Bukan Pacaran Biasa

DMRamdhan
Chapter #53

Sudut Pandang Lainnya

Hai, namaku Siti Kania. Panggil saja aku Nia.

Aku diminta Anna menambahkan satu bab untuk memoarnya—eh, ini disebut memoar, `kan, Ann? Bukan biografi? Soalnya cuma kisah sebagian hidup kamu, `kan?  

Tapi aku belum selesai membaca semuanya sih. Bukan aku tidak mau, tapi … aku tidak bisa.

Ya, aku tidak bisa ....

Mungkin ilustrasinya seperti berikut ini.

Coba bayangkan kamu tempatkan dua cermin saling berhadapan, maka apa yang terjadi? Kedua cermin itu saling memantulkan bayangan masing-masing, `kan? Membentuk rangkaian bayangan tak terbatas. Bagitu pula saat aku membaca cerita Anna. Karena aku ada di dalamnya, alih-alih mengikuti alur cerita Anna, aku … malah mereka-reka skenario apa yang bakal terjadi kalau opsi lain yang aku pilih—karena bagaimanapun, aku yang di dalam cerita Anna, juga punya banyak pilihan-pilihan tindakan yang bisa mengubah alur kisah Anna.

Jadi, bagaimana kalau opsi lain yang aku pilih?

Oleh karena itu, aku tidak akan selesai-selesai membacanya. Lama-lama aku bisa terjebak loop imajiner yang membayangkan realita lain dari cerita Anna, seperti bayangan tak terbatas cermin ganda itu. Mendapati dilemaku, Anna malah kasih deadline—yang sebenarrnya tidak banyak membantu, Ann! Iih!

Kemudian Rio kasih saran supaya jangan dibaca dulu, tapi tuliskan saja apa yang aku alami sejak hari pembagian rapor dan aku pikir itu cukup reasonable. Dan itu yang akan aku lakukan (meski sesekali aku baca juga beberapa bab Anna secara melompat-lompat dan Rio memperingatkan aku supaya fokus, soalnya aku punya tendensi melantur yang sulit dihentikan).

Tapi mungkin aku perlu juga menceritakan malam di hari sebelumnya, ya? Malam setelah tampilan drama itu, Anna menghubungi dan mengutarakan perasaan cemasnya akan Rio. Anna punya anggapan dengan … apa yang terjadi … setelah tampilan drama itu, Rio akan dirundung teman-teman cowok sesekolah. Cukup masuk akal. Meski setelah aku baca contoh tulisan Rio buat memoar Anna ini, aku jadi tahu kalau inisiatif itu berasal dari Rio yang mencemaskan aku, tapi karena waktu itu aku belum tahu, jadi aku ikuti arahan Anna. Tapi bagaimana kalau seandainya aku tahu? Kekhawatiran Rio memang masuk akal; usahaku selama ini akan sia-sia kalau saja kekhawatiran Rio menjadi realita. Jadi wajarnya aku akan ambil langkah—selain memanfaatkan manuver Anna—mengidentifikasi arah ancaman. Cukup sederhana, sebenarnya, tinggal perhatikan siapa saja yang akan mendekati Anna dan menunjukkan simpati yang berlebihan—kemungkinan dari anak-anak kelas sepuluh, ya? Kalau dipersempit lagi, kemungkinan anak-anak teater. (—Awww!)

Maaf, maaf! Aku jadi melantur! Baru saja Bi Alya cubit aku setelah mengintip apa yang aku tulis. Sepertinya Bi Alya melihatku seperti mengalami semacam trance, atau juga memperhatikan laju jariku yang semakin cepat. Ya, aku menulis ini dekat Bi Alya, soalnya akan lebih mudah kalau di dekatku ada bantuan professional. Ah, sudahlah! Kembali ke topik utama!

Apa yang Rio ceritakan di bab sebelum tulisan aku ini, sepertinya cukup mewakili hasil dari manuver Anna, meski impact-nya tidak begitu terasa—atau seharusnya tidak terasa? Karena, jika terasa, malah manuver Anna bisa disebut gagal, ya, `kan? Tapi bagaimanapun, apapun result dari manuver Anna, satu hal yang pasti, hubunganku dengan Rio telah menjadi rahasia umum di sekolah, maka sudah seharusnya kami akan menghadapi efeknya. Hanya saja ..., aku belum merasa siap saat Bu Maya mendekatiku dan memintaku supaya saat dibagi rapor keesokan harinya, aku dan orang tuaku jangan dulu pulang.

"Ada yang ingin Ibu bicarakan," begitu kata beliau.

Benakku yang telah berasumsi segera berniat menghubungi Rio, tapi sebelum aku sempat menulis pesan di ponselku, Rio telah mendatangiku. Rio ternyata telah lebih dulu didatangi Kepala Sekolah dan memintanya bertemu dengan Bah Yudin di keesokan harinya. Seperti aku, Rio juga punya asumsi yang sama.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanyaku. Perasaan aprehensif membayangi benakku.

Saat itu Rio membawaku ke taman di sudut lapangan, taman yang dideskripsikan Anna di bab pertama. Suasana tidak sepi, sebenarnya, tapi teman-teman yang sempat melihat kami berduaan di bawah pohon segera tampak sungkan dan segera menjauh. Aku duduk di bangku baja di bawah pohon akasia sementara Rio berdiri menghadapku sambil mengantungi kedua tangannya di saku sweaternya. Dia tampak berpikir, tapi pembawaannya tampak tenang, tidak kalut sepertiku.

"Aku pikir saatnya presentasikan proposalku waktu aku approach bapak kamu," jawab Rio.

"Ta-ta-tapi a-a-apa itu ... aman?" Aku tambah panik.

"Aku pikir aman. Kita tidak melakukan hal yang salah atau immoral, tapi aku juga mengerti kekhawatiran pihak sekolah. Apa yang kita lakukan bisa membangun trend ke teman-teman yang lain, tanpa ada arahan dan kendali."

Aku jadi termenung. Apa yang Rio katakan cukup masuk akal. 

"Lalu kamu punya rencana?"

"Kita sebenarnya pernah membahasnya. Soal simulasi rumah tangga. Kita bisa beri ide ke pihak sekolah untuk membentuk semacam ekstrakurikuler pendidikan rumah tangga," jawab Rio. Untuk menaruh jawaban Rio ini pada konteksnya, selama aku dekat Rio, diskusi adalah menu interaksi harian kami dan bahan diskusi yang sering kami bahas, salah satunya, adalah peran sekolah dalam memberi referensi terbentuknya keluarga ideal sebagai unit terkecil bangsa. Diskusi tipikal anak-anak nerd, ya?

"Dan kita sebagai bentuk percontohan?" komentarku. Benakku sepertinya mulai hectic. Ide-ide tambahan mulai bermunculan.

"Kenapa? Kamu punya ide?" tanya Rio, seperti membaca pikiranku.

Aku hendak menjawab, tapi tidak jadi karena ....

Lihat selengkapnya