Aroma cairan antiseptik yang pekat dan bunyi suara monitor yang monoton menjadi penanda bahwa waktu telah bergerak maju. Dua minggu telah berlalu sejak badai di ambang fajar itu meremukkan tubuh Aneysia. Dua minggu pula lorong di depan ruang ICU menjadi saksi bisu keteguhan seorang Haizar.
Cowok itu duduk di kursi besi yang sama, namun penampilannya kini jauh lebih rapi dibandingkan hari pertama. Kemeja flanelnya bersih, dan noda darah yang sempat mengerak di tangannya telah lama hilang disapu air mengalir. Namun, gurat kelelahan di bawah matanya tidak bisa disembunyikan. Di atas pangkuannya, sebuah laptop menyala menampilkan dokumen laporan medis, kronologi kejadian dari pihak kepolisian, serta surat resmi penangguhan beasiswa dari kementerian yang berhasil diperjuangkan oleh Mama Haizar.
Semua pengaman hukum telah terpasang. Orang tua Aneysia kini berada di bawah pengawasan ketat kepolisian atas kasus kekerasan dalam rumah tangga, menanti proses hukum begitu korban dinyatakan pulih untuk memberikan kesaksian. Rumah tua itu telah disegel. Rantai itu telah resmi diputus oleh Haizar.
Krieeet.
Pintu geser ICU terbuka. Dokter spesialis yang menangani Aneysia melangkah keluar sambil melepas masker medisnya. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak sedikit lebih rileks.
Haizar langsung menutup laptopnya dan berdiri tegak. "Bagaimana, Dok?"
Dokter itu tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka dalam dua minggu terakhir. "Refleks batuknya sudah kembali dengan baik pagi ini. Akumulasi cairan di paru-parunya akibat trauma rusuk sudah jauh berkurang, dan respons neurologisnya positif. Kami baru saja melepas selang ventilatornya."
Jantung Haizar berdebar. "Artinya... dia sudah bisa bernapas sendiri?"
"Ya. Dia sudah melewati masa kritisnya. Saat ini dia sedang dipindahkan ke masker oksigen biasa untuk latihan pernapasan mandiri. Dan yang paling penting," dokter itu menepuk bahu Haizar pelan, "dia sudah mulai membuka mata. Kamu boleh menjenguknya sekarang. Tapi tolong, jangan buat dia terlalu banyak bergerak atau bicara dulu."
Haizar mengangguk cepat, tenggorokannya mendadak tercekat oleh rasa lega yang memuncak hingga ke dada. Setelah mengenakan jubah steril hijau dan mencuci tangannya, Haizar melangkah masuk melewati pintu kaca yang selama ini memisahkan mereka.
Di dalam bilik yang tenang itu, Aneysia terbaring dengan posisi kepala sedikit ditinggikan. Wajah mungilnya tidak lagi sebengkak dua minggu lalu, lebam kebiruan di pipinya telah memudar menjadi warna kekuningan yang samar. Sebuah kanula oksigen terpasang di hidungnya.
Saat mendengar langkah kaki mendekat, kelopak mata Aneysia bergerak perlahan. Dia membuka matanya dengan lambat, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit ruangan yang putih bersih, bukan langit-langit berjamur rumahnya. Ketika matanya bergulir ke samping dan menangkap sosok Haizar, binar redup namun sarat akan kesadaran muncul di sana.
Haizar berjalan perlahan, lalu duduk di kursi samping ranjang. Dia tidak langsung menggenggam tangan Aneysia karena tahu bekas luka di sana masih dalam proses pemulihan. Dia hanya menatap sepasang mata itu dengan senyuman paling tulus yang bisa dia berikan.
"Hai, Donat," bisik Haizar lembut, suaranya terdengar serak. "Selamat datang kembali."
Aneysia mencoba menggerakkan bibirnya yang masih kering dan pecah-pecah. Suara yang keluar dari tenggorokannya sangat lirih, nyaris berupa embusan angin. "Zar... be... beasiswa..."
Mendengar kata pertama yang keluar dari mulut gadis itu adalah tentang impiannya, Haizar terkekeh pelan, sebuah kekehan yang bercampur dengan rasa haru yang mati-matian dia tahan.
"Tenang," Haizar merogoh kantong kemejanya, mengeluarkan selembar surat resmi berlogo kementerian dengan cetakan nama ANEYSIA MAHIRA yang didapatkan Mama Haizar dua hari lalu. Dia membentangkan surat itu di depan mata Aneysia. "Juara satu lo nggak ke mana-mana. Pihak kementerian sudah tahu kondisinya. Begitu lo keluar dari rumah sakit ini dan bisa berjalan tegak, mereka bakal adain seremonial khusus buat lo."
Air mata menetes lambat dari sudut mata Aneysia, membasahi bantal rumah sakit. Namun kali ini, tidak ada rasa sakit yang menyertainya.
"Lo udah menang, Ney. Lo udah keluar dari rumah itu lewat pintu depan, dan lo nggak akan pernah harus kembali ke sana lagi," lanjut Haizar, sorot matanya mengunci pandangan Aneysia, memberikan kepastian yang selama ini dicari gadis itu.
Aneysia memejamkan matanya sejenak, menghirup oksigen yang terasa begitu bersih dan lapang di dadanya. Rasa perih di rusuknya masih ada, namun hawa dingin dan mencekam dari rumah itu telah sepenuhnya menguap.
Namun, kehangatan dari selembar surat berlogo kementerian itu tidak bertahan lama.
Binar redup di sepasang mata Aneysia mendadak kehilangan fokusnya. Surat yang berada di depan wajahnya seolah memudar, menjauh, dan tergantikan oleh bayangan kelabu yang pekat. Masker oksigen di hidungnya seketika dipenuhi embun napas yang memburu pendek, patah-patah, sebelum dadanya yang ringkih mendadak terhenti dalam satu tarikan napas yang teramat berat.