Bukan Rumah Aneysia

Thazaprilia
Chapter #3

Bab 3: Kehidupan Yang Damai

Pukul dua dini hari. Pendar lampu lima watt di sudut langit-langit kamar memantulkan jemari Aneysia yang gemetar di atas dinding kusam. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mengelupas, selembar kertas buram robekan buku tulis dipenuhi oleh puluhan coretan yang nyaris serupa.

Sret. Sret.

Aneysia menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan punggung tangan. Matanya yang sembab dipaksa menatap lekat-lekat selembar rapor kelas satu yang tergeletak di sisi kiri. Di sudut kanan bawah kertas rapor itu, tertera gubahan tinta hitam, tanda tangan milik Ibunya, Dena. Sebuah goresan yang tegas, dengan lengkungan huruf D yang melengkung tajam di awal dan tarikan garis yang memotong di bagian akhir. Goresan yang biasanya digubah Ibunya dengan penuh amarah setiap kali menerima hasil belajarnya.

Aneysia mengembuskan napas perlahan melalui mulut, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berdentum di rongga dada. Dia kembali menggoreskan ujung pulpen hitamnya pada baris kosong terakhir di kertas buram.

Sret.

Lengkungannya tepat. Tarikan garis akhirnya pun memiliki kemiringan yang sama. Aneysia membandingkan kedua goresan itu di bawah temaram lampu. Napasnya tertahan. Setelah merasa yakin batinnya cukup tenang, dia menarik formulir asli dari kementerian yang sejak tadi siang dia jaga agar tidak lecek.

Ujung pulpennya melayang di atas kolom 'Persetujuan Orang Tua/Wali'. Selama beberapa detik, logam bulat di ujung pulpen itu hanya menggantung, menciptakan bayangan kecil di atas kertas putih bersih tersebut. Aneysia memejamkan mata sekejap, membayangkan wajah ibunya yang memerah, makian yang biasa meluncur dari bibir itu, dan rasa sakit dari sudut bibirnya yang malam ini masih terasa berdenyut.

Dengan satu gerakan tangan tanpa ragu, dia menorehkan tanda tangan palsu di sana.

Aneysia baru saja hendak meniup sisa tinta yang masih basah di atas kertas ketika sebuah suara dari arah depan rumah membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

Brak!

Pintu rumah dihantam kasar hingga bergetar. Disusul oleh suara langkah kaki yang berat, terseret, dan tidak stabil. Suara gumaman kasar dan bising dari mulut Mardi menggema di lorong rumah yang hening. Ayahnya pulang, dan dari ritme langkahnya yang terdengar limbung, Aneysia tahu pria itu sedang dalam kondisi mabuk berat.

Rasa panik langsung menyerang Aneysia. Detak jantungnya berpacu keras. Langkah kaki yang terseret itu terdengar semakin dekat, menuju ke arah dapur, yang berarti menuju ke sekat kamarnya.

Tanpa berpikir dua kali, Aneysia menyambar formulir kompetisi dan pulpennya. Dia mematikan saklar lampu lima watt kamarnya dengan satu gerakan cepat, membuat ruangan seketika jatuh ke dalam kegelapan. Dengan gerakan seringan kucing yang ketakutan, dia meluncur turun dari tepi kasur dan menyusupkan tubuh kecilnya ke dalam kolong ranjang besi tua.

Kondisi di bawah ranjang itu sangat sempit, berdebu, dan dingin. Aneysia merapatkan punggungnya ke lantai, memeluk formulir itu erat-erat di dadanya. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri keras-keras hingga rasa perih semalam kembali berdenyut, menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun.

Krekkk...

Pintu kamarnya yang umurnya sudah tua dibuka dengan kasar. Cahaya remang-remang dari ruang tengah menerobos masuk, membentuk siluet tinggi besar ayahnya di ambang pintu. Bau alkohol yang menyengat bercampur dengan keringat asam langsung memenuhi ruangan itu, membuat Aneysia harus menahan mual setengah mati.

Mardi berdiri di sana selama beberapa detik yang terasa seperti seribu tahun bagi Aneysia. Matanya yang merah dan sayu menatap ke arah kasur kapuk yang kosong di atas ranjang besi. Karena suasana kamar yang gelap gulita dan kesadarannya yang terkikis alkohol, pria itu tidak menyadari ada tubuh kecil yang sedang gemetar ketakutan di bawah kerangka besi tua yang berkarat di bawahnya.

"Cih... anak sialan, jam segini belum pulang," umpat Mardi dengan suara serak yang tidak jelas.

Dengan dengusan kesal, dia menarik kembali gagang pintu dan membantingnya hingga tertutup rapat. Langkah kakinya yang berat terdengar menjauh, bergerak menuju sofa ruang tengah, hingga akhirnya berganti dengan suara dengkuran kasar yang mulai terdengar.

Di bawah ranjang, Aneysia baru berani mengembuskan napasnya yang tertahan. Air mata dingin tanpa suara akhirnya menetes di sudut matanya, membasahi pipinya yang lebam. Dia meremas formulir di pelukannya. Neraka ini hampir saja menelannya bulat-bulat malam ini, dan kenyataan itu membuat tekadnya semakin besar. Dia harus pergi, bagaimana pun caranya.

Keesokan paginya, koridor lantai satu sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Aneysia berjalan dengan langkah lambat, memeluk map cokelatnya erat-erat di depan dada, seolah benda itu adalah perisai yang melindunginya dari tatapan orang-orang. Beberapa murid yang berpapasan dengannya sempat melirik ke arah sudut mata kirinya yang sedikit membiru, namun Aneysia segera membuang muka, menatap lurus ke arah pintu kaca buram yang bertuliskan 'Ruang Bimbingan dan Konseling'.

Dia mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya pelan. Aroma terapi teh hijau yang menenangkan menyambut indra penciumannya. Bu Alana sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi tumpukan map tebal.

"Eh, Aneysia. Masuk, Nak," sapa Bu Alana lembut menghentikan aktivitas mengetiknya di komputer.

Aneysia melangkah mendekat. Kursi di depan Bu Alana menderit pelan saat dia mendudukinya. Tanpa berbicara apa pun, dia membuka map cokelatnya, mengeluarkan lembar formulir semalam, dan menyodorkannya ke atas meja dengan jemari yang sedikit kaku.

Bu Alana menarik kertas formulir tersebut lebih dekat. Matanya menyusuri baris demi baris identitas yang diisi dengan tulisan tangan Aneysia yang rapi, hingga akhirnya pandangan Bu Alana berhenti tepat di kolom paling bawah, kolom tanda tangan persetujuan orang tua.

Seluruh sendi Aneysia terasa kaku. Matanya tak berkedip memandangi jemari Bu Alana yang mengetuk-ngetuk pinggiran meja kerjanya. Di dalam sepatunya, jari-jari kaki Aneysia mencengkeram bagian sol sepatu keras-keras. Setiap detik yang berjalan terasa seperti hitungan mundur bom waktu. Bagaimana jika Bu Alana tahu? Bagaimana jika sekolah menelepon ibunya untuk konfirmasi?

"Bagus," suara bu Alana memecahkan keheningan yang mencekik Aneysia. Dia membubuhkan stempel resmi sekolah di sebelah tanda tangan palsu tersebut. "Ibu kagum dengan ibumu, Aneysia. Di tengah kesibukannya, beliau tetap mendukung langkahmu untuk ikut kompetisi karya ilmiah ini."

Tenggorokan Aneysia mendadak terasa kering kerontang. Dia hanya mampu memaksakan sebuah anggukan kecil dan senyum tipis yang terasa getir di sudut bibirnya. "Iya, Bu. Terima kasih banyak."

"Ingat ya, draf kasarnya harus sudah diunggah ke sistem kementerian tiga minggu dari sekarang. Jangan sampai lewat, karena sistem akam mengunci otomatis," tambah Bu Alana sembari memasukkan formulir itu ke dalam map khusus.

"Baik, Bu. Saya permisi."

Begitu pintu ruang Bimbingan Konseling tertutup di belakang punggungnya, Aneysia bersandar pada dinding lorong yang dingin. Dia melepaskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Satu rintangan telah terlewati, namun kenyataan pahit berikutnya langsung menampar kesadarannya. Waktu yang dia miliki hanya tiga minggu, dan dia tidak punya komputer di rumahnya.

Jam istirahat kedua menjadi ajang bagi Aneysia untuk bergerak. Dia berjalan ke arah kelas XI IPS 2.

Di kelas XI IPS 2, suasana tampak riuh beberapa anak laki-laki bergerombol di meja belakang, sibuk tertawa sembari melempar gulungan kertas. Aneysia berdiri di ambang pintu, matanya melihat sekeliling ruangan itu hingga tertuju pada seorang siswi berambut ikal yang sedang cemas menatap buku Matematikanya, Rani. Anak pemilik toko baju di pasar yang terkenal sering menunggak tugas.

Aneysia melangkah menghampiri meja Rani, lalu berdiri tegak di sampingnya. Rani mendongak sedikit terkejut melihat keberadaan Aneysia di dekatnya.

"PR Matematika buat besok?" tanya Aneysia tanpa basa-basi. Suaranya terdengar datar.

Rani mendesah frustrasi, meremas pulpen yang sedang dia genggam. "Iya, nih. Rumus fungsi komposisinya bikin gue pusing banget. Mana gurunya Pak Rian lagi, bisa dijemur gue besok di lapangan."

Lihat selengkapnya