Hari Minggu pagi biasanya menjadi waktu di mana Aneysia bisa sedikit bernapas lega. Ayahnya biasanya masih mendengkur di bawah pengaruh alkohol hingga menjelang siang, memberikan jeda sunyi yang langka di dalam rumah. Namun, pagi ini kesunyian itu memiliki getaran yang berbeda, dingin dan menusuk.
Aneysia baru saja selesai mencuci tumpukan baju di kamar mandi belakang ketika dia melangkah masuk ke kamarnya. Begitu kakinya melewati ambang pintu tripleks, seluruh darah di tubuhnya rasanya mendadak membeku.
Ibunya berdiri di tengah kamar yang sempit itu.
Laci meja kayu berkaki tiga milik Aneysia telah ditarik paksa hingga rusak, isinya berhamburan di atas lantai. Dan di tangan ibunya yang kurus dengan kuku-kuku yang kusam, selembar kertas brosur tebal berwarna biru langit teracung kaku. Kertas brosur resmi dari Kementerian Pendidikan tentang kompetisi karya tulis ilmiah nasional yang selama ini Aneysia sembunyikan di balik tumpukan buku joki.
Ibunya membalikkan badan. Wajah wanita itu tampak pucat, matanya yang cekung menatap Aneysia dengan tatapan yang sulit diartikan, perpaduan rasa tidak percaya, keputusasaan, dan amarah yang tertahan.
"Apa ini, Aneysia?" suara ibunya bergetar, parau dan dingin. Dia mengetukkan ujung jarinya ke baris tulisan tebal di brosur tersebut yang berbunyi: Fasilitas Beasiswa Penuh S1 dan Asrama Tempat Tinggal bagi Pemenang Utama.
Aneysia mematung di tempatnya berdiri, jemarinya yang masih basah karena air sabun mencengkeram pinggiran kain bajunya kuat-kuat. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dadanya, menimbulkan rasa ngilu yang instan di rusuk kirinya. Rahasianya yang dia jaga mati-matian runtuh dalam sekejap.
"Lo... mau pergi dari sini?" tanya ibunya lagi, suaranya meninggi, mulai serak. Wanita itu melangkah satu pukulan lebih dekat, meremas brosur itu hingga kertasnya lecek di dalam genggamannya. "Lo sengaja ikut lomba ini supaya bisa dapat beasiswa dan kabur dari rumah ini? Iya?!"
Aneysia mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Dia tidak bisa berbohong lagi. Sorot mata ibunya telah menelanjangi seluruh rencana masa depannya.
"Aneysia cuma mau kuliah, Bu," ucap Aneysia, suaranya bergetar hebat namun dia mencoba menahan agar tidak terdengar lemah. Dia menatap lurus ke mata ibunya. "Aneysia mau punya masa depan yang lebih baik. Kalau Aneysia menang, biaya kuliah dan tempat tinggal semuanya ditanggung pemerintah. Aneysia nggak akan merepotkan Ibu atau Ayah lagi."
"Merepotkan lo bilang?!"
Ibunya mendesis, air mata mendadak meleleh di pipinya yang tirus dan penuh kerutan. Bukannya merasa bangga atau senang, wanita itu justru menggelengkan kepalanya dengan histeris.
"Lo pikir kalau lo pergi, hidup gue di sini bakal jadi lebih mudah? Siapa yang bakal beresin rumah ini kalau bapak lo ngamuk? Siapa yang bakal bantuin gue nyari uang tambahan dari joki-joki tugas lo itu kalau lo enak-enakan tinggal di asrama kota besar?!" suara ibunya mulai berbaur dengan keputusasaan seorang wanita yang terjebak di dalam neraka dan menolak untuk ditinggalkan sendirian. "Lo egois, Aneysia! Lo anak kandung gue, tapi lo tega mau ninggalin gue membusuk sendirian di rumah ini bersama laki-laki itu!"
Hantaman kalimat ibunya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan fisik apa pun yang pernah diterimanya. Aneysia tercekat. Dia menyadari satu kenyataan pahit: di rumah ini, keberadaannya bukanlah sebagai seorang anak yang disayangi, melainkan sebagai tameng hidup dan mesin pencari uang yang tidak boleh dilepaskan.
Tepat saat Aneysia hendak membuka mulut untuk membela diri, terdengar suara derit berat dari ranjang ruang tengah, disusul suara langkah kaki yang terseret-seret dan berat menuju ke arah kamar mereka.
Debaran di dada Aneysia seketika berubah menjadi horor yang mencekam. Ayahnya sudah bangun.
Suara derit langkah kaki di ruang tengah mendadak terhenti, berganti dengan gumaman berat sang ayah yang kembali ambruk di atas dipan setelah menenggak sisa alkoholnya. Namun, kelegaan singkat itu sama sekali tidak menyelamatkan Aneysia dari badai yang nyata di dalam kamarnya.
Napas ibunya memburu, matanya merah menyalang menatap tumpukan kertas joki dan beberapa map plastik di sudut kolong meja kayu.
"Merasa lebih tinggi lo, hah?!" pekik ibunya dengan suara tertahan, seolah takut membangunkan raksasa di ruang tengah, namun penuh dengan racun yang mematikan. "Lo pikir dengan otak lo itu, lo bisa injak-injak gue? Lo mau pamer kalau lo bisa sukses dan ninggalin gue yang seharian cuma jadi babu di sini?!"
Sebelum Aneysia sempat bergerak, ibunya merangsek maju ke sudut kamar. Dengan gerakan kalap, wanita itu menarik paksa sebuah kotak kardus lusuh dari kolong tempat tidur, kotak tempat Aneysia menyimpan seluruh dunianya. Seluruh pembuktian bahwa dia bukan sekadar objek caci maki di rumah ini.
Braakk!
Isi kardus itu ditumpahkan begitu saja di atas lantai. Lembaran-lembaran piagam penghargaan berbahan kertas tebal, medali-medali olimpiade sains tingkat kota berwarna perak dan perunggu dengan tali rajutnya, serta buku-buku catatan rumus esensialnya kini berserakan tak berdaya.
"Bu, jangan! Aneysia mohon, Bu!" Aneysia menjerit lirih, maju menerjang untuk melindungi barang-barangnya.
Namun, kekuatan ibunya yang didorong oleh rasa iri dan keputusasaan yang ekstrem jauh lebih besar. Wanita itu menyentak bahu mungil Aneysia hingga gadis itu terjengkang ke belakang, menabrak pinggiran ranjang besi dengan keras hingga rusuknya kembali berdenyut ngilu.
Dengan tangan gemetar, sang ibu mengambil sebuah korek api gas hijau yang biasa tergeletak di atas lemari es luar.
Ctek.
Api kecil menyala. Tanpa ragu sedikit pun, ibunya menyulut sudut brosur kementerian yang sudah lecek, lalu melemparkannya ke atas tumpukan piagam penghargaan di lantai.
"Bu! Jangan, Bu! Itu usaha Aneysia!" Aneysia merangkak di atas lantai, air matanya luruh deras membasahi pipinya. Dia mengulurkan tangan telanjang untuk memadamkan api yang mulai melahap sudut kertas piagam juara pertamanya.
Cess.
Kulit jemarinya melepuh menyentuh jilatan api, memaksanya menarik tangan kembali sambil meringis histeris. Api dengan cepat membesar, melahap kertas-kertas tebal yang kering. Bau gosong kertas terbakar langsung memenuhi kamar yang pengap. Tali medali dari kain nilon mulai meleleh, mengeluarkan asap hitam yang pekat, sementara logam-logam medalinya perlahan menghitam tertutup abu.
Ibunya berdiri di dekat pintu, menyaksikan kobaran api kecil itu dengan napas tersengal-sengal dan senyum miris yang mengerikan. "Biar lo tahu diri, Aneysia. Biar lo ingat kalau lo itu lahir dari rahim gue, dan tempat lo tetap di sini. Di bawah gue. Jangan pernah mimpi bisa terbang lebih tinggi."
Aneysia bersimpuh di lantai, menatap nanar sisa-sisa lembaran kertas yang kini berubah menjadi serpihan abu hitam yang beterbangan ditiup hawa panas. Buku catatan rumus yang dia tulis dengan sisa lilin saat mati lampu, piagam yang dia menangkan dengan menahan lapar seharian di lokasi lomba, semuanya lenyap dalam hitungan menit, runtuh menjadi abu di depan matanya sendiri.
Dada Aneysia terasa begitu hampa, seolah-olah seluruh jiwanya ikut terbakar bersama tumpukan kertas itu. Dia tidak lagi berteriak. Di bawah pendar api yang perlahan meredup setelah menghabiskan bahan bakarnya, Aneysia hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengepalkan jemarinya yang melepuh di atas lantai yang kini kotor oleh jelaga hitam.
Asap hitam pekat dan bau gosong yang menyengat dari kain nilon medali yang meleleh rupanya tidak hanya memenuhi kamar pengap itu, tetapi juga menembus celah bawah pintu dan merayap ke ruang tengah.
Suara dengkuran berat di luar mendadak terhenti. Disusul oleh suara batuk kering yang keras dan umpatan kasar yang sangat akrab di telinga Aneysia.
Brak!
Pintu tripleks kamar Aneysia ditendang dari luar hingga gerendel berkaratnya jebol dan menghantam dinding. Ayahnya berdiri di ambang pintu. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya bercampur dengan bau asap pembakaran.
"Apa-apaan ini?! Rumah mau lu bakar, hah?!" raung ayahnya, suaranya menggelegar memenuhi rumah, membuat ibunya seketika menciut dan mundur ke sudut dekat lemari baju.
Pandangan ayahnya yang nanar beralih dari tumpukan abu di lantai, lalu turun menatap Aneysia yang masih bersimpuh dengan tangan melepuh. Alih-alih peduli pada luka anaknya, mata pria itu justru tertuju pada laci meja yang terbongkar, memperlihatkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan hasil joki tugas yang berceceran di lantai.
"Oh... jadi lo punya duit? Lo nyembunyiin duit dari gue?!"
Pertanyaan itu adalah lonceng kematian. Ayahnya merangsek maju, sepatu sol karetnya yang kotor menginjak sisa-sisa abu piagam Aneysia tanpa peduli. Pria itu menyambar kerah jaket pudar Aneysia, menyentak tubuh mungil gadis itu hingga berdiri paksa.
"Nggak, Yah... itu uang buat..."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Aneysia, membuat kepalanya terhentak ke samping. Rasa perih yang luar biasa langsung menjalar, namun belum sempat Aneysia mengimbangi tubuhnya, ayahnya sudah mencengkeram rambut panjangnya, menariknya ke belakang hingga Aneysia terpaksa mendongak menatap wajah penuh amarah di depannya.
"Buat apa?! Buat lo kabur?! Lo pikir gue nggak tahu lo mau lagak sok pinter kabur dari sini?!" bentak ayahnya tepat di depan wajahnya. Pria itu menendang meja kayu kaki tiga milik Aneysia hingga patah dan ambruk, menghancurkan satu-satunya tempat aman Aneysia untuk belajar. "Lo itu cuma pembawa sial di rumah ini! Tugas lo cuma nyari duit buat gantiin biaya gue ngebesarin lo, bukan malah belagu mau kuliah!"
Ibunya yang tadi menyulut api, kini hanya diam membeku di sudut kamar. Wanita itu melipat tangannya di dada, memalingkan wajah, sama sekali tidak berniat melerai saat suaminya melampiaskan amarah pada anak perempuan mereka. Di rumah ini, Aneysia selalu menjadi tumbal terdepan untuk meredam monster tersebut.
Dengan satu sentakan kasar, ayahnya mengempaskan tubuh Aneysia ke lantai. Kepala Aneysia membentur pinggiran ranjang besi, membuat pandangannya sempat memburam selama beberapa detik. Rusuk kirinya yang belum sembuh total kembali dihantam rasa sakit yang hebat hingga dia kesulitan untuk sekadar menarik napas.
Sembari memegangi perutnya yang kaku, Aneysia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya memunguti lembaran uang di lantai, lalu merampas tas sekolahnya dan menumpahkan seluruh isinya untuk mencari sisa uang yang lain.
Ayahnya mengambil lembaran uang terakhir di lantai, lalu melangkah keluar kamar sambil terus mengumpat, meninggalkan udara yang pekat oleh bau alkohol dan kepulan asap yang perlahan menipis. Sementara itu, ibunya hanya melirik dingin ke arah Aneysia sebelum akhirnya ikut melangkah pergi dan menutup pintu tripleks yang sudah rusak itu dengan bantingan keras.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar kecil itu.
Aneysia masih terkapar di atas lantai yang dingin. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan bergetar karena setiap tarikan napas memicu rasa nyeri yang luar biasa di rusuk kirinya. Pipi kanannya terasa kebas dan membengkak akibat tamparan ayahnya, sementara jemari tangannya yang melepuh berdenyut perih, menyisakan noda kemerahan di atas jelaga hitam yang mengotori lantai.
Namun, mengabaikan seluruh rasa sakit di tubuhnya, Aneysia bergerak lambat. Dia menyeret tubuhnya di atas lantai, merangkak menuju kasur kapuk yang tipis.
Dengan tangan yang gemetar hebat, dia merogoh ke bawah bantal yang robek. Begitu jemarinya merasakan permukaan kotak ponsel pemberian Mama Haizar masih utuh di sana, sebuah helaan napas lega yang menyakitkan lolos dari bibirnya. Benda itu selamat. Ayahnya terlalu buta oleh uang pecahan lima puluh ribuan di lantai hingga melewatkan tempat persembunyian ini.
Aneysia mengeluarkan ponsel itu dengan gerakan sangat hati-hati, takut noda abu di tangannya mengotori permukaannya yang bersih. Pendar layar digital yang redup menyala di kegelapan kamar, menampilkan waktu yang masih sangat pagi.