Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #40

Proses Eliminasi?

“Mari ikut sarapan, Non Anna, Mamah Anna,” tawar Bah Yudin, tampak sungkan—terlalu sungkan seolah tertangkap basah melakukan hal yang tak pantas.

“Silakan, Pak. Jangan sungkan. Kami sudah sarapan,” jawab Mama yang kemudian berpaling ke area di balik display kaca warung nasi, ke perempuan muda yang menjaga warung nasi. Teteh itu sedari awal memperhatikan ayunan percakapan dari pertemuan tak terduga antara kami dengan Bah Yudin. “Tapi mungkin kami bisa menikmati segelas teh manis. Kamu mau juga, Nia?”

Nia mengangguk. Sementara aku yang tidak ditawari Mama langsung meminta, “Anna juga mau. Sekalian tempe gorengnya, ya, Ma? Buat camilan.”

Tanpa menanggapiku, Mama langsung memesan apa yang aku minta pada teteh yang menjaga warung. Perempuan penjaga warung nasi itu masih muda, mungkin sedikit lebih tua dariku. Dia tampak sungkan menghadapi kami dan aku pikir dia-lah pemilik warung nasi yang namanya tertera di jendela warung. Ternyata aku keliru.

“Maaf, umm, Teh Ina—”

Nia hendak bertanya sementara aku dan Mama duduk di bangku panjang yang berlainan dengan bangku yang di duduki Bah Yudin, tapi Teteh itu segera memotong Nia.

“Eh, eh, Teh Ina itu ibu saya. Nama saya Julia.”

“Oh, ka-ka-kalau begitu, ummm, Kak Julia, ummm, a-apa pernah melihat anak perempuan ini?” tanya Nia, memaksakan diri, meski terbelenggu salah tingkah. Nia sodorkan layar ponselnya ke perempuan penjaga warung nasi itu, melewati bagian atas etalase display hidangan.

Kak Julia mendekat dan memperhatikan layar. “Oh, pernah! Tadi malam dia beli dua bungkus nasi sama rendang telor—plus kerupuk. Dia tinggal di seberang jalan.”

“Tinggal di kamar yang sebelah mana, Kak?” tanya Nia, berubah antusias. Gugupnya mendadak hilang.

“Kurang tau, tuh. Penasaran juga, soalnya yang tinggal di sana cowok semua. Dia pasti pacar salah satunya. Semalam, waktu dia beli, ada niat mau perhatikan dia masuk ke kamar yang mana tapi di sini lagi hectic, jadi gak sempat liat. Maklum di daerah sini banyak mahasiswa yang kos; suka cari makan malam ke sini,” jelas Kak Julia, sikapnya tampak mendadak akrab, seperti terbiasa menghadapi pelanggan seusia kami. Tadi dia sempat sungkan mungkin karena harus menghadapi Bah Yudin dan Mama.

“Apa pacarnya punya motor warna merah?” tanya Nia.

“Oh, kurang tau juga,” jawab Kak Julia.

“Eh, Nia, jadi itu bukan cari motor teman kamu yang hilang?” tanya Bah Yudin kepada Nia. Sarapannya tampak telah hilang tiga-perempatnya.

“Oh, bukan, Bah. Kami cari kakak kelas kami yang hilang.” Aku yang menjawab pertanyaan Bah Yudin yang dilanjutkan menjelaskan duduk perkara mengapa Nia meminta Bah Yudin mencari superbike tersebut.

“Oh, gitu toh …. Kenapa gak bilang dari awal,” ujar Bah Yudin kepada Nia sambil kemudian Bahh Yudin mengambil ponselnya dan menulis pesan. “Abah pikir ada teman kamu yang kehilangan motor. Duhwati itu motor mahal, loh. Takutnya ada teman Abah yang terlalu semangat carinya.” (Saat itu aku tidak terlalu menyadari maksud Bah Yudin dengan “terlalu semangat”, tapi saat menuliskan ini aku jadi sadar kalau maksudnya—dengan premis curanmor, takutnya ada yang babak belur sama anak buahnya Bah Yudin karena kedapatan memakai motor Duhwati.)

Pada saat yang bersamaan dengan Bah Yudin mengeluarkan ponselnya, Kak Julia telah membuatkan kami tiga gelas teh manis. Aku yang mengambilnya dari atas display hidangan dan menyajikannya untuk Mama dan Nia, juga untuk diriku sendiri. Sempat aku melihat mata Kak Julia berbinar saat melirik ponsel yang Bah Yudin gunakan. Aku bisa paham mengapa matanya berbinar, karena ponsel itu adalah Ephone model terbaru. Model yang sama dengan pemberian Pak Riyadi setelah aku, Rio dan Nia mengembalikan anak anjingnya. Sama seperti ponsel yang aku berikan ke Kak Ryan.

Sepertinya Rio memang memberikan ponsel itu buat kakeknya, ya? pikirku dan seketika terbersit ide untuk bertanya ke Kak Julia soal ada tidaknya pemilik Ephone di kosan itu, namun disalip Mama dengan pertanyaan lain.

“Apa penghuni di sana mahasiswa semua?” tanya Mama.

“Ada satu yang bukan mahasiswa. Bapak-bapak, kalau gak salah,” jawab Kak Julia.

“Montir, duda lima puluh tahunan,” imbuh Bah Yudin tanpa berpaling dari layar ponselnya. Jemarinya pun masih menyentuh-nyentuh layar, mengetik pesan. Sepertinya beliau perlu waktu untuk menulis pesan ke anak buahnya. “Itu, temen Abah dapat infonya dari montir itu, kalau tetangganya ada yang punya motor Duhwati.”

“Oh, iya, montir!” seru Kak Julia mendadak teringat. “Soalnya pernah lihat pakai seragam bengkel gitu waktu makan di sini.”

“Yang montir tinggal di kamar yang mana, Kak?” tanya Nia, yang membuatku heran karena pertanyaan itu sepertinya tidak relevan.

“Di kamar yang pink kalau gak salah—eh, atau di kamar yang biru, ya?” Kak Julia tampak ragu. “Soalnya pernah dengar pesan makanan sama Ibu terus minta diantar ke kamar yang paling ujung. Nah, gak tau tuh ujung yang mana.”

Hmmm, kalau kita langsung tanya ke pemilik kosan itu, gimana, Ann? Sebagai ibu salah satu penghuninya cukup wajar, `kan?” tanya Mama kepadaku yang kemudian berpaling ke Nia, yang sepertinya Mama juga mengharapakan respon Nia soal ide Mama itu. “Sekalian juga tanya-tanya soal teman kalian.”

Aku ikut berpaling ke Nia dan Nia tampak menimbang-nimbang tawaran Mama. Bagiku sendiri tawaran Mama cukup jitu, tapi Nia bisa saja punya pertimbangan lain yang ternyata lebih krusial, seperti misalnya, kehadiran kami di tempat kos itu diketahui Kak Tari saat kami menyeberang jalan sehingga Kak Tari memutuskan sembunyi di dalam kamarnya atau yang lebih parah, kabur lagi.

Sepertinya memang penting kalau Kak Tari tidak tahu kalau kami tahu lokasinya, ya?

Hanya saja, ide Mama itu mendadak hilang oleh Kak Julia.

Lihat selengkapnya