Beberapa tahun kemudian ….
Aku berdiri di salah satu sisi taman kota. Taman yang dikelilingi pohon rindang sementara di tengahnya terdapat lapangan rumput yang cukup luas. Ada banyak orang di lapangan itu, tapi lebih banyak lagi di sebelah kanan taman di mana terdapat wahana sederhana permainan anak-anak—ayunan, perosotan dan semacamnya. Agak jauh di sebelah kiri taman terdapat lapangan basket, terkesan terpisah dari taman tapi sebenarnya masih termasuk kawasan taman kota dan di sana juga cukup ramai, didominasi para remaja. Rio sepertinya sempat tertarik memperhatikan lapangan basket itu, tapi perhatiannya kembali ke lapangan rumput di tengah taman, khususnya pada sosok pria tegap yang sepertinya mulai memasuki usia senja. Aku juga melihatnya, beliau sedang bermain gelembung sabun dengan seorang bocah perempuan yang bisa aku duga adalah cucunya.
“Kamu yakin soal ini, Rio?” tanyaku.
“Yah, ini babak terakhir, `kan? Lets get this over with,” jawab Rio, mendesah. Lalu dia melangkah, mendekati sosok kakek dan cucunya itu.
Aku mengikutinya dari belakang, terpaut beda satu langkah.
Si bocah tampak lucu, memakai kerudung kuning dengan overall jeans dan kaus lengan panjang warna putih. Dia berlarian mengejar gelembung-gelembung sabun yang ditiup kakeknya. Tentu saja dia juga diperhatikan oleh sang kakek, dan ketika arah langkah ceria bocah itu selaras dengan kedatangan kami, sang kakek melihat kami mendekat. Lalu kakek itu memanggil cucunya dan memintanya untuk kembali ke keluarganya. Bocah itu menurut dan berlari ke sisi kanan taman, ke sebuah bangku taman yang ditempati sebuah keluarga kecil—sepertinya mereka sedang piknik.
“Permisi, Pak. Selamat pagi,” sapa Rio setelah dekat dengan kakek itu, terdengar ramah.
“Ri-Rio?” gumam si kakek, terkesan untuk dirinya sendiri.
“Benar, Pak. Alhamdulillah Bapak masih mengenal saya. Perkenalkan, ini istri saya.” Rio berpaling ke arahku, memberiku isyarat untuk melangkah maju, mendekati kakek itu.
“Saya Arianna, Pak. Salam kenal,” ucapku sambil mengulurkan tangan dan dia menjabatnya. Sikapnya jelas terasa canggung.
“Tenang saja, Pak, kami datang hanya untuk menyapa saja, dan …,” kalimat Rio terhenti, aku melirik wajahnya dan tampak seperti ada konflik di sorot matanya. Dia sempat menunduk.
Aku raih punggungnya dengan sebelah tangan dan mengusap-usapnya. Seolah mendapatkan kembali tenaga dari usapanku, Rio kembali menengadah.
“Saya hanya ingin mengatakan, saya baik-baik saja, Pak. Bapak tidak perlu mencemaskan saya,” ucap Rio.
Aku lihat wajah kakek itu mendadak menekuk sedih.
“Maafkan Ayah, Rio …,” ucapnya lirih, terdengar parau dan terhimpit.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma ingin … merapikan sesuatu yang tertinggal umm, supaya bisa move on,” tanggap Rio sambil menjulurkan tangan, meminta kakek itu menjabatnya.
Hanya saja sang kakek sepertinya tidak puas hanya dengan jabatan tangan. Beliau merengkuh Rio.
“Sungguh tidak ada alasan bagi Ayah untuk menelantarkan kamu …,” ucap beliau.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti, Bapak pasti punya kondisi tertentu yang memaksa Bapak. Sekarang, bisa Bapak lihat sendiri, saya baik-baik saja. Malah sangat baik! Lihat saja, saya punya istri yang sangat cantik, bukan?”
Aku cemberut.
Si kakek itu melepas rangkulannya dan tertawa. “Ya, kamu benar. Kamu punya istri yang sangat cantik.”
Aku masih cemberut. Aku cemberut karena kecewa dengan Rio. Rio ternyata keras kepala juga. Kalau saja dia memakai kata “Ayah”, daripada “Bapak”, dampak emosi yang dihasilkan akan jauh lebih baik, baik bagi Rio juga ayahnya itu. Urusan ini akan jauh terasa lebih tuntas.
“Mari, Rio, Ayah kenalkan dengan anakku—bagaimanapun dia adik—”
“Sebaiknya jangan, Pak. Sebaiknya kita jangan sampai ada komplikasi yang berlebih,” potong Rio, menolak ajakan ayahnya sendiri.
“Baiklah kalau begitu,” tanggap kakek itu, terdengar sedikit kecewa, tapi juga ada perasaan lega.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Selamat Pagi.” Rio ulurkan jabat tangan perpisahan.
Setelah mereka berjabat tangan, aku dan Rio memutar langkah, kembali ke sisi taman. Hanya perlu dua langkah untuk aku bisa merangkul lengan Rio.