Let us never negotiate out of fear, but let us never fear to negotiate.
Begitu kata John F. Kennedy.
Janganlah kita bernegosiasi berlandaskan rasa takut, tapi jangan pula kita takut bernegosiasi.
Sepertinya aku tidak bisa mengatakan kondisiku selaras dengan kutipan itu saat kami mendatangi Ruang Kepala Sekolah. Sedikit kontradiktif, malah, karena apa yang aku rasakan di Ruang Kepala Sekolah itu adalah takut—atau gugup lebih tepatnya. (Maaf, sepertinya aku juga kesulitan menata emosi untuk memulai bab ini. Sedikit overwhelmed. Bi Alya kasih saran supaya aku memulainya dengan deskripsi, entah itu tempat atau orang. Dan sepertinya itu yang akan aku lakukan!)
Ruang Kepala Sekolah itu sendiri bisa aku sebut tipikal. Setidaknya berdasarkan pengalamanku sejak SD sampai SMP yang cukup sering dipanggil Kepala Sekolah—bukan karena aku murid bermasalah, ya! Biasanya di sana aku dibujuk untuk mengikuti event seperti Olimpiade Sains atau Matematika—yang seringnya aku tolak, malah ketika desakan mereka aku turuti, aku tidak bisa mengerjakan sama sekali—Ummm, kembali ke deskripsi Ruang Kepala Sekolah ini, ruang yang terdapat meja kerja besar di ujung ruangan, berseberangan dengan pintu masuk, juga berlatar jendela besar yang menjadi sumber pencahayaan di siang ini. Di antara meja kerja dan pintu masuk terdapat meja tamu yang diapit dua sofa panjang—aku duduk di samping Rio, dan kami diapit Ummi dan Bah Yudin. Mirip pasangan pengantin sebenarnya, tapi saat itu aku tidak bisa merasakan sensasi seperti itu. telapak tanganku terasa dingin dan berkeringat.
Sementara itu, Bapak Kepala Sekolah dan Bu Maya duduk di seberang kami. Terkesan sebagai opponent. Sebagai lawan. Padahal tidak sama sekali.
Kepala Sekolah kami bernama Anwar Soedjadji. Ya, dengan ejaan kuno yang dibaca Sujaji—sepertinya nama leluhur atau … nama klan, mungkin? Perawakannya kurus namun tegap dan binar matanya tampak lembut dan bijak. Rambut di kepala beliau telah memutih semua, namun kulit wajahnya yang masih kencang membuat aku beranggapan rambut putihnya itu akibat otak beliau terlalu encer hingga melunturi rambutnya (Canda, Pak! Maaf! Umm, kalau mau menyalahkan, salahkan Rio! Itu lelucon Rio!).
Anyway, beliau tampak ramah dan menyambut kami saat kami datang. Beliau memimpin ramah tamah yang aku sendiri tidak ingat bagaimana pendekatan beliau karena saat itu benakku berkabut oleh rasa gugup. Bahkan … ingatanku terasa samar bagaimana bahasan awal soal aku dan Rio dimulai karena aku hanya bisa bereaksi saat melihat Rio mengeluarkan lembaran presentasi dari tasnya.
“Memamg bila ditilik dari ruang lingkup yang hanya meliputi saya dan Nia, maka yang tampak hanya kami sebagai pasangan yang menikah terlalu dini, dan bila didorong ke perspektif yang lebih luas, maka saya juga mengerti kalau apa yang kami lakukan bisa membangun trend tidak wajar di antara rekan-rekan siswa—lebih-lebih Nia sebagai top-scorer ujian angkatan kami bisa menjadi ... semacam pembenaran untuk pernikahan dini. Namun, bila mesti didorong menuju ruang lingkup yang lebih luas lagi—dan seharusnya demikian—maka izinkan saya menjelaskannya dengan cara lain yang menurut saya lebih komprehensif,” jelas Rio sambil menggenggam lembaran folder yang berisi materi presentasinya. Ketika dia hendak berdiri, aku menahannya.
“Tunggu, Rio!” seruku sambil menarik sweaternya.
Rio tampak heran dan sorot matanya seperti menuntut aku untuk menjelaskan tindakanku.
Namun seperti aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, aku segera berdiri dan menghampiri pintu.
“Ada apa, Nia?” tanya Ummi, heran dan sedikit gusar dengan tingkahku.
Aku tidak menggubrisnya dan langsung membuka pintu. Di luar telah menunggu Anna beserta mama-papanya, juga Sandra dan ibunya, lalu Bu Siti Sa’adah sebagai walikelasku dan Bu Rani sebagai walikelas Rio. Aku langsung mempersilahkan mereka masuk.
“Apa artinya ini, Nia?”tanya Bu Maya, heran dan ada sedikit gugup dari suaranya. Aku cukup mengerti dari mana perasaan gugup beliau; beliau berharap pembicaraan di dalam Ruang Kepala Sekolah ini tertutup dan hanya mencakup pihak yang berkepentingan saja. Seolah … ikatan antara aku dan Rio adalah aib. Stigma yang aku dan Rio hendak luruskan.
“Ummm, saya pikir, penjelasan Rio akan lebih komprhensif, kalau mendapat insight dari sudut pandang lain,” jelasku yang seketika mendapat dengkus dan tawa lembut dari Pak Anwar.
“Sepertinya ini akan menarik. Kalau begitu, Rio, karena audiens-nya bertambah, bisa kamu bawakan kursi tambahan dari perpustakaan?” kata Pak Anwar.
“Baik, Pak,” jawab Rio yang kemudian berpaling kepadaku dan memintaku membagikan lembaran materi presentasinya. Anna dan Sandra juga membantuku membagikannya.
“Abah bantu kamu, Rio,” kata Bah Yudin sambil beranjak.
“Kalau begitu saya juga,” kata papanya Anna, yang ketika Bah Yudin mendekat, papanya Anna menjabat tangan Bah Yudin sambil menyapa, “Sehat, Bah?”
Setelah tiga laki-laki beda generasi itu meninggalkan ruangan, aku dan Anna membagikan folder berisi belasan halaman kertas A4. Ketika membagikannya, orang-orang dewasa itu saling menyapa satu sama lain, mengakrabkan diri dan mencairkan suasana tegang Ruang Kepala Sekolah—atau cuma aku saja yang tegang?
“Kamu tegang, ya?” bisik Anna setelah kami membagikan folder-folder itu dan duduk di sampingku di tengah sofa panjang. Anna pegang tanganku dan tangannya terasa hangat.