Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #45

Interlude Menuju Takdir ... Ih! Serius Amat, Ya?

“Coba tambah volumenya, Nia,” pintaku.

“Sesak …,” ujar Nia sambil menjatuhkan tubuhnya ke karpet biru muda ruang tamu rumah Kak Alya.

Aku, Nia dan Sandra duduk semi melingkar sambil memegang print-out naskah masing-masing. Kami coba ucapkan dialog kami tanpa berakting dulu. Untuk peran Rio, Sandra yang rangkap karena perannya sebagai Ibu Tiri tidak banyak dan tidak ada pertemuan dengan peran Pangeran. Kami bertiga duduk di tengah ruang tamu, sementara Kak Alya merapat ke dinding, menghadap meja dan laptop—tampak sibuk menumpahkan isi imajinasinya ke layar gawai.

Tengah hari baru saja lewat dan kami telah satu jam berada di rumah Kak Alya setelah sebelumnya kami jalan-jalan ke mall. Kak Alya juga ikut. Tentu agenda utama jalan bareng itu sebenarnya hanya membagi pengalaman aku dan Nia melacak Kak Tari kepada Sandra, sisanya hanya berbagi rekomendasi baju, buku dan makan siang di kedai pizza. Tidak ada yang perlu aku laporkan lebih detil dari itu.

“Mungkin Nia mesti lebih ke penjiwaannya dulu deh, Ann?” usul Sandra, “Suara bisa menyusul setelah Nia bisa menghayatinya, `kan?

“Iya, sih …,” aku bisa membenarkan usul Sandra, tapi ada bagian dari diriku yang ingin membantahnya, namun aku tidak bisa menemukan alasannya. “Soal volume bisa dibantu sama mikrofon, ya?”

Nia tiba-tiba bangkit dan merangkak mendekatiku. “Ann, ummm, kemarin Rio cerita soal ayahnya, gak?”

Aku terperanjat. “Kenapa tanya tiba-tiba?!”

“Soalnya semalam Rio tanya ... ummm, seberapa jauh aku cerita soal masa lalunya sama kamu.”

“Eh? A-apa dia marah? Kenapa kamu baru cerita sekarang?”

“Enggak, sih. Dia gak marah, Ummm, aku mendadak ingat aja. Jadi? Apa dia cerita?”

“Enggak juga—atau sebenarnya enggak sama sekali. Rio cuma bilang kalau dia-nya saja yang belum bisa move-on dan dia menegaskan kalau dia baik-baik saja. Cuma itu.”

“Oh, gitu, ya? Jadi … dia belum bisa cerita, ya?” Nia tampak termenung dan ada kesan kecewa dari air mukanya.

“Kenapa gitu? Kok kamu kecewa?” tanyaku.

“Cuma berharap … Rio cerita sama kamu,” jawab Nia. “Dengan begitu, bisa dibilang Rio mulai merelakan masa lalunya.”

Aku termenung sesaat sebelum menambahkan, “Rio bilang, indikator dia bisa move-on adalah ketika dia mulai bisa menertawakan masa lalunya.”

Nia terdiam, memancingku juga untuk ikut terdiam.

“Aku lebih penasaran soal Rio main basket sama papanya Anna,” ujar Sandra. “Gimana, tuh? Ada cerita, gak? Apa ada obrolan mereka yang mention kamu, Ann?”

Aku mendesah. “Papa gak cerita apa-apa.”

Dan itu adalah dusta.

Semalam setelah melepas Rio pulang dan aku masuk rumah, aku cuci kaki dan cuci tangan, dilanjutkan dengan menaiki tangga untuk mencapai kamar, tapi kemudian tertahan oleh panggilan Papa.

“Ann.” Suara Papa terdengar saat aku berada di dua pertiga ruas tangga.

Aku membalikkan badan dan melihat Papa di bawah tangga. “Ada apa, Pa?”

“Bagaimana menurutmu soal Rio?” tanya Papa tiba-tiba.

“Bagaimana apanya, Pa?” Aku balik bertanya sambil mengerenyit heran.

“Kamu suka Rio, `kan?”

Aku manggut-manggut sambil menjawab, “Suka. Tapi Anna belum berani nembak Rio. Hehe.

Lihat selengkapnya