Nia tampak panik. Sepertinya Nia tidak pernah menyangka ada yang tahu soal cinta segitiga kami, lebih-lebih adik kelas. Bahkan mungkin Nia juga tidak menyangka kalau ada yang menyebut dirinya rivalku.
Aku tepuk pundak Nia. “Tenanglah, Nia. Tarik napas.”
Nia melirikku dan kemudian menarik napas. Dari sorot matanya aku lihat Nia kembali tenang.
“Tapi kalian suka sama cowok yang sama, `kan?” bisik adik kelas yang lain, sebelah tangannya terangkat menutupi tampak samping mulutnya seolah membatasi suaranya hanya terdengar untuk aku dan Nia.
“Tapi itu tidak mesti menjadikan kami tidak akrab, `kan?” jawabku sambil tersenyum. Senyum yang menurutku karismatik khas kakak kelas.
“Lagipula, perasaan kami tidak relevan,” ujar Nia, Meski wajahnya menunduk, tatapan matanya seperti menerawang dan ada sedikit senyum di bibirnya. Sepertinya dia terkesan oleh ucapanku.
“Itu benar,” sambutku. “Yang relevan cuma pilihan dia yang jadi objek perasaan kami. Kami akan tetap berteman siapapun yang dia pilih.”
“Ooooh, Kak Anna dewasa sekali!”
“Berwibawa juga.”
“Bagai sosok seorang putri!”
“Hmm, hmm!” Seorang adik kelas mengangguk-angguk cepat dengan mata berbinar-binar.
“Temanku hebat, `kan?” ujar Nia sambil menepuk-nepuk pundakku dan membusungkan dada bangga. Aku sempat dibuatnya tersipu malu, tapi untunglah segera berakhir oleh panggilan Sandra.
“Ann! Nia! Bisa kemari sebentar,” panggil Sandra dari bawah panggung.
Aku dan Nia beranjak lalu berjalan menuruni panggung. Kami temui Sandra yang ditemani seorang anak cowok yang juga adik kelas.
“Dia pernah lihat Kak Tari dibonceng cowok. Tidak ingat cowoknya tapi dia ingat jelas motornya,” kata Sandra sambil mengacungkan jempolnya melewati bahu, menunjuk adik kelas yang ada di belakangnya. Anak cowok itu tampak gugup saat melihatku.
“A-aku ingat di-dia pakai motor Duhwati Panicwind V dua, warna merah!” katanya gugup.
“Ummm, itu superbike?” tanya Nia.
“Bukan cuma superbike biasa!” tukas si adik kelas antuisas. “seribu cc, berdaya dua ratus horse power—dua ratus dua puluh kalo pake racing kit. Dan punya dia pake sidewing aerodynamic yang kece abis!”
“Motor yang terlalu mencolok, ya?” gumamku. “Pastinya jarang yang pakai, artinya bakal mudah ditemukan. Bagaimana menurutmu, Nia?”
“Gak definite bisa menemukan Kak Tari, tapi layak dicoba,” jawab Nia. Aku lihat dia meraih ponselnya dan membuka saluran telepon.
“Kamu mau hubungi siapa?” tanyaku.
Pertanyaanku dijawab Nia secara tidak langsung; aku dengar di seberang saluran, telepon Nia diangkat seseorang dan Nia menanggapi dengan, “Waalaikumsalam. Umm, Bah Yudin, kira-kira tahu bagaimana cara menemukan pemilik motor Duhwati tipe …,” Nia melirik si adik kelas yang kemudian memberi tahu Nia. “Tipe Panickwind V dua. Kayaknya gak banyak yang punya di kota ini.”
Nia terdiam sejenak, sepertinya mendengar jawaban dari kakeknya Rio. Sebagai mantan preman, kakeknya Rio masih memiliki jaringan yang cukup luas di dunia bawah. Ada kemungkinan motor superbike seperti milik cowoknya Kak Tari sempat menjadi sasaran pelaku curanmor. Jika itu benar, maka Bah Yudin bisa mendeteksi keberadaannya. Meski aku tidak bisa memastikan apa benar niat Nia seperti itu, tapi dengan Nia menghubungi kakeknya Rio saja itu cukup membuatku kagum.
“Itu aja, Bah. Nuhun. Assalamualaikum.” Nia menutup saluran telepon.
“Apa kita perlu cerita sama Rio juga?” usul Sandra.
“Jangan!” larang Nia cepat. “Rio gak perlu tahu soal Kak Tari!”
“Eh?” Aku mendadak heran. “Kenapa?”
Nia tiba-tiba gugup. “Ummm, entah ke-kenapa, aku punya firasat sebaiknya Rio gak usah dilibatkan sama pencarian Kak Tari.”
Aku dan Sandra saling menatap. Heran dengan tanggapan Nia, tapi kami tidak mempertanyakannya lagi. Nia akan kesulitan menjelaskan dasar firasatnya, dan jikapun Nia bersedia menjelaskannya, kami akan kesulitan mengerti.
Karena hilangnya Kak Tari, latihan klub teater hari ini dipotong pendek. Relatif pendek karena ketika aku, Nia dan Sandra meninggalkan aula sekolah, Rio dan klub basketnya masih latihan—sesi akhir latihan yang biasanya berupa latih tanding. Kami bertiga menunggu di undakan beton yang biasa digunakan penonton bila ada pertandingan atau menjadi pijakan buat kelompok paduan suara saat upacara bendera. Kami bertiga tidak hanya sekadar menunggu, karena setelah meninggalkan aula dan aku mengintip isi ponselku, aku temukan pesan dari Kak Alya.
Kak Alya : [Ini draf selanjutnya. Kalau ada perlu perubahan kasih tahu, ya.]
Pesan itu mengiringi sebuah file dokumen naskah drama hasil revisi Kak Alya.
Arianna : [Siap, kak! Kami diskusikan dulu.]
Berbekal naskah itu, kami bertiga membaca dan mendiskusikannya sambil menuggu Rio. Mungkin akan terdengar… puitis? Atau mungkin lebih tepatnya akan tampak seperti lukisan, ya? Ketika hari mendekati senja dan poles rona sepia mulai menghiasi suasana. Sekolah masih tampak hidup meski tak seramai satu jam sebelumnya, lalu tampak tiga siswi yang duduk di undakan beton dengan latar belakang sekelompok siswa berlatih tanding permainan basket. Riuh rendah yang tidak kentara dari klub basket mengiringi diskusi tiga siswi yang memperhatikan ponsel masing-masing dan salah satunya membuka buku catatan untuk menuliskan input revisi selanjutnya. Sayangnya, perhatianku tidak sepenuhnya menangkap sentimen puitis suasana sore ini ….
“Wah, kalo gini, porsi Anna bakal kebanyakan dong,” ujar Sandra, mengomentari naskah drama yang Kak Alya tulis. “Kamu gak keberatan, Ann?”