Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #52

Berganti Sudut Pandang! Literally!

Tes, tes ..., cek ..., apa ini sudah bisa dibaca?

Sori, eh ..., maaf, namaku Rio. Aku diminta Arianna untuk melanjutkan tulisannya, sebagai utang dari kesepakatan yang ... yang seharusnya aku tidak pernah menyepakatinya.

Tentu saja, untuk melanjutkan tulisan Anna, aku harus membacanya terlebih dahulu dan ... sepertinya Anna punya niat tersembunyi untuk membunuhku ..., karena apa yang dia tulis seperti rangkaian serangan jantung yang bertubi-tubi. Atau dengan ilustrasi lain, andaikan satu kata adalah sebutir gula pasir, satu bab saja bisa bikin aku diabetes!

Bagaimana Arianna bisa menuliskan semua ini tanpa merasa malu?

Aku mungkin tidak akan pernah mengerti Anna ..., seperti aku tidak mengerti apa yang gadis itu lihat dari aku. Sungguh, aku dibuat terjengkang seperti kena headshot waktu baca bau keringatku katanya menggugah! Kalau Nia mungkin akan memekik, "Ih! Bau Ketek! Yang jauh, Rio!" Memang belum pernah sih, tapi aku cukup tahu karakter Nia.

Anyhow, sebaiknya aku cepat-cepat penuhi kesepakatan ini dan semoga saja aku survive di titik terakhir nanti. Setidaknya Anna cuma memberi aku ruang satu bab, tidak banyak .... Hmmm, ini jadi semacam epilog, ya, Ann? Ah, whatever lah! Toh, nanti Anna bakal edit! (NOPE! Enggak! Aku pengen tulisan aslimu, Rio. peny.)

Sepertinya cukup adil kalau aku mulai dari kesepakatan yang aku dan Anna buat, kesepakatan yang berawal dari kekhawatiran aku akan eksistensi Nia di sekolah. Bagaimanapun, Anna gadis populer di sekolah, banyak yang suka dia, lalu ketika Anna jatuh di panggung saat drama dan berujung ... berujung tumpah ruahnya perasaan Anna kepadaku, aku cukup mengerti akan banyak yang bersimpati terhadap Anna, yang artinya, akan tumbuh antipati terhadap Nia yang dianggap rival Anna. Worst scenario, Nia akan dikucilkan di sekolah. Mungkin Nia tidak akan ambil pusing, tapi setelah usahanya sejauh ini menjadi sosok yang lebih mampu bersosialisasi, dinamika yang muncul berpotensi menghapuskan usaha itu. Aku tidak bisa membiarkannya. Oleh karena itu, aku meminta bantuan Anna. Thus, kesepakatan ini pun terbentuk. Hanya saja ....

Meski kesepakatan ini terbentuk, aku tidak tahu metode apa yang akan Anna tempuh, lepas dari tidak tahu juga—atau belum tahu—trade-off apa yang mesti aku bayar. Namun di keesokan harinya, ketika aku dapati Nia datang ke rumah di pagi hari dengan dalih pergi sekolah bareng, aku segera tahu kalau porsi Anna dalam kesepakatan ini sedang bergulir.

"Ada alasan yang lebih substansial kenapa kita pergi bareng hari ini?" tanyaku. Langkah kami baru saja melewati mulut gang, mengambil arah kiri menuju perempatan jalan sebelum kami akan menyeberang jalan.  

"Perlindungan," jawab Nia singkat, datar dan aku terjemahkan sebagai, "Kamu tidak perlu tahu!"

Aku menghela napas dan diam. Tetap diam hingga kami sampai di sekolah.

Ketika melewati gerbang sekolah, aku mulai merasakan gelagat tak baik. Waspada. Sesekali aku melirik Nia, tapi aku tidak mendapatkan isyarat apa-apa dari ekspresinya. Aku juga perhatikan sekitarku, memindai hal yang tidak wajar. Aku tidak menemukan apa-apa selain beberapa siswa yang melirik-lirik kami—ada juga beberapa siswi yang dilanjutkan dengan berbisik-bisik. Bisa aku duga konten bisik-bisik mereka adalah kami; aku, Nia dan Arianna.

Sepertinya ini lokasi yang tepat kalau Anna mau melakukan sesuatu, bisik batinku.

 Lalu langkah kami sampai di tengah halaman depan sekolah, di antara gerbang pagar dan gerbang gedung sekolah.

"RIO! NIA!"

Dan tirai panggung pun terbuka ….

Kami dengar suara Anna memanggil dari belakang. Aku berpaling, begitu juga Nia, dan Kami melihat Anna terengah-engah di gerbang pagar sekolah. Aku tidak tahu apa itu bagian dari rencananya atau kejadian ini organik, namun penggalan napas yang Anna presentasikan terkesan alami, seolah dia mengejar kami saat melihat aku dan Nia memasuki gerbang. Tapi sepertinya itu tidak penting, karena naluriku segera bersiaga saat melihat Anna mendekat dengan langkah tegas dan ... penuh tekad? Yah, aku pakai tanda tanya karena aku tidak tahu juga apa itu bagian dari plot Anna atau bukan. 

"Nia! Rio! Ada yang ingin aku bicarakan!” seru Anna setelah relatif dekat—tidak terlalu dekat karena ada jarak yang membuat Anna mesti bersuara lantang, yang pastinya akan terdengar tidak hanya oleh aku dan Nia.

“Ann?” ucap Nia, tampak heran tapi entah kenapa aku tahu itu cuma akting. Suaranya terdengar lebih kencang dari biasanya.

“Tolong dengarkan aku, Nia! Rio! Maafkan aku atas kejadian kemarin! Aku tahu seharusnya aku bisa menahan diri, tapi aku juga tidak ingin menyesalinya! Aku ingin kalian tahu sejatinya aku! Aku ingin kalian tahu kalau aku suka sama Rio! Aku cinta Rio! Tapi aku juga tidak ingin pertemanan kita berhenti! Kalian terlalu berharga! Nia, kamu teman berharga bagiku! Dan … ini terdengar lancang tapi aku saat ini masih tidak bisa berpaling dari Rio …, aku terlalu banyak invest waktu dan tenaga bisa sedekat ini dengan Rio …. Maafkan aku. Aku harap kalian bisa bersabar terhadapku. Saat ini aku tidak bisa memungkiri perasaanku ….”

Aku cukup dibuat terpana oleh Anna. Konten perkataannya memang membuatku malu, tapi kesadaran kalau ini bagian dari plot Anna seperti mereduksi perasaan malu itu. Namun, yang membuatku terpana adalah aku tidak bisa membedakan antara akting demi tereksekusinya sebuah plot atau ketulusan hati seorang Arianna. Perasaan terpanaku terusik oleh Nia yang mengayunkan satu langkah mendekati Anna.

“Ann, kamu tahu enggak soal Prinsip Ketidakpastian Heisenberg?” tanya Nia tiba-tiba, yang seketika mendapat tatapan heran Anna. Tapi Nia sepertinya tidak menunggu Anna untuk menjawabnya, karena dia melanjutkan, “Katanya sih, ketika kita mengukur posisi suatu patikel subatomik, maka kita tidak bisa memastikan momentumnya—baik arah dan kecepatannya. Begitu juga sebaliknya, ketika mengukur momentumnya, kita gak bisa memastikan posisinya. Tapi prinsipnya, ketika kita mengukur sesuatu itu artinya kita sedang menerawang masa depan sesuati itu, `kan? Dan yang bisa diandalkan dari masa depan adalah ketidakpastiannya. Ummm, begitu juga dengan kita …. Kita masih SMA, Ann, umm …, kita tidak tahu bentuk masa depan kita. Tapi untuk sekarang, aku tahu perasaan kamu sama Rio itu nyata dan pasti, aku juga tahu perasaanku … hasratku untuk tetap berteman sama kamu juga nyata dan pasti …. Umm, aku juga tahu saat ini aku tidak ingin berpisah dari Rio … dan itu nyata. Jadi, sebagaimana aku tidak bisa menyangkal itu, aku juga tidak bisa menyangkal perasaan kamu. Jadi untuk saat ini ….”

Aku lihat Nia melangkah lebih dekat ke Anna dan meraih sebelah tangannya.

“Kita sama-sama saja melangkah ke masa depan, ya? Umm, masa depan itu serba tidak pasti, `kan? Bahkan aku sendiri gak bisa menjamin besok aku masih ada atau enggak.”

“Ni-Nia!” Aku hendak protes tapi segera dipotong Nia.

Nia berpaling kepadaku sambil berkata, “Kamu juga, Rio! Kamu juga gak bisa menjamin besok kamu masih ada, `kan?”

Lihat selengkapnya