Gelap perlahan memendarkan cahaya, menampakkan layar lebar yang menjadi latar panggung. Cahaya itu sendiri berpendar dari balik layar, menguning seperti nyala api. Lalu muncul sosok bayangan laki-laki dan perempuan menuntun sosok gadis kecil—meski berupa siluet hitam bak pertunjukan wayang kulit, bentuk mereka cukup mewakili personfikasi pasangan bangsawan dengan putri kecilnya.
Mengiringi pertunjukkan bayangan itu, suaraku mengisi aula dan menuntun penonton memasuki babak baru pertunjukkan drama kami. (Suaraku mengambil alih suara Sandra karena Sandra mesti bersiap-siap pada perannya sebagai Ibu Tiri.)
“Namanya Cindy … putri satu-satunya dari pasangan keluarga bangsawan kelas bawah di ibukota kerajaan …. Mereka keluarga kecil yang bahagia … sampai kematian merengut sang ibu dari Cindy ….”
Seiring aku mengucapkan itu, muncul bayangan sayap dari punggung bayangan perempuan, juga lingkaran suci di kepalanya sebelum siluet “sang ibu” terbang dan menghilang.
“Kemudian dalam kurun waktu yang tak lama, Ayah Cindy menikah lagi ….”
Kemudian muncul dua sosok bayangan lain berbeda ukuran, dengan celah lebar di bagian wajah mereka yang menunjukkan senyum jahat ibu tiri dan kakak tiri.
“Awalnya tampak baik-baik saja, sampai ayahnya Cindy pun meninggal dunia….”
Kini dari balik punggung bayangan “sang ayah” juga muncul sayap berikut lingkaran di atas kepalanya dan kemudian terbang meninggalkan bayangan cilik “Cindy”, membiarkannya bersama dua bayangan yang tertawa jahat.
“Membiarkan Cindy hidup di bawah kekejaman ibu tiri dan kakak tiri yang jahat ….”
Lalu layar itu padam, berganti lampu sorot yang mengiringi langkah perempuan bergaun merah dengan sebelah tangan membawa kipas. Langkahnya sampai pada tumpukan kain di tengah panggung dan dia pun berhenti. Dia berpaling dan memanggil.
“CINNNDYYYYYY!”
Suara Sandra bernada tinggi dan melengking, terasa sedikit menusuk ke dalam telinga. Mulutnya sendiri tampak aneh saat menyuarakannya, tapi Sandra sembunyikan dari penonton dengan melebarkan kipas di mulutnya.
Kemudian Nia muncul tergopoh-gopoh memenuhi panggilan Sandra. Pakaian one-piece yang dikenakannya berwarna abu-abu kusam dengan celemek putih yang sengaja dibuat kusam, begitu pula kerudungnya. Yang agak melenceng dari penampilannya hanya kacamatanya saja.
“A-ada apa, Bunda?”
“Apa-apaan ini?!” telunjuk Sandra mengarah pada tumpukan kain itu. “Baju-bajuku belum engkau cuci juga?”
“A-akan saya kerjakan, Bunda. Setelah membersihkan perapian!”
“Cuci sekarang juga!”
“Makanya kerja yang cepat!”
Tiba-tiba muncul sosok perempuan lain dari belakang Nia yang mendorong punggung Nia hingga tersungkur menimpa tumpukan kain itu.
Mendapati tubuh Cindy tersungkur, ibu dan kakak tiri itu tertawa sambil memutar langkah meninggalkan Cindy. Cindy duduk bersimpuh di atas tumpukkan kain itu, lalu perlahan membereskan kain yang berserakan. Juga perlahan, bahunya berguncang dan kepalanya menunduk, mengiringi suara lirih yang dikencangkan pengeras suara.
“Ayah …, Bunda …, kapan Cindy bisa menyusul kalian?”
Jeda sesaat ….
Lalu Ibu Peri muncul dari sisi panggung, menghadap sosok Cindy yang menangis.
“Apa gadis menyedihkan ini layak bersanding dengan Pangeran? Sulit aku membayangkannya. Ini jelas mustahil, bukan? Tapi … apa yang aku rasakan ini sebenarnya? Kenapa kehadiran gadis ini terasa begitu kentara?” ucapku sambil menatap Nia yang masih tersoroti lampu.
Lalu panggung kembali gelap, seolah meliputi suaraku, mengilustrasikan suara hati yang meradang.
“Meski tugasku mempertemukan mereka … tapi cara seperti apa yang bisa membuat mereka bertemu? Aaah …, berat rasanya …, membiarkan nyala cerah sang pangeran terpapar kelam gadis ini ….”
Kemudian layar lebar di latar panggung kembali berpendar kekuningan, memperlihatkan siluet tenda-tenda kios khas pasar zaman abad pertengahan. Mengiringi tampilan itu, terdengar suara latar yang merepresentasikan suasana pasar. Lalu muncul beberapa sosok bayangan laki-laki yang tampak bergunjing ria.
“Hey, kau dengar? Pangeran kita berhasil membasmi monster basilisk di sebelah selatan Rimba Terlarang!”
“Ya, aku dengar! Monster itu berhasil memusnahkan satu desa. Syukurlah Pangeran berhasil membunuhnya,” sahut suara seorang perempuan.”
“Aku juga dengar kabar kalau Pangeran seorang diri berhasil membunuh seekor naga di pegunungan utara.”
“Ah, bagiku yang seorang pedagang, lebih bersyukur pada Pangeran beserta pasukan ksatrianya yang telah mengamankan jalur antara Ibu Kota dan kota-kota pelabuhan dari gerombolan bandit.”
“Ya, setuju! Bisa kita bilang kelak setelah Pangeran menjadi Raja, masa depan negeri ini sangatlah cerah.”
Layar kekuningan itu kemudian meredup seiring suara hiruk pikuk suasana pasar ikut mengecil dan memudar. Ketika panggung kembali gelap, aku telah berada di tengah panggung, berdiri menghadap penonton lalu aku disoroti lampu. Lalu aku memulai sebuah monolog.
“Ya …, aku sungguh mengerti. Tidak hanya aku seorang yang menganggap sang Pangeran secercah harapan. Bagi negeri ini, bagi setiap warganya …. Meski aku melihat dia dari hal yang berbeda … aku bisa mengerti sosoknya … seperti … mentari pagi … yang menjanjikan … hari … yang … cerah ….”
Di tengah monologku itu, muncul sosok bermantel coklat dengan kerudung mantelnya menutupi kepala, menyembunyikan wajahnya. Sosok itu mengendap-ngendap menghampiriku, membuat monologku terpatah-patah di akhirnya karena memperhatikannya. Tatapanku terus mengikutinya bahkan sampai dia melewatiku dan dia bertingkah seolah aku tidak ada di sana. Ketika sosok misterius itu telah selangkah lewat di depanku, aku ayunkan tongkat sihirku hingga menghantam kepalanya.
“AWW!” Dia terperanjat sambil menggosok-gosok kepalanya hingga kerudung mantelnya terlepas, memperlihatkan wajah Rio—sang Pangeran.
Adegan itu memancing beberapa tawa pecah di antara penonton.
“Apa tujuan engkau menyelinap keluar dari istana?” tanyaku.
“Oh, Bunda Peri! Aku kira siapa!”
“Sekali lagi, demi tujuan apa engkau menyelinap keluar dari istana di pagi buta seperti ini?” kali ini ada geram dalam suaraku.
“A-aku hanya ingin melihat keadaan Ibukota di pagi hari!” jawab Rio, memerankan sikap sungkan akibat tertangkap basah.
“Kenapa harus pagi buta seperti ini?”
“Yah, aku ingin melihat bagaimana warga kota bangun dan memulai hari. Itu bisa menjadi gambaran tingkat kebahagiaan warga terhadap hidup mereka di Ibukota. Asumsi yang cukup mendekati kebenaran, bukan?”
Di akhir kalimat Rio, lampu sorot lain menerangi sisi sebelah kananku, memperlihatkan Nia—Cindy—yang dikelilingi empat sosok laki-laki yang bersikap mengancam.
“He-hentikan, Tuan-Tuan! Saya tidak punya benda berharga untuk saya berikan!” pekik Cindy. Tampak dia membawa keranjang dan memeluknya erat.
“Oh, setiap perempuan tentu punya hal yang berharga yang bisa diberikan kepada laki-laki ini. hehehe. Bukankah begitu, teman-teman?” seringai salah seorang bajingan itu.
“Seseorang membutuhkan bantuan!” seru Pangeran sambil melompat mendekat, hendak menolong Cindy.
Aku ikut mendekat meski hanya berjalan.
“Hey, kalian di sana!” Sang Pangeran menghunus pedang dan mengacungkannya ke arah kerumunan bajingan itu. “Hentikan tindakan tidak terpuji kalian!”
“Hah? Siapa kau?!” bentak seorang bajingan.
Si Pangeran mendadak salah tingkah. “Oh-eh, sa-saya hanya pengelana dari negeri jauh.”