Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #41

Glorified Romance

Glorified romance …,” gumam Nia.

Aku mendengar gumamannya itu cukup jelas. Dia menggumamkannya dan aku mendengarnya saat kami terdampar di warung nasi Teh Ina yang dijaga Kak Julia. Ya, terdampar.

Setelah aku memeluk Kak Tari dan membiarkannya menangis, Mama memperkenalkan diri dan menyarankan untuk masuk dan bicara di dalam. Lalu tak lama kemudian Bu Maya datang dan tanpa aku sangka sama sekali, Mama segera memperkenalkan diri kepada Bu Maya sebagai mamaku lalu sekonyong-konyong mengambil alih peranku dan Nia—tidak untuk mengklaim penemuan Kak Tari, tapi sebagai penengah yang bisa membela Kak Tari supaya tidak mendapat perlakuan yang tidak adil. Dua orang dewasa itu kemudian meminta aku dan Nia mengungsi ke Warung Nasi Teh Ina.

Aku merasa kebas, tak berdaya sebagai orang yang tersingkir. Aku yakin Nia juga merasakan hal yang sama. Sepertinya apa yang akan Mama dan Bu Maya bahas bersama Kak Tari memiliki muatan rating 21+, yang belum layak kami simak. Seperti dua orang bego, aku dan Nia menyeruput teh manis yang baru dan masih hangat sambil menyantap tempe goreng dengan tatapan mata menerawang. Lalu aku dengar Nia menggumamkan kata itu.

Glorified romance ….”

“Eh, apa, Nia?”

Nia sedikit terperanjat, sepertinya tidak menyangka kalau aku menyimaknya.

“Oh, bukan apa-apa. Cuma menebak-nebak gimana rekasi Rio kalau tahu soal Kak Tari. Rio sepertinya akan mengatakan itu. Menganggap apa yang dialami Kak Tari sebagai konsekuensi terlalu …umm, terlalu glorifying romance. Untuk hal seperti itu Rio kurang peka—atau lebih tepatnya, tanpa ampun.”

“Jadi itu juga alasan kamu gak mau libatkan Rio? Aku bisa paham sih.”

“Salah satunya,” tanggap Nia sambil mengangkat bahu, lalu menunduk sambil menatap sepotong tempe yang dijepit jempol dan telunjuknya, sebelum kemudian melahapnya habis.

Kamu sendiri tanpa ampun sama Kak Tari tadi, Nia! In a good way sih, pikirku sambil mengingat kejadian setelah aku memeluk Kak Tari dan Mama menggiring kami masuk ke dalam kamar kosan itu.

Kamar kosan itu agak sedikit berantakan. Tipikal kamar cowok memang, dan aku bisa melihat jejak niat Kak Tari yang mencoba merapikannya. Mungkin karena Kak Tari merasa luang dan bosan sehingga berniat merapikannya. Kamar itu tidak terlalu luas, mungkin setara dengan kamarku. Berkarpet dan perabotan yang ada hanya tempat tidur, lemari dan meja belajar. Aku juga melihat koridor di sudut ruangan yang memperlihatkan dapur dan pintu kamar mandi.

Setelah masuk, Mama langsung memperkenalkan diri sebagai ibuku kepada Kak Tari. Kak Tari hanya mengangguk untuk menanggapi perkenalan Mama, dan Mama pula yang kemudian menyarankan kami untuk duduk terlebih dahulu sebelum berbicara. Kami duduk di karpet dan aku berada di samping Kak Tari sambil menggamit tangannya. Mama dan Nia duduk berdampingan di depan aku dan Kak Tari.

“Jadi, apakah yang diutarakan Nia tadi, benar alasan Tari gak mau pulang?” tanya Mama lembut.

Kak Tari terdiam dan kepalanya menunduk dalam … sangat dalam sampai punggungnya membungkuk. Napasnya tersendat menahan tangis. Agak cukup lama Kak Tari terdiam.

Ummm, kapan Kak Tari terakhir menstruasi?” tanya Nia datar, dan terkesan tidak berperasaan.

Aku dan Mama cukup terperanjat mendengar pertanyaan Nia dan tidak sempat menanggapi— atau aku sendiri tidak bisa menanggapinya, tapi Mama sepertinya hendak menyuruh Nia untuk diam. Hanya saja, Kak Tari menjawab pertanyaan Nia.

“Sudah … dua bulan aku gak menstruasi …. Gimana ini, Ann? Aku … melakukan kesalahan besar ….” Gamitan tangan Kak Tari terasa mengencang.

Hmmm, kalau begitu masih aman,” ujar Nia. “Eh, ma-maksudnya, kalau diprioritaskan Kak Tari lulus SMA dulu. Kalau kita bisa bicarakan dengan pihak sekolah juga keluarga Kak Tari untuk merahasiakan kondisi Kak Tari sampai Kak Tari lulus, supaya nantinya bisa lebih leluasa menentukan solusi soal kehamilan Kak Tari. Tapi pihak sekolahpun mungkin harus dibatasi yang tahu. Selain kita, Bu Maya dan mungkin Kepala Sekolah.”

Aku terpana melihat Nia. Awalnya aku berpikir, bagaimana bisa kamu sedingin itu, Nia?! Tapi perlahan aku sadar kalau langkah kongkrit untuk menawarkan solusi jauh lebih baik daripada terbelenggu emosi.

“Jadi tujuannya supaya Tari lulus sebelum melahirkan?” Mama menyimpulkan maksud Nia.

“Benar. Bagaimanapun ummm … kondisi Kak Tari adalah aib. Bukan sesuatu yang seharusnya banyak orang tahu. Kasihan bayinya nantinya.”

Aku lihat Mama tersenyum lembut, setuju dengan proposisi yang ditawarkan Nia. Lalu Mama termenung sebentar.

“Jadi, poin kuncinya adalah berkonsolidasi dengan walikelas dan kepala sekolah, juga keluarga,” kata Mama.

Nia belum sempat menanggapi Mama karena terkaget-kaget oleh bunyi ponselku. Dari Bu Maya. Aku segera mengangkatnya.

“Ann! Kamu di mana? Ibu sudah di lokasi!” Segera aku dengar suara Bu Maya.

Aku hendak menjawabnya, tapi kemudian aku dengar suara lain di latara belakang yang tertuju pada Bu Maya.

“Maaf, Anda mencari Non Anna dan Nia?” Sepertinya suara Bah Yudin.

“Be-be-be-benar,” jawab Bu Maya, bergetar ketakutan. (Yah, aku tidak menyalahkannya mengingat tampang Bah Yudin.)

Lihat selengkapnya