Senja masih menyisakan hawa panas tadi siang dan langit masih terang—terlalu terang untuk ukuran senja. Mungkin karena seharian langit sedang cerah-cerahnya tanpa awan secuil pun, tapi aku tidak bisa melihatnya. Aku sedang berada di teras rumah dan langit terhalang tanaman sirih yang merambat membentuk tirai pembatas antara teras dan halaman, juga menghalangi pemandangan jalan depan rumah. Aku sedang duduk di kursi teras sambil membaca print-out naskah drama, sambil memegang pensil yang siap menuliskan ide-ide revisi. Sayangnya aku belum sempat menuliskan apa-apa, bahkan membacanya pun tersendat-sendat. Benakku seperti tersebar ke segala arah.
“Lewat tanpilan drama nanti. Kamu perankan peran kamu sebaik yang kamu bisa! Kamu buat Rio terpesona sehingga dia tidak akan melepas kamu. Aku juga akan perankan peranku sebaik yang aku bisa sampai aku bisa dapatkan perhatian Rio dan tatapanya tidak bisa lepas dariku! Lalu, setelah tampilan drama nanti, aku akan mengakui perasaanku padanya!”
Proposisi itu menjadi alasan aku berada di teras dan membaca naskahnya, tapi kemudian benakku malah mereka ulang bagaimana aku mesti menghentikan rajukan Sandra, dengan menjanjikan jalan bareng di hari Minggu bersama Nia, dengan pretext, "belajar bersama". Lalu setelah berhasil menghentikan rajukan Sandra dan menutup videocall-nya, Mama terlihat menyeberangi jalan hendak mendatangi kami di warung nasi Teh Ina.
Datangnya Mama membuatku melirik ke seberang jalan. Aku melihat Kak Tari bersama orangtuanya, juga Bu Maya, Bah Yudin dan pacarnya Kak Tari berada di halaman kamar kos warna kuning. Aku juga melihat pacarnya Kak Tari mendorong dan menuntun superbike-nya ke dalam kamar kosnya sementara Kak Tari dan orang tuanya memasuki mobil. Mobil tidak segera beranjak. Setelah melihat pacarnya Kak Tari menyimpan motor di dalam kamarnya lalu mengunci pintu, pacarnya Kak Tari dan Bah Yudin ikut memasuki mobil Kak Tari.
“Apa yang terjadi, Ma?” tanyaku setelah Mama duduk di sampingku.
“Mereka akan mendatangi keluarganya Hendra, pacarnya Tari. Bah Yudin akan ikut sebagai penengah.”
“Itu lebih baik. Bah Yudin terbiasa menjadi mediator,” ujar Nia.
“Kemarin juga aku dengar dari Rio, Bah Yudin diajak Papa menengahi urusan preman di lokasi konstruksi,” tambahku.
“Ya, Papa sempat cerita. Syukurlah ada Bah Yudin. Kalian tahu? Ibunya Tari sempat menyangka Mama gurunya Tari loh.”
“Iyakah?” responku yang segera diikuti kekeh tawa.
“Tapi Tante memang cocok. Ummm, jadi guru Bimbingan dan Konseling, sepertinya,” ujar Nia yang membuat Mama ikut terkekeh.
“Kita pulang sekarang, yuk? Pengalaman ini agak menguras mental Mama.”
Aku mengangguk dan setelah Mama membayarkan teh manis dan tempe goreng kami, kami bertiga kembali ke mobil Mama. Aku dan Nia duduk di belakang sementara Mama mengemudi.
“Tapi sungguh ini pengalaman yang berharga. Terima kasih, ya, sudah menyertakan Mama,” ujar Mama setelah kami jauh dari tempat kos itu.
“Justru kami yang berterima kasih,” ujar Nia. “Gak kebayang kalau gak ada Tante atau Bah Yudin.”
Mama terkekeh sebentar sebelum kemudian menghela napas cukup panjang.
“Memang sih agak mengintimidasi juga,” ujar Mama.
“Mengintimidasi gimana, Ma?” tanyaku.
“Yah, Mama jadi membayangkan kamu datang ke Mama terus bilang, ‘Ma, Anna hamil ….’ Rasanya kayak—”
Aku terperanjat. “Amit-amit! Gak, enggak, enggak! Kenapa Mama bisa membayangkan itu?”
“Tuh, mengintimidasi, `kan?”
“Ta-ta-tapi …,” sejenak aku terdiam dan menarik napas panjang serta mengembuskannya perlahan. “Tapi, Ma, dengan karakter Anna seperti ini, apa kemungkinan itu ada?”
“Kecil …, sangat kecil tapi … tidak mustahil,” Nia yang menjawabnya dan ketika aku lirik dia, Nia tengah menunduk dan matanya menerawang seperti sedang memikirkan skenario yang memungkinkan aku bisa ha—mil?
“Tidak mustahil gimana?” ujarku terdengar setengah protes, setengahnya lagi penasaran.
Nia berpaling menatapku dan tampak ragu. “Ummm, Kak Rangga?”
Seketika aku tertegun. Aku bisa rasakan tekanan darahku turun cepat dan kepalaku mendadak pening. Mendengar nama itu seketika membangun kenangan buruk. Dengan menyebutkan nama itu, Nia mengajukan sebuah skenario di mana aku berhasil diculik Kak Rangga dan di—
“GAK! Gak mau dengar! Jangan teruskaaaaan!” jeritku sambil menutup kedua telingaku dan menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat seolah dengan begitu narasi yang Nia bangun bisa hilang dari benakku. Aku tidak ingin ada bayangan imajinasi di mana aku diperko—AAAAHH! SHUT UP!
“Umm, sebaiknya kita berhenti membahasnya, ya?” usul Mama yang jelas aku dukung tegas!
Hanya saja, ide itu telah teregristasi dalam benakku. Bukan soal kemungkinan yang melibatkan Kak Rangga (bajingan!), melainkan soal kehamilan. Setelah usul Mama untuk tidak lagi membahasnya, kami terdiam hingga Mama berhasil mengantar Nia ke rumahnya. Sejak Nia terdiam, aku memperhatikannya. Dia termenung dan jelas memikirkan sesuatu. Dan aku hanya bisa menebak-nebak apa isi pikirannya. Tapi aku yakin apa yang dipikirkan Nia tidak jauh dari apa yang aku pikirkan. Dan itu menumbuhkan prasangka dalam benakku.
Setelah mengantar Nia dan berpamitan dengan Ummi-nya Nia, aku telah beralih ke kursi depan. Setelah meninggalkan rumah Nia, aku dan Mama masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sendiri masih meracuni diri dengan prasangka. Prasangka yang sepertinya … mulai meradang.
Apa … kamu terpikir untuk menyabotase deal kita, Nia?
Apa kamu terpikir … berkonspirasi membuat dirimu bisa … hamil oleh Rio? Yang sekaligus menutup peluangku mendapatkan Rio? Bahkan mungkin kamu tinggal meminta Rio karena bagaimanapun kamu istrinya dan ….
“Plak!”
Aku tampar diriku sendiri.
“ANNA! Kenapa kamu?!” Mama terperanjat sambil meraih bahuku, sempat melirikku tapi perhatiannya secepatnya kembali ke kemudi dan jalanan di depan.