"Aneysia Mahira. Nilai sempurna lagi, seratus. Silakan diambil kertas ujiannya."
Suara Bu Sinta memecah keheningan kelas XI IPA 1, disusul oleh desah malas serta gumaman iri dari bangku paling belakang. Bagi seisi kelas, pemandangan itu sudah biasa terjadi. Rutinitas yang sangat membosankan bagi kelas XI IPA 1. Aneysia selalu mendapat nilai tertinggi. Aneysia selalu menempatkan dirinya di tempat teratas.
Aneysia menarik napas perlahan, menahan ringisan yang nyaris lolos dari bibirnya yang pucat saat dia mulai menegakkan punggungnya. Sebelum berdiri, tangan kanannya bergerak cepat membenarkan rok abu-abunya, menurunkannya serendah mungkin hingga melewati lutut. Dia harus memastikan rok itu dapat menyembunyikan memar keunguan di betis sebelah kirinya, yang berasal dari pukulan kayu yang dipukulkan oleh ayahnya tadi malam.
Aneysia akhirnya melangkah maju. Kakinya diseret sehalus mungkin agar tidak ada yang menyadari bahwa dia sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Pertahankan terus ya, Ney. Kamu sudah dipersiapkan oleh sekolah untuk olimpiade bulan depan," bisik Bu Sinta dengan bangga seraya menyerahkan lembar kertas putih itu.
Aneysia hanya tersenyum tipis. Matanya menatap ke sudut kanan atas kertas itu, angka 100 tertulis besar dengan tinta berwarna merah. Nilai yang sangat sempurna. Sebuah pencapaian yang bagi anak lain akan mendapatkan sebuah pelukan hangat atau bahkan sebuah hadiah dari keluarganya.
Namun, saat memandangi angka merah itu, isi kepalanya langsung memutar memori suara ibunya dari subuh tadi. "Mau jadi apa kamu belajar terus?! Mau pamer kalau diri kamu lebih beruntung daripada ibu? Dasar anak bodoh tidak tahu diri, cuma bisa bikin sial saya!"
Aneysia membalik kertas ujiannya agar angka 100 itu menghadap kebawah, lalu berjalan kembali ke tempat duduknya.
Begitu bokongnya menyentuh kursi kayu yang keras, rasa ngilu kembali menjalar ke pinggangnya. Aneysia meletakkan kertas ujiannya dengan posisi terbalik, menyembunyikan angka 100 itu dari pandangannya.
Belum sempat dia merapikan letak duduknya, sebuah senggolan kasar mendarat di bahu kirinya.
"Heh, Ney."
Suara yang Aneysia paling tidak ingin mendengarnya. Rachel Amanda, anak perempuan berambut panjang dengan aroma parfum vanila yang menyengat, sudah membalikkan badan dari bangku depan Aneysia. Di tangannya, ada sebuah buku tulis bersampul cokelat yang langsung dilemparkan ke meja Aneysia, tepat di atas kertas ujiannya yang terbalik.
"Tugas kimia Pak Dani buat besok. Tiga puluh soal esai," ucap Rachel dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Terasa seperti atasan yang sedang memberi perintah kepada bawahannya. "Gue ada janji ke salon sepulang sekolah, nggak bakal sempat ngerjain ginian."
Aneysia menatap buku cokelat itu dengan tatapan yang datar. Dia tidak terkejut, namun tidak juga marah.
"Dua puluh ribu," sahut Aneysia lirih. Nyaris berbisik agar tidak terdengar sampai ke meja guru.
"Gila ya, lo? Kemarin tugas matematika cuma lima belas ribu!" ujar Rachel hingga temannya yang duduk di sebelahnya ikut menoleh dengan tatapan sinis.
"Kimia perlu coret-coretan rumus, bukan cuma hitungan dasar doang," jawab Aneysia dengan tenang. Dia menatap mata Rachel. "Dua puluh ribu. Kalau gak mau, kerjain aja sendiri."
Rachel mendengus kesal, bola matanya memutar malas. Dia tahu betul bahwa dia tidak punya pilihan. Otaknya tidak akan mampu mengerjakan soal-soal yang rumit itu, dan dia terlalu gengsi jika besok harus berdiri di depan kelas hanya karena tidak mengerjakan tugas.
Rachel merogoh saku roknya dengan kasar, menarik selembar uang dua puluh ribu yang sudah lecek dan melemparkannya ke dada Aneysia.
"Nih! awas ya kalau ada yang salah. Lo tahu sendiri kan konsekuensinya kalau nilai gue jelek gara-gara lo?" ancam Rachel dengan mata menyipit mengintimidasi.
Aneysia tidak menjawab. Tangan kanannya yang sedikit gemetar dengan cepat memasukkan uang ke dalam saku seragamnya. Tapi bagi Aneysia, selembar uang dua puluh ribu ini sangat berarti untuknya. Dia bisa membeli air mineral dan nasi bungkus di warung nasi dekat rumah. Itu adalah caranya bertahan hidup, karena di rumah tidak pernah ada makanan.
Dari bangku paling belakang, terdengar tawa dari beberapa murid laki-laki. Mereka melihat transaksi yang terjadi tadi, tapi tidak ada yang membela Aneysia. Bagi mereka, Aneysia Mahira hanyalah 'mesin joki' yang murah dan bisa diandalkan. Juara kelas yang tidak mempunyai harga diri.
Aneysia menarik buku tugas Rachel memasukannya ke dalam tas sekolahnya yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut. Bu Sinta sudah mulai menuliskan materi baru di papan tulis. Aneysia kembali mencatat materi itu.
Kringgg!
Bel panjang yang menandakan jam sekolah telah selesai dengan bunyi yang sangat nyaring. Dalam sekejap, suasana XI IPA 1 berubah menjadi riuh. Langkah kaki yang tergesa-gesa, tawa lepas, dan obrolan tentang rencana pergi ke kafe atau mampir ke mal langsung memenuhi koridor sekolah. Sekolah berubah menjadi tempat yang sangat membahagiakan bagi semua orang, kecuali Aneysia.