Bukan Rumah Aneysia

Thazaprilia
Chapter #11

Bab 11: Tepat di Garis Akhir

Pukul 07.20 WIB. Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah lubang di dinding tripleks kamar Aneysia, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas kasur kapuk. Aneysia sudah siap. Dia mengenakan kebaya putih gading warisan neneknya yang dipadukan dengan kain batik tua. Jaket milik Mama Haizar disampirkan di bahunya, menyembunyikan lebam di lengan dan bekas luka di telapak tangannya.

Aneysia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin retak untuk terakhir kalinya. Hanya tinggal dua puluh lima menit lagi, pikirnya. Dia sudah mengantongi berkas-berkas penting di dalam tas kain kecilnya.

Namun, ketenangan pagi itu pecah saat suara deru motor berhenti kasar di depan rumah.

"Sialan! Kurang ajar mereka!"

Itu suara Mardi. Aneysia membeku di balik pintu kamarnya. Suara langkah ayahnya yang berat dan diseret terdengar tidak stabil. Ada suara rintihan tertahan, seperti seseorang yang baru saja menerima pukulan telak.

"Lo dari mana aja, hah?!" suara Dena menyambar dengan nada yang sama tingginya, namun dengan getaran amarah yang berbeda. "Pria itu... dia memutus semua akses gue! Kartu kredit gue diblokir, rumah yang dia janjikan buat gue juga ditarik balik. Semuanya gara-gara lo! Gara-gara utang judi lo yang nggak habis-habis itu, semua orang jadi tahu!"

Aneysia mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Di ruang tengah yang sempit, ayahnya terkapar di lantai dengan wajah lebam membiru dan pakaian compang-camping, jelas bekas dihajar para penagih utang pagi-pagi sekali. Ibunya berdiri di atasnya, wajahnya yang penuh riasan tebal kini berantakan, matanya melotot tajam.

"Gara-gara gue?" Mardi tertawa getir, suaranya parau dan basah oleh darah dari bibir yang pecah. "Lo pikir gue nggak tahu lo juga sering minta duit hasil joki anak lo itu buat perawatan muka lo?! Kita berdua ini emang sampah! Pernikahan muda kita ini cuma kutukan!"

"Oh, jadi sekarang lo mau nyalahin gue atas kemiskinan ini?" Dena maju, menjambak rambut Mardi dengan sisa tenaganya.

Keduanya mulai berkelahi hebat. Barang-barang pecah belah di meja ruang tamu disapu jatuh oleh tangan mereka, menciptakan suara ricuh yang memekakkan telinga. Pertengkaran mereka bukan lagi tentang cinta, tapi tentang siapa yang paling menderita karena pilihan hidup mereka yang salah. Mereka saling mencaci, mengungkit kegagalan masa muda, menyalahkan takdir, dan menumpahkan segala racun dalam hubungan mereka selama dua puluh tahun terakhir.

Aneysia memejamkan mata erat-erat, menahan rasa sesak di dadanya. Dia ingin keluar sekarang juga. Dia ingin berlari menembus kekacauan itu dan pergi ke persimpangan jalan di mana Haizar sudah menunggu.

Namun, tepat saat dia memegang gagang pintu, pertengkaran itu mendadak berhenti. Keheningan yang sangat pekat menyusul, sebelum langkah kaki yang berat dan kasar melangkah cepat menuju pintu kamar Aneysia.

Brak!

Pintu kamar itu ditendang hingga terbuka lebar. Ayahnya berdiri di sana dengan napas memburu, matanya yang bengkak tertuju lurus pada Aneysia yang sudah berpakaian rapi dengan kebaya. Ibunya menyusul di belakang, menatap Aneysia dengan sorot mata yang penuh kebencian.

"Lagi dandan lo, ya?" suara Mardi terdengar bergetar hebat. "Mau ke mana lo pagi-pagi gini? Mau kabur? Mau ninggalin kita di sini buat dikejar rentenir sampai mati?!"

"Bukan, Yah," jawab Aneysia seraya berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski kakinya bergetar hebat. "Aku cuma mau pergi sebentar. Ada urusan penting."

"Urusan penting, katanya?" Dena melangkah maju, mencengkeram lengan Aneysia hingga kuku-kukunya menusuk kulit gadis itu. "Lo pikir kita bodoh? Lo pasti mau nemuin cowok itu lagi, kan? Lo mau pamer kalau lo punya masa depan cerah sementara kita di sini membusuk gara-gara utang!"

"Aku nggak pernah bilang begitu, Bu..."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aneysia, membuat kepalanya terhentak ke samping.

"Anak nggak tahu diri!" teriak Mardi, ikut maju dan menjambak rambut Aneysia dengan kasar, menariknya keluar dari kamar menuju tengah ruangan. "Lo tahu mereka nyiksa gue pagi ini? Mereka bilang kalau utang itu nggak lunas besok, mereka bakal ambil ginjal gue! Dan lo... lo malah mau dandan cantik-cantik buat beasiswa sialan itu?!"

Ayahnya mencengkeram leher kebaya Aneysia, hampir merobek kain tua itu. "Sini lo! Lo nggak bakal ke mana-mana sampai lo kasih kita duit yang cukup buat nutupin utang ini! Gue nggak peduli lo mau menang apa, gue nggak peduli lo mau jadi menteri sekalipun! Hari ini, lo nggak bakal keluar dari rumah ini!"

Aneysia terhuyung, terjatuh di atas pecahan keramik vas bunga yang pecah tadi. Tangannya yang diperban terluka kembali perih, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan keputusasaan yang melilit lehernya. Jam di dinding ruang tengah menunjukkan pukul 07.35 WIB. Sepuluh menit lagi Haizar akan sampai di persimpangan.

Krieeet... sreeek.

Suara kain kebaya putih gading milik neneknya yang robek di bagian bahu terdengar begitu memilukan di tengah keheningan yang pecah. Ayahnya, yang sudah benar-benar kehilangan akal sehat akibat rasa sakit di sekujur tubuhnya dan ketakutan akan ancaman rentenir, mencengkeram kerah baju Aneysia dan menyentaknya kasar hingga tubuh mungil gadis itu terlempar menghantam lemari kayu tua.

Brak!

Punggung Aneysia membentur pintu lemari dengan keras, mengirimkan rasa nyeri yang luar biasa dari rusuk kirinya yang belum pulih. Belum sempat dia mengumpulkan kesadarannya, ibunya ikut merangkak maju. Rasa frustrasi karena kehilangan seluruh fasilitas mewah dari pria simpanannya membuat wanita itu melampiaskan seluruh kedengkiannya pada anak kandungnya sendiri.

"Anak pembawa sial! Kalau bukan karena melahirkan lo dulu, hidup gue nggak akan melarat kayak gini!" jerit ibunya histeris. Tangannya bergerak brutal, menjambak rambut panjang Aneysia dan menghempaskannya ke lantai yang kotor.

Aneysia meringkuk di lantai, kedua tangannya yang terbalut perban tipis refleks melindungi kepalanya. Air matanya mengalir deras, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang menghantam bertubi-tubi, melainkan karena kenyataan pahit bahwa darah dagingnya sendirilah yang sedang menyiksanya tanpa ampun.

"Mana uangnya?! Di mana lo sembunyiin sisa uang joki itu, hah?!" bentak ayahnya. Sebuah tendangan kasar mendarat telak di pinggang Aneysia, membuat gadis itu terbatuk, merasakan dadanya begitu sesak hingga sulit untuk sekadar menghirup oksigen.

"Nggak ada, Yah... demi Tuhan nggak ada..." bisik Aneysia parau di sela-sela tangisnya. Suaranya nyaris habis, tenggelam di antara caci maki kedua orang tuanya yang saling bersahutan seperti monster.

Ibunya melihat tas kecil yang tergeletak tidak jauh dari tubuh Aneysia. Dengan cepat, wanita itu mengambilnya, merobek resletingnya, dan menumpahkan seluruh isinya ke lantai. Berkas-berkas administrasi beasiswa, kartu identitas, dan surat undangan resmi dari kementerian berserakan di atas lantai yang berdebu.

"Oh, ini surat beasiswanya? Ini yang bikin lo merasa lebih tinggi dari kita?!" dengan mata penuh kebencian, ibunya mulai meremas dan merobek kertas-kertas penting itu menjadi serpihan tak berbentuk.

"Jangan, Bu! Tolong jangan..." Aneysia mencoba merangkak maju, mengabaikan rasa perih di lutut dan telapak tangannya yang kembali berdarah akibat pecahan vas bunga. Kertas-kertas itu adalah seluruh sisa hidupnya. Garis finisnya ada di sana.

Namun, ayahnya langsung menginjak pergelangan tangan Aneysia dengan keras, menahan gerakannya di lantai. Pria itu membungkuk, menatap Aneysia dengan pandangan mata yang kosong dan bengis. "Lo nggak akan ke mana-mana, Aneysia. Kalau gue harus membusuk di selokan karena rentenir, lo juga harus tetap di sini!"

Plak! Plak!

Dua tamparan keras kembali mendarat di wajah Aneysia secara bergantian, membuat sudut bibirnya pecah dan meneteskan darah segar ke atas lantai. Tubuh mungilnya kini lunglai, tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan atau memohon. Jaket milik Mama Haizar yang semula bersih kini telah kotor penuh debu dan noda darah.

Jarum jam di dinding terus berputar, menunjukkan pukul 07.44 WIB.

Satu menit lagi menuju waktu janji mereka. Di ujung gang sana, di dekat tiang listrik yang mati, Haizar mungkin baru saja menghentikan mobilnya, menatap arloji dengan cemas sembari menunggu sosok "Donat"-nya muncul di persimpangan jalan. Namun, di dalam rumah yang gelap dan terkunci ini, Aneysia sedang sekarat di tangan orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Pukulan berikutnya tidak lagi terdengar sebagai benturan fisik, melainkan dengung panjang yang pekat di dalam kepala Aneysia.

Pandangannya memburam, menyempit menjadi sebaris celah abu-abu. Dunia di sekelilingnya bergerak lambat dengan cara yang mengerikan. Dia bisa melihat sepasang kaki ayahnya yang kotor oleh tanah kering kembali terangkat, mengambil ancang-ancang, namun saraf di tubuh Aneysia sudah terlalu lumpuh untuk mengirimkan sinyal bahaya. Ketika ujung sepatu itu menghantam telak rusuk kirinya untuk kesekian kali, yang terdengar hanya bunyi krek halus yang meredam di balik daging, disusul rasa panas mendidih yang menjalar cepat hingga ke kerongkongannya.

Aneysia tersedak. Cairan kental berbau karat besi merembes keluar dari sudut bibirnya yang pecah, menetes lambat, membasahi anyaman benang kebaya putih gading di bagian dada yang kini telah kehilangan bentuk aslinya.

Di atasnya, bayangan ibunya bergerak-gerak liar. Tangan wanita itu, yang kuku-kukunya masih menyisakan sisa cat kuku merah muda yang mengelupas, menjangkau kerah kutubaru Aneysia yang sudah robek setengah dada. Sentakan kasar itu menyeret tubuh mungilnya di atas permukaan lantai yang kasar. Gesekan itu mengoyak kulit bahunya yang telanjang, meninggalkan jejak baret merah berdarah di atas lantai yang berdebu. Kepala Aneysia terkulai ke samping, menghantam kaki meja makan kayu yang kokoh.

Lihat selengkapnya