Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #3

Chapter III: (Andika Sena)

Gue bukan tipe orang yang gampang tertarik sama orang baru. Apalagi di kantor. Apalagi kalau orang itu datang dengan label yang udah keburu bikin semua orang sinis dengan julukan “Orang dalam.” Biasanya, gue bakal ikut cuek. Bukan karena setuju, tapi karena males ribet. Entah kenapa, kali ini beda.

“Brilian.”

Kata itu keluar dari mulut Pak Eko tanpa ragu. Gue setuju. Ide ceritanya fresh. Nggak asal horor. Ada sesuatu di baliknya. Itu jarang, tapi yang lebih menarik bukan idenya. Melainkan cara dia berdiri di depan semua orang yang jelas-jelas nggak suka sama dia—dan tetap jalanin presentasi premis dan sinopsis tanpa goyah.

Nggak salah Pak Eko membawa dia ke kantor ini. Walau katanya nggak pernah kerja di PH film, garap skenario, tapi dia sangat paham dengan dunia perfilman.

Rapat presentasi karya Ashlyn telah selesai. Gue masih terpaku mengagumi Ashlyn. Terlihat dia sibuk beres-beres barangnya di meja rapat.

“Sumpah, tadi aku deg-degan banget loh. Secara aku kan masih cupu banget tentang perfilman. Takut ide karyaku dihujat karyawan lain. Apalagi Aruna noh yang julid nauzubillah.”

“Nggak loh. Justru kamu malah terlihat profesional dan berpengalaman di industri perfilman.”

“Ah, masa sih. Bisa aja kamu.”

Ashlyn mengangkat tangan kanannya. Matanya melirik jam yang melingkar di sana. “Baru jam empat sore ternyata. Jam pulang kantor tuh jam lima sore kan ya?”

“Normalnya sih iya. Beda lagi kalau Pak Eko rese tiba-tiba ngasih tugas deadline dadakan yang bikin kita lembur semalaman.”

“Eh, Pak Eko emang sering rese ya?”

“Bukan sering lagi. Hampir setiap saat malah. Moga kamu kuat jadi karyawan di sini sekaligus ponakan beliau. Hahaha.”

“Ups. Malah gibahin Pak Bos. Ya udah yuk balik ke ruang kerja.”

Gue berdiri. Lalu, merapikan celana yang sempet melorot. Gue berjalan beriringan sama Ashlyn. Semua mata tertuju sama kami. Pasti habis ini bakal muncul gosip gue pacaran sama Ashlyn. Alah, lagu lama perusahaan.

Kami berpisah saat tiba di depan ruangan gue. Gue masuk ke ruangan. Sisa satu jam sebelum jam pulang kerja. Baru awal bulan, belum ada kerjaan naskah. Gue santai muter-muterin kursi dan main HP scroll Instagram.

Di beranda Instagram terpampang pengumuman lomba DKJ. Dewan Kesenian Jakarta. Lomba menulis bergengsi karena hadia utama 25 juta. Mata gue melebar ketika melihat dua nama pemenang adalah sosok gue kenal.

Gue screenshot banner bertulisan nama pemenang. Lalu, gue kirim ke grup Whatsapp PPSUM Squad. Sedikit gue jelasin tentang grup ini.

PPSUM singkatan dari Pesona Pria Single Usia Matang. Grup gibah sirkel pertemanan terdekat gue. Awalnya nama grupnya ganti-ganti. Terakhir si Akbar yang mengganti nama PPSUM Squad. Dan semua pada setuju. Isinya adalah cowok-cowok usia matang yang kagak niat nikah. Gue ceritain satu per satu personel grupnya.

Ragiel, penulis asal Yogyakarta. Umurnya sekitar 36 tahun. Lebih tua dari gue setahun. Gue kenal dia sudah lama. Dari grup menulis di Facebook tahun 2013. Karier Ragiel kini meningkat pesat. Bahkan novelnya tahun lalu berhasil difilmin. Alasan dia nggak niat nikah ya karena penghasilan utamanya gaji UMR Yogyakarta. Merasa untuk dirinya sendiri saja masih kurang, apalagi nafkahin wanita.

Ansar Siri, penulis asal Makassar. Umurnya dua tahun lebih muda dari gue. Kelahiran 1992 kalau nggak salah. Karier Ansar Siri juga no kaleng-kaleng. Terakhir dia menang kompetisi Karyakarsa kerjasama dengan aplikasi audio Noice. Gue pernah mengajukan ke Pak Eko karya meminang karya Ansar jadi film di PH ini, tapi Pak Eko tidak tertarik. Katanya untuk jadi film kurang menjual. Selera Pak Eko memang susah ditebak.

Robi, kelahiran 1993. Kalau yang ini bukan penulis. Cuma kerja di pabrik. Dia tetangga kos gue. Alasannya nggak nikah karena dia bagian Sandwich generation. Gajinya habis buat kirim ke orang tua di kampung.

Terakhir ada Akbar Suganda. Ini bestie gue sejak kuliah. Lahir tahun 1991. Dia juga bukan penulis. Kerja jadi head marketing showroom mobil. Dia ganteng. Banyak dikejar cewek-cewek. Namun, nggak ada satu pun cewek yang nyantol hatinya. Dia nggak niat nikah karena merasa terlalu nyaman sendiri. Sebelas dua belas lah kayak gue.

Awalnya iseng doang menyatukan mereka satu grup. Ternyata mereka satu frekuensi. Bahkan sudah pernah mengumpul alias kopi darat bareng.

Gue:

Ciyeeee @ragiel dan @ansar masuk daftar pemenang DKJ. Uhuy. Bakal ke Jekardah nih.

Muncul balasan Ragiel JP.

Udah masuk undangannya nih. Kayaknya aku nggak bisa datang. Tau sendiri sekarang aku kerja di rumah makan. Mana bisa cuti seenaknya. Apalagi masih karyawan baru.

Gue:

Kalau @ansar bisa berangkat ke Jekardah nggak nih?

Lihat selengkapnya