Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #1

Chapter I: (Ashlyn Aprilia)

Aku hampir tidak mengenali perempuan di cermin itu. Wajahnya dipulas rapi—foundation halus, pipi merona, bibir merah muda yang tampak “siap”. Rambutnya disanggul sederhana, dihias bunga kecil yang terlalu manis untuk seseorang yang ingin kabur dari hidupnya sendiri.

Cantik, kata orang. Namun, aku tahu, itu bukan wajah bahagia.

Aku menatap pantulan itu lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu yang terasa asing. Seolah-olah perempuan di sana sedang berperan menjadi seseorang yang bukan dirinya.

“Ashlyn, jangan bengong terus. Senyum.”

Suara Mama muncul dari belakang, disertai aroma parfum yang terlalu kuat. Tangannya menyentuh bahuku, ringan tapi cukup untuk membuatku menegang.

“Apa susahnya sih senyum sebentar?” bisiknya pelan, tapi nadanya cukup tajam untuk melukai.

Aku menarik sudut bibirku naik. Sekadar formalitas. Mama menghela napas, tidak puas. “Ya sudah. Lumayan.”

Lumayan. Aku menelan kata itu dalam diam.

“Para tamu sudah datang. Jangan bikin malu.”

Kalimat itu lagi. Selalu tentang malu. Selalu tentang orang lain. Tidak pernah tentang aku. Kebaya yang kupakai terasa sempit. Bukan hanya karena ukurannya, tapi karena rasanya seperti penjara.

Aku berdiri dengan bantuan Mama dan perias. Kainnya terlalu ketat, langkahku kecil-kecil, seperti orang yang sedang belajar berjalan di hidup yang bukan miliknya.

Ruang tamu sudah ramai. Aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku bahkan sebelum benar-benar melihat siapa saja yang duduk di sana. Suasana itu… pengap. Penuh harapan yang bukan milikku.

Seketika aku bisa melihat. Tamunya yang ingin dijodohkan denganku ternyata adalah Candra. Rekan kerja Mbak Anaya, kakakku yang berprofesi sebagai guru ASN. Aku hampir ingin tertawa. Jadi ini “pilihan terbaik” Mama? Ya, aku tahu keluarga Candra dengan mamaku memang dekat. Alasan mamaku menjodohkanku dengannya pasti karena keluarga Candra termasuk keluarga berada di desa sebelah. Bapaknya Camat. Lalu, punya warisan tanah dan rumah. Namun, tetap saja aku kurang sreg dengannya. Secara Candra sendiri profesinya masih sama kayak aku. Sama-sama guru honorer. Kalau sama-sama penghasilan seuprit buat apa menikah? Harta orang tuanya pun nggak bakal guna. Niatku adalah setelah menikah fokus di rumah saja.

Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak sejauh mungkin tanpa terlihat tidak sopan. Tanganku dingin. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya—bukan karena gugup, tapi karena marah yang sudah terlalu lama kupendam.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Berhubung Nak Anaya sudah ada di sini, langsung saja kami sampai maksud kedatangan kami datang ke sini adalah untuk melamar Nak Ashlyn untuk anak saya bernama Candra,” Suara bapaknya Candra terdengar formal, seperti pembukaan rapat. Kata-katanya mengalir, rapi, sopan, tapi bagiku semuanya terdengar seperti satu hal: keputusan yang sudah dibuat tanpa melibatkanku.

”Alhamdulillah. Saya sangat tersanjung dan berterima kasih atas lamaran Pak Camat sekeluarga. Namun, kembali lagi bahwa yang menikah adalah anak saya bernama Ashlyn. Jadi saya serahkan keputusan ini ke anak saya,” jawab bapakku.

Aku melirik Bapak. Seperti biasa, beliau diam. Wajahnya datar, sulit ditebak. Aku ingin percaya bahwa beliau ada di pihakku, tapi dalam rumah ini… diam sering kali berarti setuju. Sejatinya Bapak tidak pernah bisa menolak titah Mama dan Mbak Anaya.

“Iya, Nduk. Ibu sangat berharap Nak Anaya jadi menantu Ibu. Sudah cantik, pintar dan mandiri pula. Kalau kamu bersedia nikah dengan Candra, kamu mau mahar apa, Nduk? Ibu sudah siapkan satu set perhiasan emas, tanah, rumah, kalau minta umroh juga boleh,” tutur ibunya seraya tersenyum.

Aku tersenyum kecut. Ucapannya terlihat sekali riya dan pamer kekayaan. Dikira aku bisa luluh dengan kekayaan mereka gitu?

Aku menarik napas panjang. Lalu, embuskan perlahan sebelum menjawab lamaran Candra. “Sebelumnya saya sangat berterima kasih ke Mas Candra karena sudah repot-repot membawa keluarga besar untuk melamar saya. Namun, mohon maaf saya belum bisa menerima lamaran Mas Candra.”

Lalu, aku pura-pura sakit kepala dan sakit perut. “Maaf, saya kurang enak badan. Hari pertama haid. Jadi saya pamit ke kamar duluan.”

Bohong. Namun, ini satu-satunya cara agar aku bisa keluar tanpa menjelaskan lebih banyak. Aku berjalan kembali ke kamar. Langkahku lebih cepat dari sebelumnya, meski kebaya ini menyulitkan. Begitu pintu tertutup, aku langsung menguncinya.

Klik. Sunyi. Akhirnya.

Aku bersandar di pintu. Tanganku gemetar. Bukan karena takut, tapi karena lega. Aku menutup mata. Untuk pertama kalinya, aku menolak sesuatu yang mereka inginkan dariku. Rasanya… aneh. Ada rasa bersalah. Sisi lain, ada sesuatu yang lain. Kebebasan kecil.

***

Benar saja sesuai dugaanku, malam harinya aku dipaksa makan malam di ruang makan. Tujuannya tentu saja Mama dan Mbak Anaya menyidangku. Aku sudah siap mendengar omelan mereka.

“Ashlyn, apa-apaan sih nggak sopan banget nolak lamaran Candra. Mau ditaroh di mana muka Mama sama Pak Camat sekeluarga?” Mama yang duluan melemparkan omelan.

“Iya loh, kurang apa coba Candra. Kalau kamu menikah dengannya hidupmu terjamin,” sahut Mbak Anaya.

Lihat selengkapnya