Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #49

Berakhir Sudah ...

Aku raih tangan Cindy dan membawanya terbang. Kali ini terbangku terasa lebih lambat (Tentu saja! Soalnya sekarang teman-teman di balik panggung mesti menarik beban dua orang! Sori, gaes!).

Sebenarnya kami terbang tidak lama, namun layar latar yang menunjukkan gerak pemandangan langit malam (berikut gerak bulan dan gemintangnya) memberi kesan terbang kami cukup jauh.

Sementara itu di sisi lain panggung, di Ruang Pesta, Pangeran sedang bergiliran menjabat tangan para gadis yang berbaris. Ketika kami mulai turun, volume suara musik klasik mulai meninggi, memberi kesan kami mendekati suasana pesta. Pangeran dan para gadis itu tampak tertib dan elegan, sampai kemudian Pangeran melihat kedatangan Cindy.

“Pangeran?”

“Eh, Pangeran?”

“Pangeran? Saya belum Anda jabat tangan!” protes beberapa gadis saat sang Pangeran mengabaikan mereka dan melangkah cepat mendekati kami.

Aku ulurkan tangan Cindy ke depan, mempersembahkannya kepada pangeranku saat dia telah dekat. Saat ini volume suara musik klasik telah memudar dan hilang.

Rio raih tangan Nia.

“Terima kasih, Bunda Peri,” ucap Rio sambil menarik tangan Nia dan mengajaknya berlari kecil melewati para gadis yang sempat protes melihat mereka.

“Siapa itu pangeran?”

“Pangeran! Jangan tinggalkan kami!”

“PANGERAN! I LOP YU!” (Siapa ini? Tapi jelas suara cowok!)

Setelah Rio dan Nia menghilang di sisi panggung, panggung kembali gelap, kecuali aku yang tersoroti lampu, aku yang masih merentangkan sebelah tangan melepas Nia bersama Rio.

“Inikah akhirnya?” Suara Sandra mewakili apa yang aku rasakan.

Aku turunkan tanganku. Aku tundukkan wajahku. Aku tahu, saat ini Rio tengah menggamit tangan Nia, mengajaknya berlari mengitari belakang panggung menuju sisi lain panggung untuk adegan berikutnya. Aku tahu, perasaan terhimpit dalam dada ini adalah seharusnya milik Ibu Peri, tapi kali ini aku ingin merengkuhnya sebagai milik pribadi. Memang tidak professional, ya? Tapi ada bagian dari diriku yang mengatakan kalau aku harus membiasakan diri dengan perasaan sakit seperti ini karena … setelah drama ini berakhir, ada potensi … aku akan patah hati ….

“Haruskah aku pergi sekarang saja?” Suara Sandra masih menyuarakan suara hati Ibu Peri.

Aku mulai melangkah, mendekati sisi panggung di mana tadi Rio dan Nia menghilang, namun mendadak berhenti, mengikuti isyarat Sandra yang berkata, “Tidak! Hatiku masih terlalu berat untuk meninggalkannya! Setidaknya … sampai tengah malam nanti ….”

Aku memutar langkah, kembali ke tengah panggung. Dan sampai di tengah panggung, latar panggung kembali menerang dan panggung kini beralih rupa menjadi Taman Istana, dengan tanaman hias dan beberapa pilar sebagai dekorasi. Aku berhenti dan melihat Rio dan Nia memasuki panggung. Bergandengan tangan dan tampak berbincang ringan meski tidak terdengar suaranya. Mereka berjalan mendekatiku. Langkah mereka sempat terhenti kala Rio meraih setangkai bunga dan memberikannya kepada Nia, namun kemudian Nia sematkan bunga itu ke saku dada beskap Rio. Akting mereka tampak natural. Ada musik lembut yang mengiringi mereka.

Mereka berdua terus melangkah mendekatiku, sampai mereka melewatiku seolah aku tidak pernah ada di sana. (Saat melewatiku, sempat aku dengar percakapan mereka. Rio berkata, “Jujur itu spontan! Lagi pula apa maksudnya Yap Me Lu, ya, `kan?” yang ditanggapi Nia dengan terkekeh. Tentu percakapan itu tidak tersampaikan ke penonton karena mikrofon yang tersemat di kostum mereka dimute sementara.)

Aku memperhatikan mereka, hanya memperhatikan meski aku yakin ekspresi wajahku dan gerak tubuhku mengejewantahkan apa yang aku rasakan seiring aku memperhatikan mereka. Setelah beberapa langkah melewatiku, aku tahu layar di latar belakang panggung menyala dan memperlihatkan menara jam dengan jarum jam menunjuk ke angka dua belas. Lalu, dentang lonceng berbunyi.

Ding! Ding! Ding ….

Aku lihat Cindy panik. Dia lepaskan tangan Pangeran dan memutar langkahnya sebelum berlari meninggalkan Pangeran. Berlari hingga dia melewaiku.

“Cindy? Ada apa?” Pangeran tampak kebingungan. Ketika hendak mengejar, dia sempat terpeleset (disengaja, untuk menjaga jarak).

Sambil berlari menjauhi Rio, Nia melepas bagian-bagian dari gaunnya yang merepresentasikan sihir Ibu Peri yang memudar. Nia lewati aku, begitu pula dengan Rio. Tidak jauh dariku, Rio berhasil menangkap sebelah lengan Nia.

“Cindy! Berhenti! Aku mohon!” ujar Pangeran memelas.

“Selamat Tinggal, Tuanku Pangeran. Hamba tidak pantas berada di sisi Pangeran,” ujar Cindy tanpa berpaling.

“Aku menginginkanmu! Persetan dengan pantas atau tidak!” tandas Pangeran tegas.

Cindy mengibaskan lengannya hingga pegangan tangan Pangeran terlepas. Cindy membalikkan badan, menghadapi sang pangeran.

“Lihat hamba, Paduka! Hamba tidak bisa menjaga pemberian Paduka!” Cindy rentangkan kedua tangannya, menunjukkan kondisi gaun pemberian Pangeran. “Dan … dan lebih dari itu, hamba hanya memanfaatkan kebaikan Paduka demi kepentingan hamba sendiri. Hamba raih uluran tangan Paduka hanya untuk terlepas dari belenggu ibu dan kakak tiri …. Hati hamba busuk, wahai Pangeran … hamba tidak pantas ….”

Kemudian Pangeran mendekap Cindy, memeluknya erat sambil berkata, “Oh Cindy … manfaatkanlah aku …. Andalkanlah aku …. Asal kamu mau berada di sisiku …. Aku mohon ….”

Pelukan mereka menjadi isyarat untuk aku melangkah mundur. Berbeda dari gladi yang telah berkali-kali kami lakukan, untuk saat ini air mataku tumpah tak tercegah.

“Selamat tinggal, pangeranku,” bisikku lirih sambil kemudian memutar langkah dan aku pun terbang meninggalkan mereka. Aku terbang semakin tinggi seolah kembali ke khayangan. Hanya saja ….

Mendadak aku merasakan semacam hentakkan. Aku tidak tahu asalnya dari mana, tapi tiba-tiba tubuhku seperti menjadi ringan dan … dan lantai panggung seperti mendekat.

Lihat selengkapnya