Curang atau jangan curang?
Itulah pertanyaannya!
Itulah dasar dari konflik batinku. Konflik yang mulai bergulir pada satu sisi yang sepertinya akan aku sesali kalau aku pilih. Untunglah konflik batin itu kembali ke titik setimbang oleh suara Rio yang menyadarkan aku.
“Oi! Anna? Kamu ngelamun?”
Aku terperanjat. “So-sori. A-aku jadi inget sama Nia. Aku pikir … dia bakal mampu gak, ya? Eksekusi drama ini?”
Memang yang aku ucapkan itu bualan tulen, tapi sepertinya dapat diterima oleh Rio.
“Porsi latihan sedikit, tapi sering. Pola itu cocok buat Nia. Jadi tinggal latihan saja tiap hari,” usul Rio.
“Eh, by the way, kamu ternyata sangat dekat sama Nia, ya? Sampai tahu seluk beluk keluarga Nia segala,” tanyaku tiba-tiba.
“Ya, itu karena orang tuanya Nia mempercayakan Nia kepadaku,” jawab Rio, tanpa rasa sungkan, tanpa ada salah tingkah, seolah … seolah jawaban itu telah Rio siapkan.
Eh, kedengarannya kalian kayak dijodohkan, ya? pertanyaan itu ingin aku katakan, tapi … aku yakin Rio sudah menyiapkan jawaban dan apapun jawabannya itu … aku tidak siap menghadapinya.
Syukurlah pelayan kafe datang, membawakan pesanan kami, memberiku jeda untuk tidak segera merespon jawaban Rio. Aku beranjak, kembali ke tempat duduk berseberangan dengan Rio.
“Kalau begitu sepertinya, Kak Alya juga mempercayakan Nia kepadaku, lewat naskah drama,” komentarku setelah pelayan kafe menghidangkan pesanan kami dan pergi.
Rio tertawa. “Kalau begitu, mari kita bentuk Nia menjadi manusia seutuhnya!”
“Hah? Jadi selama ini, Nia belum jadi manusia?” candaku.
“Menurutmu? Otaknya gak ngotak, `kan?”
Aku tertawa. “Aku bilangin loh ke Nia!”
“Dih! Penganut divide et impera!”
“Udah, ah! Makan dulu!”
“Setuju! Aku terima traktirannya!”
“Silahkan!”
“Terima kasih!”
“Sama-sama!”
Untuk dialog aku dan Rio yang terakhir itu kami lontarkan dengan nada tinggi seolah kami saling melontarkan amarah, padahal konten dialognya justru sebaliknya. Tentu konteksnya hanya canda spontan
Rio terkekeh. “Hehe, itu tadi bisa dijadikan buat latihan akting, ya?”
Aku ubah gesture tubuhku, duduk tegak lalu merentangkan sebelah tangan tertuju pada nampan burger Rio. Tak lupa tersenyum, aku pun berkata dengan lemah lembut, “Silahkan disantap hidangannya, Kampret.”
Seketika Rio menyemburkan tawa yang tidak bisa terbendung. Ia coba menghambatnya dengan merundukkan kepala ke samping hingga keningnya menyentuh dinding kafe. Matanya tampak berair dan bahunya berguncang kuat. Kedua tangannya sepertinya memegangi perutnya.
“Hmmmpth! Gak tahan, Ann! Hahahaha! Kampret!”
Aku tersenyum. Aku senang melihatnya tertawa.
“Masyaalloh! Jujur aku gak inget kapan pernah ketawa seenak ini!” ujar Rio, sedikit kurang jelas karena Rio mengucapkannya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Sudah, stop bercandanya!” ujarku.
Dia kembali menghadap ke arahku, dan ketika dia menurunkan kedua tangannya, airmatanya tumpah keluar dan dengkus napasnya masih menyisakan tawa.
Sungguh aku senang melihatnya tertawa.
“Selucu itukah?” tanyaku sambil membuka bungkus cheeseburger-ku.
Rio juga meraih burgernya sambil menjawab, “Setidaknya memenuhi kaidah humor.”
“Kaidah humor?” Keningku mengerenyit heran dan mulutku separuh penuh.
Rio sempatkan dulu menggigit burgernya, mengunyah dan menelan sebelum menjawabku.
“Tadi kita sempat saling lempar nada tinggi padahal kontennya tidak sesuai, `kan? Itu mempersiapkan konteksnya. Terus, kamu sebagai perempuan cantik yang tahu menjaga sikap, sambil tersenyum manis dengan bahasa tubuh sopan, menyampaikan perkataan ramah yang diberi punch line, ‘kampret’. Dan yang terakhir, audience-nya tepat, meski cuma aku seorang.”
Sempat aku tertegun, namun segera aku tata emosiku supaya bisa menahan diri dari salah tingkah. Aku lepas emosi itu dengan berkata, “Jadi menurutmu aku perempuan cantik dengan senyum manis, ya? Gak sebut aku cewek?”
“Lah? Malah fokus sama itu? Tentu kamu bisa membedakan antara gombal dan paparan ilmiah, `kan?”
“Setidaknya aku bisa bilang kalau paparan kamu itu paparan ilmiah yang menggombalkan,” balasku sambil mengangkat bahu.
Rio mendengkuskan tawa singkat sebelum berkata, “Ya terserahlah.”