Aku urung memakai bedak. Hanya merapikan rambut dan melapisi bibirku dengan lip balm supaya tidak kering. Aku kembali ke bawah dan di ujung tangga aku mendengar Rio masih di kamar mandi. Aku alihkan langkah ke dapur, hendak bergabung dengan Mama, namun selangkah lagi aku sampai di dapur, aku mendengar Papa berkata, “Anna beneran suka banget sama Rio, ya?”
Aku berhenti melangkah dan memutuskan untuk mengintip. Aku lihat Papa duduk di meja makan membelakangiku, sementara Mama berdiri di meja dapur di samping kompor. Mama sedang mengiris bawang dan sepertinya mengambil alih Mak Sari karena aku tidak melihat Mak Sari. Mungkin Mak Sari sedang keluar rumah membeli bahan masakan yang terlupa.
“Kamu baru sadar?” respon Mama dan hendak melirik ke arah Papa yang membuatku menarik mataku dari sisi koridor dan bersembunyi.
“Bisa baca gelagatnya, sih. Tapi tadi kayak yang agresif gitu. Seingatku kamu dulu gak gitu. Aku yang nembak duluan, `kan?”
“Well, you have no idea how I could be aggressive too, Mister!”
Aku dengar suara pisau Mama berhenti menghentak talenan dan kemudian aku dengar suara yang bisa aku identifikasi sebagai … suara kecupan.
Aku menunduk dan menggigit bibir bawahku. Ada getar di dadaku yang terasa sejuk tapi juga sekaligus terasa hangat. Perasaan paradoks yang keluar dari hasrat yang berkata, kelak aku juga ingin seperti itu ….
Akankah kita kelak seperti itu, Rio?Semesra itu?
“Gak sopan loh, nguping obrolan orang tua.”
Aku dengar bisikan di telingaku yang membuatku melirik dan menemukan Rio telah berdiri di dekatku.
“Aaaaa!” Aku menjerit dan melompat menjauh dari Rio, dan tentu saja itu membuatku keluar dari lindungan sisi koridor, keluar dari persembunyianku.
“Ann! Ada apa?” ujar Mama panik. Aku lihat tangan Mama masih memegangi kerah baju Papa dan segera melepasnya saat aku melihatnya. Papa juga berpaling ke arahku, matanya sedikit terbelalak seperti orang yang sedang tertangkap basah.
“Oh, cu-cuma kaget. Itu Rio. Kirain Papa,” bualku sambil mengacungkan telunjuk ke samping. Well, sebenarnya setengah membual karena melihat Rio memakai baju polo-shirt biru tua dengan tulisan “Turn Back Clown” di dada kirinya, memang membuatnya mirip Papa.
“Hahaha, iya, mirip!” seru Mama saat Rio keluar dari koridor dan memperlihatkan dirinya. “Kalau potongan rambutnya diperpendek pasti lebih mirip.”
“Anu, ini, maaf sudah merepotkan begini. Terima kasih bajunya, Om. Mungkin nanti lusa saya kembalikan,” kata Rio.
“Udah jangan sungkan gitu! Buat kamu aja!” jawab Papa.
“Yuk, berangkat sekarang, Rio,” ajakku.
Rio mengangguk sebelum kembali berpaling ke Mama-Papa dan berkata, “Terima Kasih, Om, Tante. Saya permisi dulu. Mungkin nanti setelah antar Anna kembali, saya akan langsung pulang, jadi … Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Mama dan Papa.
“Berangkat dulu, Ma, Pa,” ucapku, pamit.
“Eh, Ann, itu naskahnya gak lupa?” tanya Mama sambil menunjuk ke sudut meja makan, ke print-out naskah drama yang tadi tanpa sadar aku simpan saat hendak mengambil handuk untuk Rio di pantry.
“Oh, iya, lupa!”
Aku sambar print-out itu dan segera pergi.
Aku dan Rio sempat berpapasan dengan Mak Sari di pintu pagar, lalu Rio berpamitan kepadanya.
“Hati-hati di jalan,” ucap Mak Sari sambil menutupkan pintu pagar untuk kami dan melepas kami pergi.
Cahaya matahari telah meredup, tidak seterang tadi dan kini menawarkan rona jingga khas senja. Tapi hawa panasnya masih tersisa, dan terkesan tidak akan mereda oleh banyak kendaraan yang mengiringi kami keluar dari kompleks perumahan ini.
“Atmosfer akhir pekan, ya?” ujar Rio, mengomentari suasana.
“Ho`oh. Oh, iya, besok aku, Nia sama Sandra mau jalan bareng, kamu mau ikut?”
“Aku pass! Ada kemungkinan besok aku pegal-pegal. Staminaku lumayan digenjot hari ini. Papa kamu juga pasti bakal merasakannya—lebih parah malah, kalo sebelumnya gak biasa gerak masif kayak tadi.”
“Tenang. Papa punya Jamu Mak Sari. Kamu mungkin perlu coba jamunya.”
“Oh, aku juga punya Jampi Abah Yudin!” seru Rio seperti tidak mau kalah.
Aku mendengkus dan tertawa lepas. “Kakek kamu merangkap dukun, ya?”