Ketika panggung kembali terang, latar panggung berganti aula kerajaan di mana Raja dan Ratu duduk di singgasana di samping panggung, agak condong menghadap ke penonton. Sementara aku dan Pangeran berlutut di hadapan Raja dan Ratu. Untuk beberapa saat tidak ada yang bergerak ataupun berbicara. Seolah tampilan drama dibekukan sesaat untuk memberi kesempatan suara hati Ibu Peri tersampaikan.
“Sebagai makhluk fana, manusia akan selalu terdesak sang kala …. Ada banyak yang mereka ingin lakukan. Ada banyak yang mereka ingin capai di rentang waktu singkat mereka. Begitu pula dengan pangeranku …. Dia akan terdesak … begitu pula Ibunda Ratu dan Ayahanda Raja juga akan terdesak … maka begitu pula dengan aku … yang akan terdesak untuk merelakannya … meski aku masih ingin berlama-lama dengannya … meski dia tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya ….”
Jeda sesaat sebelum tangan sang Raja terentang kepada aku dan Pangeran.
“Berdirilah, wahai Ibu Peri dan putraku,” suara sang Raja membahana. Sedikit off, karena pertemuan ini pertemuan kecil, jadi sebenarnya tidak perlu berakting agung.
Ketika kami berdua berdiri, Ratu berkata dengan lemah lembut, “Maaf, Bunda Peri. Ini hanya keluar dari perasaan cemas seorang ibu akan putranya. Kami telah semakin berumur dan putraku telah tumbuh semakin dewasa, telah cukup dewasa untuk memiliki pasangan hidup. Masihkah tidak terterawang siapa pasangan sejati putra kami?”
Aku menunduk hormat dan menjawab, “Maaf beribu maaf, Yang Mulia. Baru kali ini hamba tidak berani menentukan pilihan. Banyak gadis di negeri ini yang berpotensi menjadi pasangan Pangeran. Jika ada yang patut disalahkan, salahkanlah Putra Mahkota yang terlalu banyak tebar pesona ke sepenjuru negeri—”
“Oi!” Sang Pangeran hendak protes, tapi aku hentikan dengan mengangkat sebelah tangan kepadanya.
“Karena itu sinyal yang dipancarkan kandidat-kandidat pasangan Putra Mahkota terkesan merata dan tidak ada yang menonjol. Namun, bukan berarti tidak ada solusi, Yang Mulia. Hamba sarankan Yang Mulia menggelar pesta dansa dan mengundang seluruh gadis yang ada di negeri ini, dimulai dengan warga Ibukota. Lalu, biarkan Putra Mahkota yang memilih pasangannya sendiri. Dengan demikian, Pangeran akan lebih bertanggung jawab terhadap pilihannya.”
Lepas mengatakan itu, aku melirik Pangeran dan melihatnya tertegun menatapku.
“Ide yang bagus, Bunda Peri!” seru sang Ratu sambil mengatupkan kedua tangannya, tampak senang. “Sungguh ide yang sangat menarik!”
“Perdana Menteri!” panggil sang Raja seraya berdiri.
“Daulat, Baginda,” respon seorang berjubah megah dari samping sang Raja.
“Persiapkan segala yang diperlukan untuk pesta dansa dan pilih hari yang baik untuk menggelarnya!”
“Laksanakan, Baginda!”
Seperginya sang perdana menteri, aku membungkuk hormat, begitu juga Pangeran.
“Kalau begitu, kami pamit undur, Yang Mulia,” ucapku.
“Baiklah. Terima kasih, Bunda Peri,” jawab Ratu.
Aku dan Pangeran melangkah mundur, lalu membalikkan badan dan terus berjalan. Seiring langkah kami menjauh, aula utama kerajaan meredup dan menjadi gelap, berganti lampu sorot yang mengikuti langkah kami.
Di tengah panggung, Pangeran berhenti melangkah dan memanggilku.
“Bunda Peri!”
Aku hentikan langkahku dan berpaling. Dan terkejut saat kedua tanganku disambar Pangeran dan digamitnya.
“Terima kasih, Bunda! Dengan begini aku bisa lebih leluasa memilih pasanganku! Dan tidak ada yang bisa membantahku!”
“Kau akan menemui Cindy?”
“Eh? Kok tau?”
“Cih! Pergi sana!”
Si Pangeran tertawa sambil melepas gamitan tangannya.
“Hahaha! Terima kasih, Bunda! Dengan begini Bunda bisa segera bebas dari bocah tengik ini!”
Dia melangkah mundur sambil mengangkat sebelah tangan, hendak melambai.
“Dengan begini, Bunda Peri bisa segera pensiun!”
Eh?
Dia membalikkan badan dan hendak berlari.
“Bunda bisa segera pulang kampung dan jualan jamu gendong!”
Dia berlari.
“Oi!” protesku dan spontan mengacungkan kepalan tangan. Protes yang natural karena apa yang diucapkan Rio itu tidak ada dalam skenario.
Namun bagaimanapun, apa yang Rio lakukan, berikut responku, berhasil memancing tawa penonton.
Seperginya Pangeran, aku terdiam di tengah panggung, menurunkan kepalan tangan dan menundukkan kepala. Lalu aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan dan membiarkan suara Sandra membocorkan isi hatiku.
“Tapi aku tidak mau terbebas dari bocah tengik itu, Pangeran …. Oh, apakah sudah terlambat? Haruskah … aku merelakannya? Tapi aku mencintainya! Harus aku akui … Aku … mencintainya …. Tapi dia tidak tahu ….”
Kemudian gelap meliputiku.
Satu detik berselang, lampu sorot menerangi sisi kiri panggung, lalu muncul sosok Cindy berjalan sambil membawa keranjang, menunjukkan dirinya berada di luar rumah dan sedang berbelanja.
“Cindy!”
Dari belakang, Pangeran memanggil Cindy dan mengejar. Pangeran memakai mantel dengan kerudung menutupi sebagian kepalanya.
“Ya-Yang Mulia Pangeran!” Suara Cindy tertahan. Terkejut. Semakin terkejut saar Pangeran meraih sebelah tangannya.
“Cindy! Ikuti aku!” Sang Pangeran menarik lengan Cindy dan mengajaknya berlari ke sisi lain panggung. Di sana telah terdapat pintu yang membatasi seting lain berupa butik dengan beberapa pajangan pakaian. Pangeran menggedor pintu butik itu.
Muncul dari dalam seting panggung berupa butik itu seorang laki-laki berpakaian rapi.