Sungguh aku kaget waktu Nia yang awalnya duduk manis di sampingku, tiba-tiba berdiri sambil berkata, “Untuk mekanisme klub ekstarkurikuler itu sendiri, kami susun menjadi dua lapisan.”
Oh! Hai, Anna di sini! Aku kembali!
Hehe. Maaf, ujug-ujug balik lagi.
Tapi aku senang membaca insight mereka. Rio dan Nia. Meski sedikit kecewa sama Rio yang sepertinya enggan memaparkan presentasinya sama Kepala Sekolah—seperti yang terburu-buru ingin menyelesaikan porsi kesepakatannya. Berbeda dengan Nia yang tampak berhasrat ingin mengutarakan banyak hal namun pada akhirnya stamina mentalnya kelelahan; kelelahan yang membuat Nia terlalu terintimidasi; merasa tertuntut untuk mengakhiri dengan kesimpulan yang menyeluruh dan utuh melingkupi segala aspek dari tema memoar yang aku ajukan ini (Duh, aku mulai tertular kalian, kayaknya. Nia! Rio! Kalian mesti tanggung jawab! Terutama Rio!)
(Justru sebaliknya, Ann. Coba lihat narasi aku sama Rio. Kayaknya niru gaya kamu, deh.)
(Oh? Terus aku yang mesti tanggung jawab, gitu? Nih, kamu terusin lagi gih memoarku kalo gitu! Sampai tamat!)
(Oh, ti-tidak. Maaf, Ann. Si-silakan lanjutkan. Ummm, aku akan diam.)
Anyway, lepas dari perasaan terkejutku melihat Nia tiba-tiba mengambil alih presentasi Rio, aku sadar Nia melakukannya atas inisiatif sendiri karena aku lihat Rio pun sama terkejutnya denganku. Memang di hari sebelumnya aku sempat melihat Nia dan Rio melakukan briefing soal bagaimana penyampaian presentasinya, dan apa yang dilakukan Nia adalah di luar briefing itu. Mungkin … alih-alih mengambil alih presentasi Rio, menyabotase sepertinya lebih tepat.
“Dua lapisan kegiatan,” begitu kata Nia sambil mengacungkan dua jarinya dan melanjutkan, “Referensi dan Simulasi.”
Aku lihat sebelah tangan Nia turun dan mengepal. Aku mulai curiga kalau pertahanan mentalnya melemah, namun aku juga masih bisa merasakan tekadnya.
“Lapisan Referensi itu sendiri terbagi dua kategori yang bersifat dua arah—umm, maksudnya, referensi berupa bekal informasi bagi anggota klub, dan kategori lainnya berupa data bagi klub—juga pihak sekolah—yang bisa menjadi acuan analisa mengenai demografi kehidupan sosial remaja di sekolah ini. Yang kemudian, kedua kategori tersebut bisa bersinergi dan bersimbiosis. Saling feeding data sebagai bahan diskusi dan meramu solusi juga umm ….”
Aku seperti membaca gelagat panik dari sorot mata Nia. Nia mungkin menguasai materinya, tapi tanpa latihan dan rehearsal, Nia mustahil menyampaikannya dengan baik. Nia pikir, setelah berhasil memerankan Cindy di drama kemarin, dia bisa melakukan presentasi hanya bermodalkan nekat. Ketika aku melihat gelagat Rio yang hendak mengambil alih kembali presentasinya, aku segera mengangkat tangan.
“Maaf, Nia, aku kurang mengerti. Apa bisa memakai contoh, mungkin?” tanyaku.
Nia berpaling cepat kepadaku. Ada panik dari gerak tubuhnya. Dia menatapku dan aku membalas tatapannya seraya memasang senyum lembut. Tak lebih dari setengah detik aku menatap matanya, lalu aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Nia seperti tercenung sesaat dan segera menangkap maksudku. Kemudian dia meniruku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Contohnya mungkin kamu, Ann,” kata Nia setelah mengambil napas. “Ummm, setelah tampilan drama selumbari lalu, kamu mengalami patah hati, `kan?”
Seketika aku tercekat, tidak menduga akan pernyataan Nia. Kali ini aku yang mendadak panik.
“A-apa hubunganya? Sekarang aku tidak patah hati lagi!” jawabku sambil membuang muka ke sana kemari. Sempat juga melirik Rio dan dia ikut tersipu sambil berpaling.
“Karena kamu sudah mendapatkan semacam resolusi untuk mengatasinya. Itu bisa jadi referensi, bukan?” tanggap Nia.
“Oh, Ibu mengerti sekarang,” gumam Bu Maya, nyaris tak terdengar, sambil termenung memangku dagunya dengan sebelah tangan. Tatapan beliau tampak menerawang.
Aku juga mulai mengerti maksud Nia. Nia menginginkan klub ekstrakurikuler yang mau ia dan Rio rintis juga tidak hanya sebagai pendidikan rumah tangga, melainkan juga sebagai wadah rehabilitasi para penyintas patah hati.
“Meski dengan variabel yang berbeda, saya yakin ada teman-teman lain yang juga mengalami patah hati dan mungkin tidak bisa resolve secepat Anna.”
“Ta-tapi aku tidak bisa mengklaim resolusiku permanen, Nia,” sanggahku.
“Tidak ada yang permanen sepertinya, Ann. Malah itu juga menjadi alasan kita perlu klub ekskul ini, umm, untuk mengumpulkan referensi, juga membantu mereka yang kesulitan menghadapi patah hati. Inilah yang saya maksud bersinergi dan bersimbiosis itu. Umm, saling membantu dan tumbuh bersama …. Tapi itu satu dari banyak aspek. Aspek yang lebih penting, seperti kata Rio, klub ini juga bertujuan menanamkan kesadaran soal progeny, dan ini juga memiliki dua arah. Satu arah tertuju pada kesadaran akan potensi munculnya generasi baru di masa depan, sementara arah yang lainnya adalah kesadaran kalau setiap kita membawa jatidiri, cinta dan kepercayaan orang tua kita.”
Mendengar penjelasan Nia itu membuatku tercenung dan tanpa kusadari aku menoleh ke arah Mama dan Papa. Mama dan Papa juga melirikku dan tersenyum lembut, seolah memang kami terpaut satu hati, memberiku desir hangat ke dalam dada yang menyimpulkan betapa terberkatinya aku memiliki orang tua seperti mereka. Dan … di luar sana ada yang tidak seberuntung aku …. Seperti Rio, mungkin?
“Membangun awareness, ya?” gumam Pak Anwar manggut-manggut sambil melipat lengannya di dada. “Tapi apakah akan lebih baik dan kuat posisinya kalau apa yang kalian presentasikan ini disatukan ke dalam ruang lingkup pelajaran Bimbingan dan Konseling? Bukan begitu, Bu Maya?”