Jarum jam di dinding ruang belajar tengah rumah Haizar sudah bergeser melewati angka lima sore. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca besar tidak lagi berwarna emas terang, melainkan telah berubah menjadi semburat merah tua yang lambat laun meredup.
Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu serius. Hanya ada suara deru halus kipas laptop berwarna perak yang bekerja keras sejak dua jam lalu, berpadu dengan ketukan jemari Haizar di atas papan tik.
"Data pengujian kelompok ketiga... selesai," ucap Haizar parau. Dia melepaskan tangannya dari atas papan tik, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas lega yang panjang. Matanya yang tampak kelelahan menatap layar yang kini memajang tulisan tebal 'BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN'.
Di sebelahnya, Aneysia duduk dengan posisi tubuh yang jauh lebih santai dibanding tiga minggu lalu. Memar keunguan di pipi kirinya telah memudar, menyisakan semburat tipis yang hampir tidak terlihat jika tidak dilihat dari dekat. Rambut panjangnya kali ini diikat rapi ke belakang, memperlihatkan gurat wajahnya yang tegas.
"Tinggal daftar pustaka dan lampiran grafik, Zar," sahut Aneysia, suaranya terdengar datar namun ada letupan kelegaan yang tertahan di sana. Dia menyodorkan tumpukan kertas coretan terakhir yang penuh dengan sitasi jurnal internasional ke dekat laptop Haizar.
Haizar menoleh, menatap Aneysia dengan senyuman tipis. "Lu bener-bener kayak mesin, Ney. Tiga minggu ini lu nggak ada capeknya sama sekali."
Aneysia tidak membalas pujian itu dengan kata-kata. Dia hanya meraih segelas air putih yang sudah disiapkan di sudut meja, lalu meminumnya hingga tandas. "Nggak ada capeknya?" Sudut hatinya tertawa miris. Haizar tidak tahu saja bahwa selama tiga minggu ini, waktu tidurnya tidak pernah lebih dari tiga jam sehari. Setiap malam, setelah pulang dari rumah ini dengan kabin mobil yang nyaman, dia harus langsung mengunci diri di kamarnya yang pengap untuk menyelesaikan belasan joki tugas anak IPS demi mengumpulkan uang untuk cetak dokumen fisik nanti.
Tangan Haizar kembali bergerak, memasukkan satu per satu daftar referensi dengan format yang presisi sesuai buku panduan kementerian. Ketika tombol simpan terakhir diklik, sebuah notifikasi muncul di layar: Dokumen Berhasil Disimpan (45 Halaman).
"Selesai," bisik Haizar, menatap layar dengan binar bangga yang luar biasa. Dia menoleh ke arah Aneysia, menuntut reaksi dari gadis itu. "Kita beneran selesai, Ney. Hari ini dokumennya udah siap dikirim malam ini juga."
Aneysia terpaku menatap angka halaman di sudut kiri bawah layar laptop. Empat puluh lima halaman. Bagi orang lain, itu mungkin hanya tumpukan kertas berisi teori sains dan angka-angka laboratorium yang membosankan. Namun bagi Aneysia, empat puluh lima halaman itu adalah tiket pesawatnya untuk terbang keluar dari rumah nerakanya. Itu adalah jaminan masa depannya, asramanya, dan hidup damai yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dalam mimpi.
Dada Aneysia berdetak hebat. Setitik rasa haru yang asing merayap di tenggorokannya, membuat matanya mendadak terasa panas. Dia buru-buru memalingkan wajah ke arah taman belakang yang mulai gelap, mencoba menyembunyikan genangan air mata yang hampir tumpah.
"Makasih, Zar," ucap Aneysia sangat lirih, suaranya sedikit bergetar. "Kalau bukan karena laptop lo... dan bantuan lo ngetik tiap sore, gue nggak akan pernah sampai di titik ini."
Haizar tertegun mendengar ucapan terima kasih yang begitu tulus dari mulut gadis yang biasanya selalu memasang dinding pertahanan setinggi langit. Cowok itu tersenyum hangat, mengacak rambut belakangnya dengan canggung sebelum berkata, "Gue kan udah bilang, gue lakuin ini buat lihat anak sekolah kita menang tingkat nasional. Lagian... Mama pasti bakal ngamuk kalau gue nggak bantu anak kesayangannya sampai tuntas."
Mendengar kata 'Mama', senyum tipis akhirnya terukir di bibir Aneysia. Selama tiga minggu ini, ponsel pemberian Mama Haizar yang selalu dia sembunyikan di dalam lipatan baju kamarnya telah menjadi satu-satunya benda yang memberinya kekuatan. Setiap malam, sebuah pesan singkat bertuliskan "Jangan tidur kemalaman ya Nak, semangat belajarnya" dari Mama Haizar adalah obat penenang paling ampuh saat dia harus menahan perih di rusuknya dan mendengarkan makian orang tuanya di luar kamar.
Pintu ruang belajar terbuka tepat setelah Haizar menutup layar laptopnya setengah. Mama Haizar melangkah masuk dengan pakaian rumahan berbahan kain satin. Alih-alih membawa nampan camilan seperti biasa, wanita itu langsung berjalan cepat ke arah meja, matanya berbinar menatap wajah kedua remaja di depannya bergantian.
"Gimana? Sudah selesai?" tanya Mama. Suaranya penuh rasa penasaran.
Haizar menegakkan punggungnya, lalu memberikan jempol besar dengan senyum lebar. "Seratus persen aman, Ma. Tinggal dikirim ke portal kementerian malam ini."
Mama Haizar seketika mengembuskan napas lega yang panjang, seolah beban berat di pundaknya sendiri baru saja terangkat. Beliau langsung melangkah mendekati Aneysia, dan tanpa ragu melingkarkan kedua lengannya ke bahu Aneysia, memeluk gadis itu dari belakang dengan kehangatan yang begitu pekat. Aroma minyak esensial lavender dari tubuh Mama langsung menyelimuti indra penciuman Aneysia.
Aneysia sempat tertegun sejenak, tubuhnya refleks menegang karena masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kontak fisik spontan. Namun, hanya dalam hitungan detik, dia membiarkan pundaknya melunak, menikmati kenyamanan yang jarang dia dapatkan.
"Mama bangga sekali sama kamu, Aneysia," bisik Mama tepat di dekat telinga gadis itu. Beliau melepaskan pelukannya, lalu beralih duduk di kursi sebelah Aneysia, menggenggam sepasang tangan kurus yang jemarinya masih menyisakan bekas kapalan akibat terlalu banyak menulis.
Mama menatap lekat-lekat ke dalam mata Aneysia. Memar keunguan di pipi kiri gadis itu memang sudah hampir hilang, namun Mama tahu betul luka di dalam hati Aneysia belum sepenuhnya sembuh.
"Ney," panggil Mama lembut, mengusap punggung tangan Aneysia dengan ibu jarinya. "Kan dokumen karya ilmiahnya sudah selesai. Berarti... tugas kelompok kalian di rumah ini juga sudah beres."
Mendengar kalimat itu, dada Aneysia mendadak terasa tenggelam. Setitik rasa takut yang dingin merayap ke lambungnya. Benar, tugasnya sudah selesai. Itu artinya, dia tidak punya alasan lagi untuk datang ke rumah mewah ini setiap sore. Dia tidak punya alasan lagi untuk melarikan diri dari pengapnya atau dinginnya lantai kamarnya sendiri. Petualangan indahnya di dalam "rumah cemara" ini telah mencapai batas waktu.
Aneysia menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mendadak terasa pedih. "Iya, Ma. Mulai besok... Aneysia nggak akan merepotkan rumah ini lagi."
"Heh, siapa yang bilang begitu?"
Suara Mama Haizar meninggi, namun penuh dengan nada protes yang jenaka. Beliau menarik dagu Aneysia pelan agar gadis itu kembali menatapnya. Di sana, tidak ada sorot pengusiran, melainkan tatapan mata seorang ibu yang penuh akan kasih sayang mendalam.
"Dengar Mama ya, Nak. Biarpun tugas biologi atau kompetisi ini sudah selesai, kamu harus tetap datang ke rumah ini," ujar Mama tegas, seolah sedang memberikan perintah yang tidak boleh dibantah. "Pulang sekolah, kalau kamu capek, datang ke sini. Kalau kamu butuh tempat tenang buat belajar ujian, kamar belajar ini selalu kosong buat kamu. Kalau kamu cuma pengen makan masakan Mama, kursi di meja makan itu nggak akan pernah digeser buat orang lain."
Aneysia terpaku. Tenggorokannya mendadak tersumbat oleh gumpalan emosi yang begitu hebat.