Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di atas jalanan aspal ketika Aneysia melangkah tergesa-gesa menyusuri trotoar. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul enam pagi lewat lima belas menit. Di saat gerbang sekolah baru saja dibuka oleh penjaga, Aneysia justru berdiri di depan sebuah ruko fotokopi kecil yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya.
Aroma kertas hangat, tinta yang khas, dan deru bising mesin cetak langsung menyambutnya begitu dia melangkah masuk.
"Gimana, Neng? Sudah selesai semua dicetak?" tanya abang fotokopi berkumis tipis yang sudah mengenalnya karena Aneysia sering menumpang mengetik atau mencetak tugas joki di sana.
"Sudah semua, Bang?" tanya Aneysia, suaranya agak parau karena udara pagi yang dingin. Dia merapatkan jaket pudarnya, mencoba meredam debaran kencang di dadanya.
"Sudah, ini tinggal dijilid lakban hitam. Sebentar ya."
Aneysia memperhatikan jemari abang fotokopi itu menyusun lembaran-lembaran kertas HVS putih bersih setebal empat puluh lima halaman tersebut. Di bagian paling atas, tertera judul tebal dengan tinta hitam pekat:
ANALISIS EFEKTIVITAS FRAKSI AKTIF DAUN SIRIH (PIPER BETLE) SEBAGAI AGEN ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
Oleh: Aneysia Mahira
Aneysia merogoh kantong rok abu-abunya, mengeluarkan sisa uang lima puluh ribuan hasil joki tugas sosiologi milik Fero tempo hari. Setelah membayar biaya cetak dan jilid yang memakan hampir seluruh sisa uang di dompetnya, Aneysia menerima hasil karya tulis ilmiah yang masih terasa hangat di tangannya.
Dia memeluk kertas itu erat-erat di dada, seolah benda itu adalah barang paling berharga di dunia, dan memang begitulah adanya. Lembaran-lembaran hangat ini bukan sekadar tugas sekolah biasa. Ini adalah hasil dari malam-malam tanpa tidur, punggung yang kaku, rusuk yang memar, dan air mata yang disembunyikan di balik pendar lampu lima watt kamarnya.
Dengan langkah setengah berlari, Aneysia bergegas menuju sekolah. Dia harus menyerahkan dokumen fisik ini kepada Bu Alana, guru BK sekaligus pembimbing mereka, sebelum bel masuk pelajaran pertama berbunyi agar dokumen tersebut bisa segera dikirimkan ke dinas pendidikan hari ini juga.
Napasnya memburu saat dia menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat ruang Bimbingan Konseling berada. Koridor sekolah masih sepi, hanya ada satu-dua murid yang berjalan malas. Di depan pintu kaca buram bertuliskan "Ruang Bimbingan Dan Konseling", Aneysia berhenti sejenak untuk menata napasnya yang memburu dan merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan ditiup angin pagi.
Dia mengetuk pintu itu pelan.
"Masuk," terdengar suara berat Bu Alana dari dalam.
Pintu ruang BK terbuka lambat, memunculkan sosok Aneysia yang berdiri sendirian di ambang pintu. Bu Alana, yang sedang merapikan beberapa berkas di atas mejanya, mendongak.
"Eh, Aneysia. Sini, Nak, masuk," sambut Bu Alana, nadanya melembut begitu melihat murid bimbingannya yang selalu tampak tenang namun menyimpan banyak beban itu.
Aneysia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan rapat. Sunyi langsung menyelimuti. Ruangan ini selalu terasa seperti tempat perlindungan sementara dari bisingnya koridor sekolah. Dia berjalan mendekati meja kayu besar milik Bu Alana, lalu meletakkan dokumen karya ilmiah itu di atas meja.
Buk.
Suara tumpukan kertas setebal empat puluh lima halaman itu terdengar mantap.
Bu Alana tertegun. Jemarinya yang memegang pulpen sempat tertahan di udara. Matanya langsung tertuju pada halaman sampul yang dilaminasi plastik bening mengilap. Di sana, di bawah judul penelitian biologi yang rumit, hanya tertera satu nama tunggal dengan tinta hitam tebal: Aneysia Mahira
Satu-satunya pejuang. Satu-satunya nama yang dipertaruhkan untuk beasiswa penuh tersebut. Haizar memang membantunya setengah mati, meminjamkan laptop, mendiktekan kalimat saat rusuknya memar, bahkan memberinya ruang aman di rumahnya. Namun di atas kertas ini, Aneysia berdiri sendiri sebagai pemilik tunggal dari mimpinya.
Bu Alana menarik karya tulis ilmiah tersebut, jemarinya perlahan membuka halaman demi halaman. Suara gesekan kertas HVS yang bersih terdengar berirama di tengah keheningan ruangan. Guru BK itu membaca abstrak, membolak-balik halaman metodologi yang tersusun sangat rapi, hingga matanya terpaku pada grafik analisis bakteri yang tercetak presisi.
"Kamu... menyelesaikan ini sendirian, Aneysia?" tanya Bu Alana pelan, matanya menatap lekat wajah Aneysia yang tampak sedikit pucat karena kurang tidur, namun memancarkan binar tekad yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun.
Aneysia mengangguk pasti. "Iya, Bu. Seluruh data laboratorium dan analisisnya murni hasil pengerjaan saya. Semuanya sudah lengkap dan sesuai dengan format panduan kementerian."
Bu Alana menghela napas panjang, bukan karena kecewa, melainkan karena rasa kagum yang teramat sangat. Beliau tahu persis latar belakang keluarga Aneysia yang rumit, dan melihat gadis mungil di depannya ini mampu melahirkan karya ilmiah selevel mahasiswa tingkat akhir di tengah keterbatasan adalah sebuah keajaiban.
"Luar biasa," bisik Bu Alana, senyum bangga mengembang di wajahnya. Beliau merapikan kembali dokumen itu, lalu menepuk bagian atasnya. "Ibu akan langsung mengantar dokumen fisik ini ke dinas pendidikan kota siang ini juga setelah jam pelajaran pertama selesai. Format digitalnya sudah diverifikasi semalam, jadi sekarang semuanya sudah resmi terdaftar."
Mendengar kata-kata itu, separuh beban berat yang selama berminggu-minggu ini menyumbat dada Aneysia rasanya menguap begitu saja.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Aneysia, membungkukkan tubuhnya.
"Sama-sama, Nak. Sekarang, kamu masuk kelas. Persiapkan dirimu untuk ujian tengah semester yang sebentar lagi mulai," Bu Alana memberikan tatapan menyemangati. "Dan satu lagi... mulai hari ini, tidurlah yang cukup. Kamu sudah berjuang sangat keras."
Aneysia tersenyum tipis, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang BK. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor sejenak, menatap kedua tangannya yang kini kosong tanpa beban tumpukan kertas. Pertaruhannya sudah resmi dimulai. Namanya kini telah meluncur ke meja para juri kementerian, membawa seluruh mimpi dan harapannya untuk merobek takdir kelam yang mengikat kakinya di rumah itu.