Sedikit sekali aku sadari kalau tampilan drama yang memiliki pretext membuat Rio mengeksplorasi perasaannya sendiri malah memaparkan aku pada perasaanku sendiri. Alih-alih membuka hati Rio, malah membuka kebusukan hatiku dan menghakimi kalau aku hanya layak menelan pahit kenyataan kalau patah hati adalah keniscayaan …. Tapi jujur, aku ingin-ingin-ingin-ingin menyangkalnya! Aku tidak bisa membuang perasaanku begitu saja!
Mungkin ketika aku mendekap Nia dan membiarkannya menangis di dadaku, aku tidak terlalu menyadari itu, tapi aku cukup sadar kalau … aku masih suka Rio. Ada serpihan hati yang enggan jatuh dari bingkainya dan mengatakan, “Aku masih tidak bisa berpaling darinya! Aku masih cinta Rio!” Mungkin … itu juga yang membuat perihnya patah hati lebih terasa, ya?
Aku terlalu banyak invest waktu, tenaga dan perhatian sama Rio! Terlalu banyak ....
Nia lepas wajahnya dari dadaku dan meninggalkan jejak air mata dan ingus. Aku lepas dekapanku kala melihat tangisnya mereda, menyisakan isak yang terpenggal-penggal. Aku lihat Nia menghapus ingusnya dengan lengan gaunnya.
“Ih! Jorok!” ujarku.
“Ha-habisnya a-a-aku g-gak bawa tisu!” protes Nia, gelagapan membela diri.
Aku terkekeh lirih sambil melangkah mundur dan duduk di tempat tidur pasien. Aku rasakan bahuku lemas dan kedua tanganku saling terpaut seolah saling menenangkan satu sama lain.
Aku tarik napas panjang dan sebenarnya aku ingin berkata, “Deal kita sudah berakhir, `kan?” tapi sepertinya aku belum sanggup. Batinku belum siap, karenanya aku terdiam.
Menanggapi diamku, Nia ikut duduk di sampingku.
“Tapi sekarang jelas sudah kalo Rio, umm, beneran suka kamu," kata Nia yang seketika membuatku terperangah.
Tidak hanya terperangah, ada percik amarah yang menyala dan menyulutku untuk menyalak, "Apa kamu gak denger Rio tadi? Dia jelas menolakku mentah-mentah!"
"Umm, gak mentah sih. Kalo mentah-mentah, dia akan bilang, 'Tapi aku gak punya perasaan apa-apa sama Anna,' tapi dia malah beralasan gak mau menyakiti kamu nantinya,” tanggapnya sambil menunduk dan tampak berpikir, tanpak tidak terpengaruh oleh nada tinggi suaraku.
Aku kembali terperangah.
Nia berpaling kepadaku dan melanjutkan, “Ummm, terlalu dini kalau kamu mau menyerah sekarang,”
Aku bisa rasakan mataku melebar melihat sikapnya. Sikapnya seperti menghapus jejak kalau dia baru menangis seperti anak kecil. Sorot matanya tampak menajam, nyaris berbinar, seperti sedang tumbuh sebuah determinasi.
"Kenapa sih kamu ngotot gitu?" ungkapku, terkesan menyentak, tapi lebih terliputi emosi terperangah yang … yang sebenarnya kesulitan mengerti apa yang dipikirkan Nia.
“Rio jelas tidak mau menceraikan kamu, `kan?” imbuhku dan kini perasaan terperangahku beralih rupa menjadi miris yang aku kenal, miris yang selama ini aku tahan.
“Umm, memang sih, tapi aku juga gak bisa menghadapi Rio sendirian …,” jawab Nia datar dan tampak seperti termenung, dengan kepala menunduk dan sebelah tangannya perlahan mengusap dagu. “Aku butuh sekutu dan kamu sekutu yang ideal.”
Sekutu?
Kembali aku terperangah, tapi kali ini terperangahku seperti berbentuk lain. Seperti ada kesadaran samar yang berhasil meraba-raba tekstur dari maksud niat Nia.
“Kamu … berniat menjadikan aku istri kedua Rio?” ungkapku, tanpa sepenuhnya aku sadari.
Mendadak tatapan Nia seperti meringis.
“Gak perlu pakai kedua segala,” ucapnya, setengah merajuk.
“Ta-tapi itu … itu … `kan poligami?”
Nia tampak semakin meringis dan kali ini ada sepercik amarah dari nada suaranya. “Boleh lah pakai terminologi itu! Ta-tapi apa itu mesti mengerdilkan cinta kamu sama Rio? Aku jelas sayang Rio! Dan aku tidak ingin traumanya—juga keras kepalanya—soal ayahnya membatasi potensinya! Keliatan jelas sejak bergaul sama kamu, Rio jauh lebih terbuka … citranya jauh lebih baik … tidak lagi suram … tidak lagi penyendiri dan … dan aku juga sepertinya jauh lebih baik. Tanpa kamu mustahil aku mau jadi Cindy, ya, `kan? Tanpa kamu, Rio mustahil mau tampil, apalagi jadi pangeran!”
Aku mendesah cepat, seperti memaksakan sebongkah beban dari dalam dada lewat napasku. Apa yang Nia utarakan seperti menekan dan memaksaku pada posisi submisif dan membuatku tidak bisa membantah.
“Awalnya mungkin Rio menikahiku tanpa perasaan apa-apa …, hanya legitimasi syariat yang memberi kami kebebasan lebih untuk saling mendukung …, tapi seiring waktu pastinya tumbuh rasa sayang, `kan?” imbuh Nia, kali ini suaranya melembut. “Dia menolak kamu out of consideration sama perasaanku. Tapi kalau dia bisa bilang, ‘Perasaan gak lagi relevan,’ maka aku juga bisa bilang perasaanku gak relevan lagi asalkan dia bisa melampaui traumanya ….”
Aku kembali mendesah. Kembali mengeluarkan bongkahan beban batin yang memang ada sensasi ringan setelahnya, namun aku masih tidak bisa membantah Nia. Aku hanya menunduk, meresapi penjelasan Nia, juga mengikis persepsiku tentang perasaanku sendiri.
Aku ingat, Kak Tari pernah membawa instruktur seni pentas (entah dosen atau apa, aku lupa lagi) yang pernah menyampaikan monolog yang di dalamnya beliau mengutip kata-kata Jalaluddin Rumi.
Tugasmu bukan mencari cinta, melainkan hanya mencari dan menemukan segala hijab dalam dirimu yang kamu bangun dan menghalangi cinta menemukan dirimu ....
Kira-kira seperti itu kutipannya dan kini aku mengerti maksudnya. Aku ikut klub teater sekolah demi memburu cinta Rio, tapi bukankah akan lebih baik jika aku hancurkan hijab ego yang aku bangun sendiri? Alih-alih ambil jalan memutar, aku bisa langsung menghampiri Rio sambil berkata, “Hai, nama kamu Rio. `kan?” Dan saat aku mendengar penjelasan Nia, aku juga merasakan perasaan yang sama dengan kutipan itu, merasakan hijab persepsi yang menghadangku dan mulai terkikis.
Mungkin … perasaanku juga sebenarnya tidak relevan, karenanya … penolakan Rio juga menjadi tidak relevan karena tidak keluar dari perasaan Rio yang sebenarnya …. Tapi ….
“Lalu … apa yang mesti aku lakukan, Nia?” tanyaku lirih, terdengar sedikit serak.
“Aku yakin saat ini Rio sedang ketemu sama mama kamu dan minta maaf. Kalau saja ada papa kamu juga, Rio akan minta waktu buat bicara sama papa kamu,” ucap Nia dan sepertinya semacam intro untuk menjawab pertanyaanku.
“Mama? Papa?” ucapku heran.
“Ummm, aku sempat lihat mama kamu di kursi penonton waktu di panggung—cuma mama kamu sih.”
Eh? Mama nonton? Aku kok gak tau?