Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #39

Adventure For Two, Eh, For Three, Oh, For Four—Agh! For Epribadi Dah!

“Ah, bikin kaget saja!” gerutu Rio setelah mendengar penjelasan Nia.

“Coba ngerti perasaan cewek, Rio,” ujar Nia.

“Aku ngerti! Cuma aku pikir dia terluka,” tukas Rio.

Saat itu aku baru saja kembali dari membuang tisu basah bekas membersihkan noda darah Kira dan mencuci tanganku. Aku lihat Rio duduk di samping Nia, masih di undakan beton samping lapangan basket. Aku berjalan melewati Nia, Rio, lalu duduk di samping Rio. Wajarnya sih aku duduk di samping Nia, tapi karena tasku berada agak jauh di sebelah Rio, aku jadi punya alasan untuk bisa duduk di samping Rio.

“Dah, jangan dibahas lagi!” aku menyela sambil mengambil ponsel. “Rio, mana ponsel kamu? Aku mau kirim naskah Kak Alya.”

“Eh, sori. Paket dataku abis,” jawab Rio diikuti kekeh sungkan.

Aku berdecak, “Tsk! Sini aku kirim!”

Aku buka aplikasi Dompet_Net dan membeli sejumlah paket data internet ke nomor kontak Rio.

“Gak usah! Kirim lewat Buleteeth aja! Naskahnya!” cegah Rio.

“Sori, terlambat. Sekarang kamu utang es krim sama aku,” tanggapku datar, antara acuh dan tidak, meski dalam hati aku senang bukan kepalang. Senang melihat Rio mendadak salah tingkah.

“Aku juga sudah kirim. Umm, paket datanya,” ujar Nia. Aku lihat Nia juga sedang memegang ponselnya. “Kamu juga utang es krim sama aku.”

Aku memicing menatap Nia. Apaan kamu, Nia?! Ngajak perang!

Yang aku tatap malah membuang muka, sepertinya terkekeh mendapati reaksiku. Bahunya tampak berguncang pelan.

Nia kampret!

“Apa-apan kalian berdua?” ujar Rio heran. “Ada kompetisi di antara kalian sampai segitunya sama aku?”

Dih, dramatis!” dengkus Nia ketus.

Lah? `Kan aku ikut klub teater?” tukas Rio sambil berpaling ke arah Nia.

“Cepat lihat ponsel kamu! Udah sampai paket datanya?” tandasku tegas, mencoba mencegah Rio memalingkan wajah ke Nia dan itu cukup untuk balas dendamku karena Nia tampak memicingkan matanya ke arahku seolah tahu maksudku yang sebenarnya.

“Oh, oke!” Rio ambil ponselnya dan memeriksa kondisi internetnya. Dia kemudian tampak memicing menatap layar ponselnya. “Emang kalian mau makan berapa es krim? Apa paket datanya gak kebanyakan? Perlu kalian tahu, saat ini aku lagi bokek.”

“Gak usah dipikirkan soal itu,” tanggapku sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangan. “Bisa lain waktu.”

Hmm, hmm,” Nia mengangguk-angguk setuju.

Kemudian aku kirim file naskah drama Kak Alya ke Rio, dan tak lama kemudian Sandra kembali. Sandra tidak lagi bersama Kira, katanya Kira sudah pulang. Aku sempat menanyakan soal seragamnya karena ada kemunginan terkena noda, tapi Sandra memberitahuku kalau Kira pulang memakai seragam latihan basketnya jadi aku tidak perlu khawatir.

Maka setelah Sandra kembali dan Rio telah mendapatkan file naskahnya, kami lanjutkan diskusi kami—mungkin bisa juga disebut brainstorming ringan sebelum kami memutuskan pulang empat puluh menit kemudian. Kami akan lanjutkan brainstorming  lewat telepon video nanti malam.

Untuk sementara, hilangnya Kak Tari lolos dari perhatian kami karena membahas naskah tersebut. Namun, khusus aku, karena lolos dari perhatianku, aku jadi tidak ingat kalau aku melakukan sesuatu yang cukup krusial terhadap pencarian Kak Tari—maksudku, aku tidak ingat kapan tepatnya aku memasang story di medsos menggunakan foto Kak Tari bertajuk “Where art thou, Sista?” (awalnya aku hendak memakai tajuk Missing Person, tapi terdengar kurang ajar dan kurang peduli). Tapi yang pasti, aku memasang story medsos itu di antara jeda diskusi di sekolah sampai diskusi lewat video call malamnya (tapi mustahil aku lakukan saat perjalanan pulang karena aku tidak berani mengeluarkan ponsel di jalan kala sendirian).

Tentu aku memasang story itu dengan maksud memancing respon kalau-kalau ada yang melihat Kak Tari, hanya saja aku tidak terlalu berharap, karena itu tindakan itu lolos dari ingatanku. Karena itu juga, aku tidak menyangka sama sekali kalau keesokan paginya, saat aku cek ponselku, yang merespon story-ku itu adalah kakaku sendiri, Kak Ryan.

Kak Ryan : [Itu teman kamu, ann?]

Mendapati pesan itu, aku jadi teringat Kira yang pernah melihat Kak Tari di tempat kos kakaknya Kira. Jangan bilang Kak Ryan juga lihat Kak Tari di tempat kosnya juga!

Arianna : [Kakak kelas. Katanya, sejak kemarin lusa belum pulang. Kak Ryan pernah liat dia?]

Sungguh aku berharap Kak Ryan segera membalas, tapi aku dapatkan balasannya setelah sarapan, saat hendak siap-siap berangkat sekolah.

Kak Ryan : [D tempat kosku. D kamar sebelah. Sama cowoknya, kayaknya. Kawin lari atw apa?]

Arianna : [Share loc, kak! Aku ke situ nanti! Mungkin sabtu ini!]

Kak Ryan : [Gak boleh! Jgn dekati lingkaran sosialku! Aku gak mau ada temanku yg jd iparku!]

Arianna : [NAJIS! Aku udah punya cowok!]

Kak Ryan : [SIAPA?]

Arianna : [None of your business!]

Arianna : [Share loc sekarang! Ini masalah hidup dan mati!]

Kak Ryan : [Dasar drama queen!]

Pesan Kak Ryan itu diikuti peta lokasi tempat kos Kak Ryan.

Lihat selengkapnya