Bukan Rumah Aneysia

Thazaprilia
Chapter #9

Bab 9: Nilai Tukar

Pagi itu, udara sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Aneysia berjalan menyusuri koridor dengan langkah mantap, kepalanya tegak meski lebam di pipinya masih menyisakan rona kekuningan yang samar. Dia hanya menghitung hari. Tiga hari lagi pengumuman beasiswa, dan dia akan keluar dari rumah itu. Namun, langkahnya terhenti saat seorang siswa perwakilan OSIS mencegatnya di depan kelas.

"Aneysia, kamu dipanggil Pak Bama ke ruang kesiswaan. Sekarang."

Jantung Aneysia berdegup kencang, namun dia berusaha tenang. Dia pikir ini mungkin soal administrasi terakhir untuk pendaftaran beasiswanya. Namun, saat dia mendorong pintu kayu ruang kesiswaan, suasana di dalam ruangan itu tidak seperti yang ada dalam pikirannya.

Pak Bama, guru disiplin yang paling ditakuti, duduk di balik meja dengan wajah kaku. Di depannya, berserakan belasan lembar tugas Sosiologi dan Ekonomi yang tampak mencolok karena kesamaan struktur bahasanya.

Di sana, berdiri Fero dan tiga teman sekelasnya, mereka yang pernah membayar Aneysia untuk joki tugas. Wajah mereka tidak lagi tampak seperti "pelanggan", melainkan seperti gerombolan orang yang sedang memojokkan mangsa.

"Duduk, Aneysia," perintah Pak Bama dingin.

Aneysia duduk dengan tangan yang berkeringat dingin di pangkuannya.

"Kalian tahu kenapa saya memanggil kalian?" tanya Pak Bama, matanya menatap tajam satu per satu wajah di ruangan itu. "Saya menemukan pola yang mencurigakan dalam tugas-tugas kalian selama satu semester ini. Kalimat yang identik, analisis yang sama, bahkan kesalahan ketik yang persis di titik yang sama."

Aneysia merasakan tenggorokannya tercekat. Dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Saya tanya, siapa yang mengerjakan tugas-tugas ini?"

Keheningan menyelimuti ruangan. Detik berikutnya, Fero mengangkat tangan, namun bukan untuk mengaku. Dia menunjuk Aneysia dengan jari telunjuk yang gemetar, wajahnya dipenuhi ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.

"Aneysia, Pak. Dia yang melakukannya," ucap Fero dengan suara serak yang meyakinkan. "Kami... kami sebenarnya tidak pernah meminta. Tapi Aneysia memaksa. Dia bilang kalau kami tidak mau membayar jasanya, dia akan menyebarkan rumor buruk tentang kami ke seluruh sekolah. Dia mengancam kami, Pak."

Aneysia tersentak. Kepalanya berputar cepat. "Apa? Fero, jangan ngomong sembarangan! Kalian yang datang ke gue buat minta tolong!"

"Bohong, Pak!" sahut teman Fero yang lain, ikut bersandiwara. "Dia itu licik. Dia pura-pura jadi murid teladan, tapi ternyata dia memeras kami pakai tugas-tugas ini. Kami terpaksa membayar karena takut dengannya. Dia bilang dia punya koneksi dengan beberapa guru dan bisa bikin kami tidak naik kelas kalau tidak menuruti keinginannya."

Aneysia merasa dunia di sekelilingnya runtuh. Matanya membelalak, menatap Fero dan yang lainnya dengan rasa tidak percaya. Mereka tidak hanya membalikkan fakta, tetapi juga mengubah Aneysia menjadi penjahat yang memeras mereka.

Pak Bama menggebrak meja, membuat Aneysia terlonjak.

"Aneysia! Kamu sadar apa yang kamu lakukan ini? Ini pelanggaran akademik berat! Memperjualbelikan tugas, pemerasan, dan ancaman? Kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik sekolah ini!"

"Pak, tolong dengarkan saya," suara Aneysia bergetar, namun dia berusaha tetap tegak. "Saya tidak pernah mengancam siapa pun. Mereka yang datang minta bantuan karena mereka tidak bisa mengerjakan tugas itu. Saya cuma butuh uang, Pak, tapi saya tidak pernah-"

"Cukup!" bentak Pak Bama. "Bukti-bukti ini sudah cukup. Karena kamu terancam sanksi berat, pihak sekolah akan mempertimbangkan untuk mencabut hak kamu mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah nasional tahun ini. Kamu bukan siswa yang layak merepresentasikan sekolah ini dengan karakter seperti ini."

Dunia Aneysia seketika menjadi gelap.

Mendengar ancaman pencabutan hak kompetisi, pertahanan Aneysia nyaris runtuh. Itu adalah satu-satunya jalan keluarnya. Itu adalah tiket kehidupannya yang baru. Dan sekarang, hanya dalam hitungan menit, sekumpulan orang yang pernah dia bantu menghancurkannya demi menyelamatkan rapor mereka sendiri.

Fero dan teman-temannya saling berpandangan, menyembunyikan senyum kemenangan di balik wajah sok memelas mereka.

Aneysia berdiri di sana, dikepung oleh orang-orang yang dulu dia tolong dengan sisa tenaganya, merasa seperti selembar kertas yang dibakar habis di depan matanya sendiri.

***

Aneysia keluar dari ruang kesiswaan dengan tubuh yang terasa kosong. Lorong sekolah yang biasanya bising kini terasa seperti lorong hampa udara. Suara tawa Fero dan komplotannya yang samar-samar terdengar dari balik pintu kesiswaan menjadi duri yang menancap makin dalam di dadanya.

Mereka selamat. Mereka hanya mendapatkan teguran ringan karena dianggap sebagai "korban pemerasan", sementara Aneysia dihantam sanksi skorsing satu minggu dan rekomendasi pembatalan beasiswa yang sedang diproses oleh pihak kesiswaan ke kepala sekolah.

Dia berjalan tanpa arah, mengabaikan tatapan heran beberapa murid yang berpapasan dengannya. Dunianya runtuh lagi. Kali ini bukan oleh makian ibunya atau pukulan ayahnya, melainkan oleh tempat yang selama ini dia percayai sebagai tempatnya membuktikan diri.

Grep.

Sebuah tangan kokoh tiba-tiba mencengkeram lembut lengannya, menghentikan langkah linglung Aneysia tepat di koridor dekat laboratorium biologi.

"Ney? Lo dari mana aja? Gue cariin ke kelas gak ada," suara Haizar terdengar terengah-engah. Cowok itu tampaknya baru saja berlari mencarinya. Namun, begitu melihat sepasang mata Aneysia yang kosong dan tangannya yang bergetar hebat di balik perban, raut wajah Haizar langsung berubah drastis. "Ney... lo kenapa? Muka lo pucat banget."

Aneysia mendongak lambat, menatap wajah jernih Haizar yang selalu menjadi satu-satunya titik terang di hidupnya akhir-akhir ini. "Zar... joki tugasnya ketahuan."

Haizar tertegun. "Ketahuan? Kok bisa?"

"Fero... dia dan anak-anak lain bilang ke Pak Bama kalau gue yang maksa mereka. Gue dibilang memeras mereka pakai ancaman rumor," lirih Aneysia, suaranya parau, nyaris habis. "Pak Bama percaya. Beasiswa gue... nama gue akan dicabut dari kompetisi kementerian, Zar. Semuanya selesai."

Mendengar kalimat terakhir Aneysia, rahang Haizar seketika mengeras. Matanya berkilat marah, emosi yang sangat jarang dia tunjukkan mendadak bangkit. Cowok itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sialan," desis Haizar, suaranya rendah namun penuh dengan getaran amarah yang berbahaya. Dia langsung berbalik, berniat melangkah menuju ruang kesiswaan. "Biar gue yang ngomong sama Pak Bama. Gue yang ikut ngerjain tugas-tugas itu kemarin. Gue bakal bilang kalau-"

"Jangan, Zar!"

Aneysia menahan ujung seragam Haizar dengan cepat, memaksanya berhenti. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya yang masih lebam.

"Kalau lo masuk ke sana dan ngaku, lo juga bakal kena sanksi. Prestasi lo, olimpiade lo, masa depan lo di sekolah ini bakal hancur cuma-cuma," ucap Aneysia, menggelengkan kepalanya dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Cukup gue yang hancur, Zar. Jangan lo juga."

Haizar membalikkan badannya kembali, menatap Aneysia yang tampak begitu rapuh di depannya. Tanpa memedulikan beberapa pasang mata murid lain yang mulai memperhatikan mereka di koridor, Haizar melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.

Kedua tangan Haizar bergerak lembut, menangkup sisi wajah Aneysia yang tidak terluka, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya. Sentuhan jemari Haizar yang hangat dan tegas seketika memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Aneysia.

"Dengar gue, Aneysia Mahira," ucap Haizar, suaranya beralih menjadi sangat dalam, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Gue nggak akan membiarkan lo hancur sendirian. Nggak hari ini, nggak besok, nggak akan pernah. Mereka boleh punya seribu fitnah, tapi karya ilmiah lo sudah resmi terdaftar di kementerian atas nama lo sendiri. Sekolah nggak punya hak penuh untuk membatalkan sepihak tanpa proses panjang dari dinas."

Haizar mengusap air mata di pipi Aneysia dengan ibu jarinya dengan sangat hati-hati.

"Sekarang, lo ikut gue ke ruang BK. Kita ketemu Bu Alana. Beliau yang pegang berkas fisik lo, dan beliau tahu seberapa keras lo berjuang. Kita lawan mereka pakai cara yang benar," tegas Haizar, tatapannya begitu intens dan protektif, seolah menegaskan bahwa seluruh dunia boleh memunggungi Aneysia, namun dia akan tetap berdiri di sana sebagai tamengnya.

Aneysia terdiam, menatap lekat sepasang mata Haizar. Rasa hangat yang asing itu kembali merayap di dadanya, membakar habis rasa putus asa yang sempat melumpuhkannya tadi. Dia mengangguk pelan.

***

Haizar menggenggam pergelangan tangan Aneysia, menuntunnya menyusuri koridor menuju ruang Bimbingan Konseling (BK).

Lihat selengkapnya