Di dalam kamar kecil yang kini pengap karena ventilasi tertutup rapat, Aneysia duduk di tepi kasur kapuknya. Tubuhnya terasa begitu ringkih, lebam di pipinya telah berubah warna menjadi kehijauan yang samar, dan telapak tangannya yang melepuh mulai mengering, meninggalkan kulit ari yang mengelupas dan kaku. Setiap kali dia menarik napas dalam, rusuk kirinya masih terasa nyeri. Fisiknya lelah, namun mentalnya jauh lebih terkuras.
Rumah itu telah berubah menjadi makam yang sunyi sejak malam kedatangan rentenir. Ayahnya jarang keluar kamar, tenggelam dalam ketakutan akut dan sisa-sisa frustrasi judi, sementara ibunya memperlakukannya layaknya orang asing, tidak ada lagi makian, hanya tatapan dingin dan kosong yang memuakkan.
Aneysia menatap langit-langit kamar yang berjamur. Dia merenungkan seluruh kilas balik hidupnya. Mengapa dia harus lahir di rumah ini? Mengapa setiap lembar usaha yang dia raih dengan menahan lapar dan kantuk harus berakhir menjadi gunungan abu di sudut lantainya? Sering kali dia merasa seperti lilin yang dipaksa menerangi ruang bawah tanah yang basah, habis terbakar oleh ego orang lain tanpa pernah dirasakan kehangatannya.
Namun, hari ini adalah garis finis itu.
Hari Sabtu. Hari pengumuman kompetisi karya tulis ilmiah tingkat nasional oleh kementerian.
Aneysia meraih ponsel pemberian Mama Haizar yang dia sembunyikan di balik lipatan sarung bantal. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Pengumuman akan diunggah di situs resmi kementerian tepat pukul sepuluh. Satu jam lagi. Satu jam yang akan menentukan apakah dia akan tetap terkubur di rumah ini, atau terbang menjemput beasiswa penuh ke ibu kota.
Sebuah pesan masuk memotong lamunannya. Dari Haizar.
"Gue udah di depan gang rumah lo. Gue sengaja nggak masuk biar bapak lo nggak curiga. Lo mau buka pengumumannya di sini, atau bareng gue di luar?"
Aneysia menatap pintu kamarnya yang masih diganjal lemari plastik. Suara dengkur ayahnya terdengar samar dari ruang tengah, bersahut-sahut dengan denting piring yang dicuci ibunya di dapur luar. Berada di dalam rumah ini saat hasil itu keluar rasanya akan mencekik jiwanya. Dia butuh udara segar. Dia butuh melihat langit.
Dia mengetik balasan singkat:
"Gue keluar sekarang. Tunggu gue."
Dengan gerakan sangat pelan, Aneysia menggeser lemari pengganjal pintu, menyampirkan jaket milik Mama Haizar yang sengaja belum dia kembalikan sebagai jimat keberuntungannya, lalu menyelinap keluar melalui pintu samping dapur. Ibunya sempat menoleh saat Aneysia lewat, namun wanita itu hanya memalingkan wajah kembali ke wastafel, membisu.
Aneysia berjalan cepat menyusuri gang sempit. Begitu dia mencapai tikungan dekat tiang listrik yang lampunya mati, sebuah mobil sedan hitam yang familier sudah terparkir di sana.
Haizar berdiri di samping pintu kemudi. Cowok itu mengenakan jaket denim santai. Begitu melihat sosok Aneysia muncul, raut wajahnya yang tegang seketika melunak. Dia membuka pintu penumpang depan, mempersilakan Aneysia masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk dan wangi aroma teh hijau.
Begitu pintu tertutup, keheningan yang menenangkan langsung membungkus mereka. Haizar ikut masuk ke kursi kemudi, lalu menoleh menatap Aneysia. Dia memperhatikan jemari Aneysia yang saling bertautan erat di atas pangkuan, bergetar halus.
"Lo siap, Donat?" tanya Haizar lembut, suaranya seperti menahan Aneysia agar tidak hanyut oleh rasa cemas.
Aneysia menarik napas panjang, lalu mengangguk lambat. Dia mengeluarkan ponselnya, dan mengetik alamat situs resmi kementerian. Halaman muka situs tersebut sudah menampilkan spanduk besar bertuliskan: "Pengumuman Pemenang dan Penerima Beasiswa Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia."
Jarum jam di dasbor mobil berkedip, berganti ke angka 10:00.
"Zar... tangan gue gemetar," bisik Aneysia, menatap layar ponsel yang mulai memuat dokumen PDF hasil seleksi.
Haizar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengulurkan tangan kanannya, menyelimuti kedua tangan Aneysia yang dingin dengan genggamannya yang hangat dan kokoh. "Buka bareng gue. Lo udah sampai di sini, Ney. Nggak ada yang bisa nahan lo lagi."