Bukan Rumah Aneysia

Thazaprilia
Chapter #2

Bab 2: Mimpi Besar

Aneysia terbangun saat cahaya fajar baru samar-samar menembus celah ventilasi kamarnya. Ketika dia mencoba menegakkan punggung, ranjang besi tua mengeluarkan derit panjang, seolah ikut merintih merasakan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh gadis itu. Punggungnya yang membentur lemari semalam kini telah berubah menjadi memar biru kehitaman. Pipi kirinya bengkak, dan sudut bibirnya terasa perih dan kering saat ia mencoba membuka mulut.

Dia menatap cermin kecil yang retak di sudut meja belajarnya. Wajah di dalam cermin itu tampak begitu pucat, dengan mata sembap menyiratkan kelelahan yang terlalu sulit diutarakan.

Dengan tangan gemetar, Aneysia meraih bedak tabur murah milik Ibunya yang sempat tertinggal di kamar mandi tempo hari. Dia menepuk-nepukannya ke pipi kirinya secara perlahan, mencoba menyamarkan warna lebam di wajahnya sesempurna mungkin. Dia juga membiarkan rambut hitam panjangnya terurai ke depan, menutupi sisi kiri wajahnya agar terhindar dari tatapan penuh tanya di sekolah nanti.

Sebelum keluar kamar, Aneysia memastikan empat buku tugas milik teman-temannya sudah rapi di dalam tas ransel.

Rumahnya hening saat dia melangkah keluar. Ayahnya pingsan karena mabuk di ruang tengah, sementara ibunya belum juga pulang sejak pergi kemarin sore. Bau alkohol dan asap rokok masih pekat tertinggal, mengendap di sela-sela dinding rumah yang lembap. Tanpa sarapan, bahkan tanpa seteguk air, Aneysia mengunci pintu rumah dan mulai berjalan menuju sekolah.

Langkah kakinya terasa lebih berat dari kemarin. Setiap gesekan seragam dengan kulitnya yang memar memicu rasa ngilu yang membuat napasnya tertahan. Namun, begitu dia melintasi gerbang sekolah, Aneysia langsung menegakkan tubuhnya.

"Ney! Tugas-tugas yang lain mana?"

Suara cempreng Rachel langsung menyambutnya begitu Aneysia baru saja meletakkan ranselnya di bangku kelas. Rachel berdiri di hadapannya bersama dua orang temannya, melipat tangan di dada dengan tatapan mengintimidasi.

Aneysia tidak langsung menjawab. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan tiga buku tugas milik teman-teman Rachel yang dia kerjakan semalaman suntuk di atas meja belajar tuanya hingga jemarinya mati rasa. Dia meletakkannya di atas meja. "Tugas Matematika dan Fisika. Semuanya sudah selesai."

Salah satu teman Rachel, seorang siswi berambut pendek bernama Katya. Langsung menyambar buku tugasnya. Dia membolak-balik halamannya sekilas, lalu tersenyum puas saat melihat deretan rumus yang tertata rapi. Namun, bukannya memberikan uang yang dijanjikan, Katya melirik Rachel sambil melempar pandangan meremehkan.

Katya merogoh dompet miliknya, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah dan melemparkannya ke meja Aneysia. Padahal perjanjian awalnya adalah lima belas ribu per buku.

Aneysia menatap uang sepuluh ribu itu, lalu menatap Katya. "Perjanjiannya lima belas ribu per buku, Kat. Total untuk tiga buku ini harusnya empat puluh lima ribu."

Katya tertawa sinis, melirik teman-temannya. "Dih, nagih? Lo kemarin kan udah dapet dua puluh ribu cash dari Rachel. Serakah banget sih lo jadi orang? Lo harusnya bersyukur ya, Ney. Kita masih kasih lo duit tambahan. Kalau bukan karena kita yang kasihan sama orang miskin kayak lo, lo nggak akan bisa jajan di kantin!"

"Lagian," Rachel ikut menimpali, memajukan wajahnya ke arah Aneysia hingga Aneysia bisa mencium aroma parfum vanila yang menyengat. "Gue denger dari anak kelas sebelah, tarif joki di luar sana malah lebih murah. Anggap aja ini potongan harga karena tulisan lo di beberapa halaman kurang rapi. Ambil aja sepuluh ribu itu, atau lo mau kita aduin ke guru kalau lo yang selama ini maksa mengomersialkan tugas sekolah?"

Aneysia mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan perih di pergelangan tangannya kembali berdenyut. Dia tahu, kata "kurang rapi" yang diucapkan Rachel adalah sisa dari perjuangannya menahan sakit akibat pukulan ayahnya semalam. Mereka tidak tahu, dan tidak akan pernah peduli. Bahwa setiap goresan tinta di buku tulis itu ditulis dengan air mata dan darah yang Aneysia sembunyikan.

Menghadapi ancaman itu, Aneysia terpaksa untuk diam. Dia tidak memiliki teman di sekolah ini. Dengan sisa harga diri yang diinjak-injak, dia menarik lembaran sepuluh ribu itu masuk ke sakunya. Bergabung dengan uang dua puluh ribu dari Rachel kemarin. Total tiga puluh ribu. Uang yang sangat sedikit untuk tebusan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Bel masuk pelajaran pertama berbunyi, memaksa Rachel dan teman-temannya kembali ke bangku masing-masing sambil berbisik licik. Guru Matematika, Pak Beno, melangkah masuk ke kelas dengan langkah tegap, langsung memenuhi papan tulis dengan deretan angka dan grafik fungsi yang rumit.

Bagi seisi kelas, pelajaran Pak Beno sangat membosankan karena membuat mereka mengantuk. Namun, bagi Aneysia, jam pelajaran ini adalah siksaan yang berbeda.

Dia mencoba fokus pada penjelasan di depan, tetapi rasa pening di kepalanya kian memuncak hebat. Tamparan keras ayahnya semalam tampaknya menyisakan gegar ringan yang membuat pandangannya sesekali mengabur. Setiap kali dia menggerakkan bola matanya untuk mengikuti arah kapur Pak Beno, pelipisnya berdenyut kuat terasa seolah dihantam besi.

Pipi kirinya yang membengkak kini mulai terasa kaku dan panas. Lapisan bedak tabur murah yang dia gunakan tadi pagi rasanya mulai luntur oleh keringat dingin yang terus menetes dari dahinya. Aneysia berkali-kali harus memperbaiki posisi rambut panjangnya, memastikan helai demi helai rambut hitamnya tetap jatuh menutupi sisi kiri wajahnya. Dia tidak boleh lengah. Jika rambutnya tersibak sedikit saja, lebam keunguan itu akan terlihat oleh seisi kelas, dan dia tidak sudi menjadi bahan tontonan atau belas kasihan palsu.

"Aneysia, coba kamu kerjakan nomor tiga di depan."

Suara berat Pak Beno memutuskan lamunan menyakitkan Aneysia.

Jantung Aneysia berdegub kencang. Dia menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokan yang sekering padang pasir karena belum menyentuh air sejak subuh. Lambungnya yang kosong sejak semalam tiba-tiba melilit hebat, memprotes rasa lapar yang terus dia abaikan.

"Baik, Pak," sahut Aneysia dengan lirih.

Dia berpegangan pada tepi meja kayu untuk membantu tubuhnya berdiri. Ranjang besi tuanya semalam membuat seluruh otot punggungnya kaku. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, dia melangkah ke depan, berusaha menahan rasa sakitnya mati-matian, agar langkah kakinya tidak tampak pincang.

Dia menerima sebatang kapur dari Pak Beno. Saat tangannya terangkat untuk menulis di papan tulis, lengan seragam putihnya sedikit merosot, menampilkan pergelangan tangannya yang biru lebam akibat perbuatan ayahnya. Aneysia tersentak kecil, dengan cepat menurunkan kembali lengannya, lalu mulai menuliskan jawaban. Dia dapat memecahkan soal rumit itu dalam hitungan detik meskipun sekujur tubuhnya berdenyut nyeri merasakan sakit.

Selesai.

"Bagus sekali, Aneysia. Jawabanmu sangat tepat."

Puji Pak Beno, mengangguk puas melihat jawaban Aneysia yang terpampang di papan tulis.

Aneysia hanya mengangguk sopan dan segera kembali berjalan ke tempat duduknya. Di barisan depan, Rachel sengaja menjulurkan kakinya ke tengah jalan, mencoba membuat Aneysia tersandung. Namun, untungnya insting Aneysia cukup cepat untuk menghindarinya, meskipun gerakan mendadak itu membuat memar di betisnya kembali berdenyut ngilu. Dari belakang, Katya terkekeh geli melihat usaha gagal temannya.

Aneysia kembali duduk, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lipatan tangannya di atas meja. Dia meletakkan sisi wajahnya yang tidak lebam ke atas meja yang dingin, mencoba sedikit mencari rasa nyaman. Rasa lapar, lelah, dan sakit fisik berbaur menjadi satu kesatuan yang menyesakkan dada. Di tengah riuh rendah suara kapur dan penjelasan guru, batin Aneysia menjerit lelah. Dia merasa seperti sebatang lilin yang dipaksa menyala di kedua ujungnya, perlahan-lahan habis, meleleh, dan hancur tanpa ada yang mempedulikannya.

Kringgg!

Lihat selengkapnya