Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #51

Rekonsiliasi Tak Berbatas Basa-Basi

Seperti membasuh luka hati, air hangat shower yang awalnya terasa seperti mencubiti kulitku, perlahan membilas sebagian beban hati dan melepas rasa sesak dalam dada. Ada perasaan lega. Ada perasaan tenang. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di kamar mandi. Semua ini belum selesai.

Rio pasti akan menghubungi kamu.

Begitu prediksi Nia.

Sejauh ini prediksinya tepat, dan saat ini aku tidak punya alasan untuk menyanggahnya …. Atau lebih tepatnya, aku sebenarnya mengharapkannya.

Setelah keluar dari kamar mandi dan hendak menaiki tangga menuju kamarku, aku mendengar suara Mama dan Papa dari arah dapur. Mereka belum meninggalkan meja makan setelah makan malam tadi. Mendengar mereka, aku urung menaiki tangga, dan berjalan menyusuri lorong menuju dapur (mengendap-ngendap, lebih tepatnya).

“Masih sulit dipercaya sih kalau mereka sudah menikah,” aku dengar suara Mama.

Aku berhenti dan merapatkan punggungku ke dinding. Aku mendengarkan.

“Tapi itu cukup menjelaskan dinamika interaksi mereka berdua, menurutku,” sanggah Papa. “Cuma, asumsi orang soal interaksi cewek-cowok selalu memberinya label pacaran, maka ketika Rio atau Nia ditanya apa mereka pacaran, mereka tentu saja menjawab tidak.”

“Tapi kalau menjawab sudah nikah, malah sulit dipercaya, ya?” sambung Mama.

“Yah, itu salah persepsi publik, sebenarnya. Tapi kita juga sepertinya terlalu dangkal melihat mereka—maksudku, Rio dan Nia memiliki tujuan masing-masing, lalu mereka memutuskan saling bantu. Dan meski mereka cewek sama cowok, ikatan mereka bisa dibilang sebatas partner. Cuma dari sudut pandang Rio, inisiatif Rio menikahi Nia sebenarnya untuk membangun kepercayaan keluarganya Nia—juga Nia sendiri—kalau Rio memang tidak main-main dengan partnership mereka. Yah, sebagai seorang ayah, aku sangat mengerti.”

“Terus Anna muncul di antara mereka,” imbuh Mama lirih.

Bukan, Ma! Anna yang lebih dulu kenal Rio! Nia yang muncul di antara Anna sama Rio! protesku dalam hati.

“Sebenarnya aku yakin, Rio suka sama Anna. Bagaimanapun Rio cowok remaja dan Anna punya appealing yang lebih dibandingkan Nia.”

Mendengar komentar Papa, protes batinku mendadak sirna, berganti cenat-cenut yang menekan aku pada posisi submisif dan … meneruskan menguping.

“Tapi karena Rio sudah menikah dengan Nia …,” gumam Mama menyambung perkataan Papa.

“Ya, Rio merasa terikat dengan Nia dan memilih menjaga integritasnya. Karena itu dia menolak perasaan Anna. Entah kenapa, aku juga seperti membaca sinyal kalau Nia mendorong-dorong hubungan Rio sama Anna, kamu merasa seperti itu juga?”

“Yah, tipis, sih. Aku lebih fokus memperhatikan Anna. Kamu sendiri lebih memperhatikan Rio, `kan?”

Well, dia kandidat pertama yang dekat sama Anna. Sebagai seorang ayah, wajar, `kan? Malah sekarang aku lebih menginginkan Rio untuk Anna, mengingat dia menolak Anna demi menjaga integritasnya—tapi ini jadi paradoks, ya? Kalau sampai Rio jadian sama Anna, malah integritas Rio bakal runtuh, ya, `kan? … Kecuali ….”

“Jangan bahas soal poligami!” potong Mama galak.

Aku dengar Papa terkekeh mendengar salak galak Mama.

“Coba lepas dulu faktor romance dari dinamika interaksi mereka bertiga. Kamu sendiri menyaksikan bagaimana interaksi Nia sama Anna, `kan? Waktu aku main basket sama Rio? Waktu itu kakak kelasnya hilang, ya?”

“Ya …, harus diakui sih, Anna sama Nia bisa bekerja sama dengan baik—superb, malah! Saling mengisi kekurangan satu sama lain sampai bisa temukan kakak kelas mereka—bahkan sampai bisa menekan kakak kelas itu supaya menurut.”

“Dengan kasus itu, mungkin gak kalau faktor kamu sama Bah Yudin digantikan oleh Rio? Aku sih merujuknya ke waktu ada kakak kelas yang mau culik Anna. Rio bisa berperan seperti benteng pelindung sekaligus support system bagi dua gadis itu.”

Aku dengar jeda yang cukup lama. Mama tidak segera menjawab

“Bisa, sih,” jawab Mama terdengar agak ragu. “Dan aku mengerti maksud kamu. Interaksi mereka bertiga seperti saling mendukung satu sama lain …. Tapi … kalau sampai mereka bertiga terikat jadi … poligami, hmm, aku kayak gak rela. Konsekuensi sosialnya terlalu besar dan beresiko. Yah, kalau pinjam kata-katanya Naga Bonar kayak, ‘Apa kata dunia?!’"

Papa mendengkus dan tertawa sebentar sebelum berkata dengan nada yang cukup lirih, “Tapi, sayang, apa hak dunia untuk menghalangi kebahagiaan mereka bertiga?”

Aku terpana, dan sepertinya Mama juga karena aku tidak mendengar tanggapan Mama.

Namun sebelum jeda sunyi itu menjadi lebih canggung, Papa segera berkata, “Tapi imajinasi kita sepertinya terlalu mendahului realitas yang ada. Mereka masih muda dan banyak hal bisa terjadi. Malah bisa jadi di masa depan ada sosok yang lebih baik dari Rio untuk Anna—Hmmp!” Papa mendadak mendengkus bersama kekeh yang mengiringi perkataan, “Entah kenapa, dari cerita kamu, Rio, juga Anna, aku malah berasumsi kalau karakter semacam Nia sepertinya bakal menganggap pernikahannya sama Rio gak lebih seperti proyek tugas kelompok sekolah. Cuma kita saja yang kayak terlalu overblown melihat kondisi mereka. Demi Tuhan, mereka masih anak-anak!”

Mama mendengkus dan terkekeh pelan. “Ya, you’re right …. Lebih dari itu, Rio dan Nia—juga Sandra—sangat peduli sama Anna. Aku harap mereka bisa terus berteman."

Aku menunduk. Apa yang kedua orangtuaku bahas itu seperti memberiku insight yang melegakan, sekaligus menenangkan.

Merasa telah cukup menguping, aku berpaling dan kembali melanjutkan langkah menuju kamar.

Di kamar, aku raih ponselku dan mendapati ada log panggilan tak terangkat, diikuti pesan dari Rio.

Rio : [Untuk apa yang terjadi hari ini, maafkan aku, Ann. Bila memungkinkan, aku ingin bicara.]

Setelah membaca pesan itu, mendadak ponselku berdering. Aku terperanjat dan hampir saja ponselku jatuh. Setelah aku lihat layar dan menemukan nama Rio tertera di sana, aku duduk di meja belajar. Aku menarik napas panjang sebelum membuka saluran telepon video.

“Hai …,” sapaku lirih, sambil memasang senyum—senyum yang sedikit kaku.

Aku lihat wajah Rio tersenyum. Senyum yang sedikit canggung, tapi dari sorot matanya aku bisa melihat ada semacam determinasi kalau dia menghubungiku dengan membawa sebuah misi yang tidak boleh gagal.

“Ann, atas apa yang terjadi hari ini, aku—”

“Tidak, Rio! Aku yang minta maaf,” potongku cepat. “Aku yang terlalu terbawa emosi. Seharusnya aku lebih bisa menahan diri, tapi … aku harap kamu mengerti kalau aku tidak ingin menyesali ini. Aku ingin kamu tahu perasaanku. Aku ingin kamu tahu kalau aku cinta kamu—aku tahu kamu tidak bisa menerima perasaanku, tapi aku harap kamu bisa bersabar terhadapku, karena untuk saat ini aku belum bisa berpaling darimu. Selama ini aku terlalu banyak invest waktu dan tenaga untuk menarik perhatian kamu. Maaf. Izinkan aku menyimpan perasaan ini lebih lama lagi ….”

Setelah mengucapkan itu, aku menarik napas panjang dan memberanikan diri menatap lekat Rio.

 Yang aku tatap tampak terpana, namun kemudian Rio menunduk dan berkata, “Ann …, aku cuma cowok sederhana …. Mustahil tidak akan jatuh cinta sama kamu kalau kamu perlakukan aku seperti ini. Tapi justru karena itu, aku sangat sadar kalau aku hanya akan memberimu sakit hati. Aku tidak mau itu, dan … aku juga tidak mau menyakiti Nia.”

Umm, tadi Papa sempat kasih nasihat, katanya, apapun pilihan yang aku ambil, sakit hati itu akan selalu ada, jadi sebaiknya aku menerimanya dan tumbuh bersamanya.”

Aku lihat Rio kembali terpana, namun kemudian dia mendadak salah tingkah, matanya bergerak-gerak seperti kesulitan untuk menatapku.

“Papa kamu … bilang apa saja?” tanyanya.

“Cuma kasih nasihat. Kenapa gitu? Apa ada yang perlu aku tahu? –Atau sebaliknya? Ada yang jangan sampai aku tahu?” Aku pasang senyum jahil.

“Gak ada. Cuma … jadi ingat, aku temui papa kamu masih pakai kostum pangeran. Rasanya jadi pengen dikubur hidup-hidup!” jawab Rio sambil kemudian menutup wajahnya dengan sebelah tangan, menahan malu yang sepertinya lumayan akut.

Aku tertawa sebentar dan cukup kencang. Ketika tawaku reda, aku lanjutkan dengan mendesah, “Yah, setidaknya kita sekarang setara. Aku juga saat ini sedang menahan malu … mengingat apa yang telah aku lakukan sama kamu di panggung ….”

Lihat selengkapnya