Matahari di hari Minggu baru saja merangkak naik, memancarkan cahaya yang hangat di langit. Udara pagi itu cukup sejuk, namun bagi Aneysia, hawa di dalam gang rumahnya selalu terasa pengap dan mencekam. Setelah memastikan kedua orang tuanya masih tertidur lelap, dia menyelinap keluar lewat pintu dapur dengan gerakan yang sangat pelan, dia memastikan setiap gerakannya tidak membangunkan orang tuanya dari tidur.
Di dalam tas jinjingnya, beberapa buku dan kertas sudah tersusun rapi. Kali ini, dia terpaksa merogoh lembaran uang sepuluh ribu terakhir dari saku rahasianya untuk membayar ongkos ojek motor. Dia tidak punya pilihan lain, berjalan kaki dari pinggiran kota menuju kompleks perumahan elite tempat Haizar tinggal akan menghabiskan waktu berjam-jam, sementara tenggat waktu pengumpulan semakin mencekik lehernya.
"Kiri, depan gerbang aja, Bang," ucap Aneysia pelan di balik masker yang sengaja dia kenakan untuk menutupi sisa lebam di pipinya.
Motor bebek tua itu berhenti tepat di depan pos penjagaan kompleks. Setelah menyerahkan uang dengan tangan yang sedikit kaku, Aneysia turun. Dia merapikan jaket yang warnanya sudah pudar, lalu melangkah melewati palang besi otomatis kompleks yang dijaga ketat.
Suasana Minggu pagi di kawasan ini terasa sangat berbeda dengan hiruk-pikuk di tempat tinggalnya. Beberapa penghuni kompleks tampak sedang berolahraga pagi dengan pakaian olahraga bermerek mahal, menuntun anjing ras yang terawat, atau sekadar menikmati udara bersih di halaman rumah mereka. Keheningan dan keteraturan di tempat ini entah mengapa membuat dada Aneysia sedikit terasa sesak. Dia merasa seperti sebutir debu yang salah tempat di atas lantai marmer yang mengilap.
Langkah kakinya berhenti di gerbang besi tinggi rumah Haizar. Sebelum sempat dia mengetuk bel, pintu rumah itu sudah terbuka lebih dulu. Haizar muncul dengan kaus putih berlengan pendek dan celana pendek, memegang sebuah botol air minum berwarna biru.
"Eh, Ney. Udah sampai ternyata," sapa Haizar sembari melihat jam tangannya yang menunjukkan tepat pukul delapan. "Ayo masuk. Mama dari tadi udah nunggu lo, katanya sengaja bikin sarapan lebih banyak buat kita."
Aneysia hanya mengangguk pelan, melepaskan sepatu sekolahnya yang lusuh di teras sebelum melangkah masuk ke dalam rumah yang harum vanila itu. Langkahnya ditarik menuju meja makan besar di area tengah, di mana Ibu Haizar sedang menata piring-piring berisi nasi goreng rumahan yang aromanya langsung menggelitik lambung kosong Aneysia.
Aneysia duduk dengan posisi kaku di atas kursi meja makan berbusa empuk. Tangannya terlipat di atas pangkuan, meremas jarinya sendiri untuk meredam kegugupan yang mendadak menyerang. Di hadapannya, sebuah piring porselen putih berbingkai emas telah terisi seporsi nasi goreng hangat dengan telur mata sapi yang dimasak sempurna.
Aroma mentega dan bawang putih merayap ke indra penciumannya, memicu lilitan perih di lambungnya yang kosong sejak kemarin siang. Namun, gengsi dan rasa asing membuat Aneysia hanya mampu memandangi sendok peraknya tanpa berani menyentuh lebih dulu.
Di kepala meja, Papa Haizar, seorang pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah tegas namun teduh sedang melipat koran paginya. Di sebelahnya, seorang pemuda bertubuh tegap memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Haizar, sang kakak sulung bernama Arbani Ghazafar, sedang menyeruput kopi hitamnya dengan tenang. Suasana begitu damai, hanya diiringi denting halus sendok yang beradu dengan piring saat Ibu Haizar menuangkan air putih ke dalam gelas Aneysia.
"Ayo dimakan, Aneysia. Nggak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri," ucap Ibu Haizar lembut seraya mengusap sekilas bahu Aneysia sebelum duduk di samping suaminya.
Aneysia memaksakan sebuah senyuman tipis dari balik rambut panjangnya yang sengaja dia gerai ke depan. "Terima kasih, Tante."
Baru saja Aneysia menyuap sendok pertamanya, Haizar yang duduk di sebelah kanan Aneysia tiba-tiba meletakkan gelas susunya sedikit keras hingga menimbulkan bunyi "tuk" yang renyah. Sontak, perhatian seisi meja makan tersorot ke arah remaja laki-laki itu.
Haizar menegakkan punggungnya, matanya berbinar terang dengan senyuman lebar yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia menoleh ke arah papa, mama, dan kakaknya bergantian.
"Ma, Pa, Kak Arbani... tahu nggak?" suara Haizar terdengar bersemangat, penuh dengan letupan rasa bangga yang kentara. Dia mengedikkan dagunya ke arah Aneysia. "Aneysia ini lagi ikut Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia yang diadakan langsung oleh kementerian pendidikan."
Tangan Kak Arbani yang sedang memegang cangkir kopi sempat tertahan di udara. Pria muda itu mendongak, menatap Aneysia dengan binar ketertarikan yang mendadak muncul di matanya.
"Oh ya?" Papa Haizar menurunkan kacamata bacanya sedikit, memajukan tubuhnya ke arah meja dengan raut wajah kagum yang tidak ditutup-tutupi. "Itu kompetisi bergengsi yang pesertanya dari seluruh provinsi, kan?"
"Iya, Pa! Bener banget!" sahut Haizar dengan cepat memotong dengan nada suara yang semakin meninggi karena antusias. "Dan hadiahnya nggak main-main. Juara satunya dapat beasiswa penuh dari kementerian sampai lulus kuliah. Udah gitu, dapet fasilitas asrama gratis di kampus top, plus uang saku bulanan dari negara."
Ibu Haizar seketika meletakkan sendoknya, menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan mata yang berbinar haru. "Ya ampun... hebat sekali kamu, Nak Aneysia. Itu keren sekali."
Aneysia merasa seluruh darahnya berdesir hebat hingga ke ujung kepala. Berada di bawah sorotan lampu ruang makan yang terang serta tatapan penuh kekaguman dari satu keluarga utuh ini membuatnya merasa limbung. Di rumahnya sendiri, prestasi akademisnya selalu dianggap pajangan tak berguna yang berakhir robek atau dibakar jika ayahnya sedang mengamuk. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipuji secara tulus oleh orang dewasa, apalagi diakui di depan sebuah meja makan yang penuh kehangatan.
"Proposal penelitianmu tentang apa, Dek?" tanya kak Arbani. Nada bicaranya kini melunak, menatap Aneysia dengan tatapan mendukung seorang kakak.
Tenggorokan Aneysia mendadak terasa kering meski dia baru saja minum. Dia berdehem pelan, mencoba menguasai suaranya agar tidak bergetar.
"Tentang... pemanfaatan fraksi aktif ekstrak daun sirih sebagai agen antibakteri alternatif, Kak. Untuk hard file-nya, sudah harus selesai tiga minggu lagi Kak."
"Sains murni, ya? Menarik sekali," Papa Haizar mengangguk-angguk takjub, raut wajah bangga terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu. Beliau menoleh ke arah Haizar. "Haizar, kamu harus bantu temanmu ini, ya. Pastikan ruang belajar tenang, jangan diganggu kalau Aneysia lagi mengetik."
"Siap, Pa. Makanya Haizar pinjemin laptop Haizar yang di kamar," jawab Haizar sembari menepuk dadanya bangga, tersenyum lebar ke arah Aneysia.
Aneysia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura kembali menyuap nasi gorengnya untuk menyembunyikan matanya yang mendadak terasa panas dan berkaca-kaca. Gumpalan sesak yang menyakitkan menyumbat di dadanya. Bukan karena benci, melainkan rasa iri yang teramat sangat yang tak mampu dia bendung. Menatap bagaimana Haizar didengar, didukung, dan dibanggakan oleh keluarganya sendiri membuat luka batin Aneysia atas rumah nerakanya berdarah kembali berkali-kali lipat lebih perih.
***
Ketenangan yang menenangkan menyelimuti begitu pintu ruang belajar ditutup. Haizar menarik sebuah kursi berbusa empuk untuk Aneysia, lalu menekan tombol untuk menyalakan laptop berwarna perak miliknya yang sudah tersaji di atas meja kayu yang kokoh. Hanya dalam hitungan detik, laptop itu menyala terang, menampilkan halaman kosong pada dokumen.
"Gue ambil minum sama camilan dulu ya di bawah. Kalau butuh apa-apa atau wifinya agak seret, panggil aja," kata Haizar pelan. Seolah sengaja menurunkan volume suaranya agar tidak merusak fokus Aneysia.
Aneysia hanya mengangguk tipis. "Makasih, Zar."
Begitu langkah kaki Haizar menjauh dan menghilang di balik lorong, Aneysia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Dia membuka tas jinjingnya, mengeluarkan kertas buram yang penuh dengan coretan pena tinta hitam dan biru, serta beberapa buku referensi yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah.
Aneysia melepas maskernya. Dia meringis saat otot pipinya tertarik, memperlihatkan lebam keunguan yang masih tercetak jelas di kulit wajahnya yang pucat. Namun, begitu jemarinya menyentuh papan tik laptop yang empuk, fokusnya langsung terkunci. Rasa sakit di fisiknya seolah menguap, digantikan oleh adrenalin yang berpacu.
Tak-tak-tak-tak.