Bukan Rumah Aneysia

Thazaprilia
Chapter #5

Bab 5: Mama

Bel istirahat pertama baru saja berdentang, memicu gemuruh langkah kaki murid-murid yang berhamburan menuju kantin. Namun, Aneysia tetap duduk di bangkunya yang terletak di baris tengah kelas 11 IPA 1. Rambut panjangnya sengaja diurai ke depan, menjuntai seperti tirai tebal yang menyembunyikan sisi kiri wajahnya.

Setiap kali dia menarik napas terlalu dalam, ada rasa nyeri yang menusuk tajam di rusuk kirinya, yang berasal dari hantaman sepatu ayahnya semalam. Dengan gerakan lambat yang diiringi erangan tertahan, Aneysia merogoh kantong roknya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris yang sampulnya sudah lusuh. Di dalam buku itu, tertera daftar nama murid dari berbagai kelas beserta jenis tugas yang belum mereka selesaikan.

Aneysia tidak pergi ke kantin. Kantin adalah tempat bagi mereka yang punya kemewahan untuk menikmati semangkuk bakso hangat. Bagi Aneysia, waktu istirahat adalah jam kerja.

Dia berdiri, memeluk buku catatannya erat-erat di depan dada, lalu melangkah keluar kelas. Tujuannya kali ini adalah lorong kelas 11 IPS 3, tempat anak-anak pengusaha dan pejabat berkumpul, mereka yang memiliki dompet tebal namun malas menyentuh buku pelajaran.

Aneysia berhenti di ambang pintu kelas yang riuh. Matanya menatap seluruh isi ruangan hingga tertuju pada seorang siswa laki-laki berbadan bongsor yang sedang frustasi menatap lembar kerja sosiologi di mejanya. Fero Attala, anak seorang pengusaha properti yang sukses.

Aneysia melangkah masuk tanpa suara, lalu berdiri tegak di sisi meja Fero, menghalangi cahaya lampu yang menyorot kertasnya. Fero mendongak, mendengus lega begitu melihat siapa yang menghampirinya.

"Ney! Pucuk dicinta ulam pun tiba," seru Fero langsung menggeser lembar tugasnya ke ujung meja. "Gue buntu banget. Ini tugas analisis perubahan sosial struktural harus dikumpul jam pelajaran kelima nanti. Kepala gue mau pecah. Lo bisa kerjain?"

Aneysia tidak langsung menjawab. Dia melirik kerumunan anak laki-laki di belakang Fero yang sedang asyik bermain gim di ponsel pintar mereka, lalu kembali menatap Fero.

"Dua puluh halaman rangkuman materi, ditambah tiga soal analisis kasus. Selesai sebelum bel masuk pelajaran kelima."

"Berapa?" tanya Fero tangannya meraba saku celana abu-abunya.

"Lima puluh ribu. Tunai sekarang," ucap Aneysia dingin. Nadanya datar, tidak menerima negosiasi. Dia tahu betul Fero tidak punya pilihan lain jika tidak ingin dihukum berdiri di tengah lapangan siang nanti.

Fero sempat meringis, namun jarinya dengan cepat menarik selembar uang berwarna biru dari dompet kulitnya yang tebal. Dia mengulurkan uang itu. Aneysia langsung mengambilnya secepat kilat, meremas lembaran lima puluh ribu rupiah itu dalam genggamannya, lalu menyelipkannya ke dalam saku rok yang paling dalam, bersatu dengan sisa-sisa recehan kusam lainnya.

"Jangan sampai ada yang sama persis kayak punya anak lain ya, Ney. Nilai gue taruhannya," pesan Fero.

Aneysia hanya mengangguk tipis tanpa ekspresi. Dia mengambil lembar soal dan buku paket sosiologi milik Fero, lalu berbalik pergi.

Dia memilih duduk di salah satu undakan tangga beton yang sepi di koridor belakang sekolah, tempat yang jarang dilalui guru. Aneysia meletakkan buku tebal itu di atas lututnya. Jemari tangannya yang kurus mulai mencengkeram pulpen hitamnya kuat-kuat.

Sret. Sret. Sret.

Kalimat demi kalimat mulai mengalir deras dari ujung pulpennya di atas kertas folio bergaris. Pola kalimatnya diubah, sudut pandang analisisnya dibuat seolah-olah itu adalah hasil pemikiran Fero, namun tetap berbobot agar lolos penilaian. Aneysia mengulis dan mengetik setiap hari hingga otaknya terbiasa bekerja seperti mesin otomatis.

Punggungnya terasa kaku, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya karena menahan nyeri di tulang rusuknya yang cedera. Sesekali, beberapa murid yang lewat di koridor menatapnya. Memandangnya seolah dia adalah seorang pengemis tugas yang menyedihkan. Namun, Aneysia menutup mata dan telinganya dari dunia luar.

Di tengah rasa sakit fisik dan kehancuran mental akibat malam sebelumnya, jemari Aneysia terus menari, menolak untuk menyerah pada rasa sakit, memeras otaknya demi menyambung napas hidupnya sendiri.

***

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, memicu gemuruh sorak-sorai di sepanjang koridor. Aneysia memasukkan buku-bukunya serta beberapa buku tugas teman-temannya ke dalam tasnya yang usang. Uang lima puluh ribu rupiah di saku roknya terasa begitu berarti, sebuah kemenangan kecil yang harus dibayar mahal oleh rasa nyeri yang kian berdenyut di rusuk kirinya.

Di parkiran sekolah yang mulai lengang, mobil sedan berwarna hitam mewah milik Haizar sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Haizar berdiri di samping pintu penumpang, matanya menatap kerumunan murid hingga tatapannya terkunci pada sosok Aneysia yang berjalan lambat dengan kepala tertunduk.

"Ney, langsung masuk," ucap Haizar pelan seraya membukakan pintu untuknya.

Aneysia masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk. Aroma wewangian mahal dan embusan AC langsung menyambutnya, namun kali ini ada sekat canggung yang tebal di antara mereka. Aneysia merapatkan tas ranselnya di atas pangkuan, sengaja memposisikan tas itu untuk melindungi rusuk kirinya dari guncangan. Rambut panjangnya dia tarik ke depan, menutupi pipi kirinya yang membiru dan sudut bibirnya yang pecah.

Haizar masuk ke kursi kemudi, menutup pintu, lalu menjalankan mobil membelah jalanan kota. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kabin yang kedap suara itu. Haizar sesekali melirik dari spion tengah, memperhatikan bagaimana jemari Aneysia meremas tali tasnya begitu kuat, dan bagaimana gadis itu menahan napas setiap kali mobil melewati polisi tidur.

"Baju-baju yang kemarin... sengaja nggak dipake?" tanya Haizar memecah kesunyian, nadanya santai namun penuh rasa ingin tahu. Dia ingat betul betapa antusiasnya sang mama membelikan berbagai pakaian untuk Aneysia kemarin.

Aneysia menegang. Dia menatap keluar jendela yang gelap, melihat deretan ruko yang bergerak mundur. "Disimpan. Buat acara penting aja," bohongnya, suaranya sangat pelan. Otaknya seketika memutar rekaman kejadian semalam, kain rajut ungu yang terbelah dua dan sepatu putih yang ternoda tanah di lantai rumahnya.

Haizar tidak bertanya lagi, namun rahang cowok itu sedikit mengeras. Dia tahu ada yang tidak beres, tapi dia cukup cerdas untuk tidak mendesak gadis sekeras kepala Aneysia.

Begitu sampai di rumah Haizar, suasana sepi menyambut mereka. Kedua orang tua Haizar belum pulang dari tempat kerja. Haizar langsung menuntun Aneysia menuju ruang belajar tengah yang tenang, laptop itu sudah tersaji di atas meja kayu.

Aneysia duduk dengan sangat hati-hati, berusaha agar tulang rusuknya tidak menekan sandaran kursi. Namun, gerakan kecil saat dia meletakkan tasnya membuat tubuhnya refleks tersentak. Dia meringis pelan, giginya mengatup rapat menahan pasokan udara yang mendadak terasa menyiksa.

Lihat selengkapnya