Pintu apartemen terbuka dengan bunyi klik pelan.
Aku melangkah masuk perlahan, seperti takut semua ini hanya mimpi yang akan hilang kalau aku bergerak terlalu cepat. Sepi. Bukan sepi yang menakutkan. Sepi yang… asing.
“Mulai sekarang ini jadi apartemenmu. Semoga suka ya. Oh iya, ini kartu kuncinya.” Om Eko merogoh saku celananya. Sesaat kemudian menyerahkan black card kepadaku. “Nah, kalau kamu mau beli perabotan, kamu bisa gunakan kartu ini.”
Seumur hidup baru kali ini aku memasuki apartemen. Bahkan kini aku menempati apartemen yang luasnya jauh lebih luas dari rumah orang tuaku. Aku yang sedari tadi melongo, nggak bisa berkata-kata lagi hanya bisa mengangguk. “Makasih banyak, Om. Ini lebih dari cukup. Saya bakal balas semua dengan giat bekerja di perusahaan, Om. Om boleh potong gaji saya per bulan.”
“Santai saja.” Om Eko mengangkat kedua tangannya untuk melihat jam. “Sudah malam. Saya pulang dulu. Kamu istirahat saja biar besok fresh masuk kerjanya.”
Aku mencium tangan Om Eko. “Sekali lagi terima kasih banyak, Om.”
Sepulangnya Om Eko, aku menutup pintu di belakangku. Suara kunci yang berputar terdengar jelas, bergema di ruangan luas yang belum benar-benar terasa milikku.
Apartemen ini terlalu rapi. Terlalu bersih. Terlalu… tidak berjejak. Tidak ada suara Mama yang memanggil dari dapur. Tidak ada televisi menyala dari pagi sampai malam. Tidak ada Mbak Anaya yang mengeluh tentang hidupnya. Harusnya aku lega. Di saat yang sama, ada sesuatu yang kosong.
Aku berjalan pelan, menyusuri seluruh ruangan apartemen. Ada dua kamar dan 1 kamar mandi. Fasilitas pun lengkap. Sudah ada AC, TV, meja makan, sofa bed, lemari, bathtub, dan king bed. Ujung jariku menyentuh permukaan meja, sofa dan dinding. Seolah-olah aku sedang memastikan semuanya nyata.
“Aku beneran di sini…”
Kalimat itu keluar pelan. Aku tersenyum sendiri. Ini yang aku mau, kan? Keluar dari rumah. Punya ruang sendiri. Mulai hidup baru. Aku menjatuhkan tubuhku ke sofa. Langit-langit putih menyambut pandanganku.
“Mulai sekarang… semuanya beda.”
Aku mengatakannya seperti janji. Dan seperti semua janji, aku belum tahu akan mampu menepatinya atau tidak.
“Ya Allah nikmat mana lagi yang kau dustakan? Mungkin ini balasan Allah karena aku telah sabar menghadapi Mama dan Mbak Anaya.”
***
Aku berdiri di depan gedung tinggi dengan nama besar terpampang di atasnya: AT Picture.
Tanganku menggenggam tas lebih erat dari biasanya. Aku menelan ludah. Aku sudah menunggu ini bertahun-tahun. Mimpi yang dulu hanya berani kupikirkan diam-diam… sekarang ada di depan mata. Kenapa rasanya bukan bahagia? Kenapa rasanya… takut?
12 tahun terakhir aku nggak pernah kerja kantoran. Hanya freelance. Edit atau layout novel orang. Di sosial media banyak yang mengeluh tentang dunia kantoran, konon penuh orang-orang toxic. Aku berharap di kantor ini orang baik-baik.
Aku terus mengekori langkah Om Eko. Beliau masuk lift. Aku ikut masuk bersama beliau. Lift bergerak naik perlahan. Angka-angka berubah satu per satu.
7…
9…
12…
Ting.
Pintu terbuka. Aku melangkah keluar. Sejak langkah pertama itu, aku tahu… aku tidak diterima di sini.
Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Meja-meja berjajar rapi, komputer menyala, dan orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Atau setidaknya… terlihat sibuk. Karena begitu aku masuk semua mata langsung tertuju padaku. Bukan tatapan penasaran. Bukan juga ramah. Tatapan yang… dingin. Menilai. Menghakimi.
“Pagi semua.”
Suara Om Eko memecah suasana.
“Kenalkan, ini keponakan saya, Ashlyn Aprilia. Mulai hari ini dia menggantikan Dianita sebagai head script writer.”
Sebelum ke sini, Om tadi di mobil bilang posisiku menggantikan Mbak Dianita Devi, head script writer. Dia resign karena sudah hamil 7 bulan. Ada empat orang yang menjadi timku menggarap skenario.
Hening. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada senyum. Hanya bisik-bisik pelan yang tidak perlu kudengar untuk tahu isinya.
Aku tetap tersenyum. Refleks. Kebiasaan lama. “Salam kenal semuanya. Mohon bantuannya, ya.”
Tidak ada yang menjawab.
"Hari ini kalian santai dulu aja. Sambil kenalan sama Ashlyn. Besok baru kita meeting bahas project film bulan ini. Segitu saja yang bisa saya sampaikan, saya permisi dulu.”
Om Eko keluar. Suasana berubah.
“Serius nih Pak Eko masukin di ke sini?”
Suara itu terdengar jelas.mAku menoleh. Seorang perempuan—Aruna, kalau tidak salah dari name tag—menatapku dengan ekspresi yang tidak berusaha disembunyikan. Sinis.
"Head script writer?” lanjutnya. “Baru dateng langsung duduk di atas?”
Tidak ada yang menegurnya. Tidak ada yang membelaku. Aku berdiri di sana, seperti orang asing di tempat yang seharusnya jadi awal baru.
“Aku—”