Gelap mengawali segalanya.
Lalu suara Sandra menyusul, mewakili suara hati Ibu Peri yang aku perankan.
“Apa yang sebenarnya telah aku lakukan?”
Suara Sandra mendesah, namun membahana ke sepenjuru aula.
“Apakah semesta tengah menampakkan karmanya kepadaku? Memaksaku mengecap perasaan yang biasanya aku bawakan kepada putra-putri keluarga kerajaan? Aku tidak bisa menyangkalnya jika itu memang benar.”
Pendar cahaya terlahir di tengah panggung, memperlihatkan keranjang di atas altar, berhias yang memberi kesan ada bayi di dalam keranjang itu. Di dekat keranjang itu berdiri Raja dan Ratu yang berinteraksi dengan isi keranjang tanpa bersuara. Interaksi yang menampakkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Lalu mereka berdua menengadah ke satu arah, menyambut kedatanganku dari ketinggian. Ibu Peri telah turun dari khayangan.
Setelah aku berpijak, Raja dan Ratu mengangguk hormat kepadaku, aku pun mengangguk hormat kepada mereka sebelum aku mendekati keranjang dan berinteraksi dengan isi keranjang itu. Aku ulurkan sebelah tanganku ke dalam keranjang dan isi keranjang itu mulai berpendar memancarkan cahaya hijau lembut seolah aku memberi berkatku kepada sang jabang bayi. Mengiringi adegan itu, terdengar suara musik khidmat yang disusul suara Sandra—sebuah monolog yang membangun bingkai konteks dari tampilan drama ini.
“Tidak lagi aku ingat kapan dan bagaimana awal keberadaanku terikat keluarga kerajaan ini. Itu tidak penting sepertinya … dan tidak ada yang perlu aku keluhkan. Sebagai Ibu Peri, aku hanya mengiringi keturunan Raja, dari lahirnya hingga kelak mereka menemukan pasangan sejati mereka. Mengiringi dan mendidik, membina hati dan budi pekerti, merancang jati diri sebagai pemimpin negeri ini. Seseorang mungkin akan menyebutku glorified baby-sitter, hanya saja … siapa yang sangka aku akan jatuh … pada makhluk fana yang aku asuh ini ….”
Gelap kembali meliputi panggung. Keranjang bayi, Raja dan juga Ratu menyingkir dari panggung, sementara aku melangkah mundur, memberi ruang di sebelah kananku untuk adegan berikutnya.
Cahaya merah muncul dari sisi panggung, diiringi kabut asap dari mesin dry-ice—merepresentasikan api membara untuk menyambut datangnya sosok pangeran berpedang yang melompat keluar, diikuti monster ular raksasa yang memburu sang pangeran. Monster ular itu sebenarnya serupa dengan pertunjukan barongsai, namun dengan bagian kepala lebih memanjang menyerupai ular dan dimainkan hanya di sisi panggung untuk memberi kesan kalau yang muncul di panggung hanyalah bagian depan sang ular raksasa, sementara sisa tubuhnya masih tersembunyi di dalam sarangnya. Tidak hanya meliuk-liuk untuk menerkam sang pangeran, ular raksasa itu juga melontarkan bongkahan batu (bola voli dilapisi bubur kertas) dari mulutnya yang dengan lihai ditepis dan ditangkis sang pangeran.
Pertarungan yang Rio tunjukan terbilang spektakuler. Tebasan-tebasan pedang yang Rio ayunkan tampak mengalir dan tidak ada keraguan, langkah-langkahnya terencana bak tarian dan air wajah yang Rio tunjukkan memberi tahu penonton kalau dia menikmati pertarungan itu. Beberapa kali kepala ular raksasa itu beradu dengan pedang sang pangeran dan setiap sang pangeran mengambil jarak, sang monster melontarkan bongkahan batu yang segera ditepis sang pangeran, menjadikan pertarungan tampak begitu dinamis, nyaris tanpa jeda. Pertarungan diakhiri dengan sang pangeran merunduk saat ular raksasa itu menyerang, lalu dia mengayunkan pedangnya ke bagian bawah kepala sang ular, menebas hingga kepala sang ular terdorong ke atas dengan mulut terbuka. Setelah menebas. Sang pangeran melompat, menjauh sambil menyambar sebongkah batu, kemudian dia memutar tubuhnya dan melempar bongkah batu itu sebagaimana Rio biasa melemparkan Tembakan Tiga Angka di permainan basket. Bongkah batu itu masuk ke dalam mulut ular sebelum kepala ular itu kembali mendebam lantai panggung.
Mendapati lawannya binasa, sang pangeran memutar tubunya menghadap penonton sambil mengacungkan tiga jarinya dan memekik, “Three point shot, baby!”
Sementara itu, aku telah muncul dari belakang sang pangeran dan segera mengayunkan tongkat sihirku ke bagian belakang kepalanya.
“Berhenti main-main!” bentakku.
Tentu apa yang aku dan Rio lakukan memancing tawa penonton.
“Ih! Bunda Peri gak asik!” keluh sang pangeran sambil berpaling ke arahku dan memegangi bagian kepala yang aku pukul.
“Monster sekelas bencana tidak bisa disebut asik,” tukasku, datar dan dingin.
“Hehe, iya, sih,” sang pangeran berpaling menatap bangkai monsternya. “Setidaknya sekarang penduduk desa telah aman. Tidak akan ada lagi ternak dan … anggota keluarga yang hilang.” Di ujung kalimatnya, sang pangeran menunjukkan wajah dan nada suara sedih penuh simpati.
“Sekarang, segera laporkan ke Baginda Raja!” perintahku.
“Siap, Bunda!”
Si pangeran memutar langkah, menjadi isyarat bagi yang memainkan kepala ular raksasa itu untuk bergerak, membuka mulut sang ular dan melontarkan sebongkah batu ke arahku. Tentu aku tidak akan menghindar, aku hanya menunggu Rio merangkul bahuku dan menepis bola voli berbalut bubur kertas itu dengan pedang kayunya.
“Bunda! Awas!”
Tidak lebih dari satu detik tangan Rio merangkul pundakku, karena dia mesti segera menerjang dan menanamkan ujung pedang kayunya ke kepala sang ular.
“Bunda baik-baik saja?” Rio telah kembali menghampiriku.