Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #4

Chapter IV: (Ashlyn Aprilia)

Kereta penuh. Seperti biasa. Tubuhku terhimpit di antara orang-orang yang bahkan tidak kukenal. Bau parfum bercampur keringat memenuhi udara. Tanganku berpegangan pada tiang, berusaha menjaga keseimbangan setiap kali kereta berhenti mendadak.

Aku menatap kosong ke depan. Hari ini baru dimulai. Dan aku sudah lelah. Aku baru sadar satu hal. Pergi dari rumah tidak otomatis membuat hidup menjadi ringan. Kadang … kamu hanya menukar satu tekanan dengan tekanan yang lain. 

Setelah 30 menit berdesak-desakan di KRL, akhirnya sampai juga di apartemen. Aku pulang dengan tubuh lelah. Lift terasa lebih lama dari pagi tadi. Atau mungkin… aku saja yang terlalu capek. 

Pintu apartemen terbuka. Sepi itu menyambut lagi. Kali ini, rasanya berbeda. Lebih berat. Aku melepas sepatu. Lalu, melempar tas ke sofa dan duduk di lantai. Aku tidak menangis. Aku hanya diam.

“Fyuh, capeknyaaa. Gini ya rasanya kerja kantoran dari pagi sampai sore. Belum lagi ntar kalau jatah lembur.”

Aku buka tas. Seketika mengambil ponsel. Sebelum bersih-bersih badan, aku scroll sosial media dulu. Saking banyaknya pekerjaanku, hari ini nggak sempat buka sosial media.

Baru beberapa detik di tangan, ponsel pintarku bergetar. Di layarnya tertulis Fira. Aku geser icon telepon ke warna hijau tanpa menerima panggilan darinya.

“Halo, bestiku yang baik hati nan tukang jajan. Hahaha.”

“Halo juga, bestiku si paling nggak enakan dan suka khilaf check out Shopee tengah malam.”

Begitulah sapaanku dengan Fira setiap kami bertemu atau teleponan.

“Ciyeee … yang sekarang udah jadi Mbak-mbak kantoran. Udah lupa nih keknya sama besti yang nemenin dari orok.”

“Mana mungkin aku lupa sama kamu.”

“Buktinya udah beberapa hari di Jakarta, nggak langsung ngabarin.” Nada bicara Fira terdengar jelas di telingaku lagi ngambek.

“Maaf. Beneran nggak sempet buka HP. Waktuku habis macet-macetan di jalan dan desak-desakan di kereta.”

“Iya deh, aku percaya. Sehat-sehat ya di Jakarta.”

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Ternyata ada telepon baru masuk juga. Dari Mama. 

“Eh, Fir, udah dulu ya. Ada telepon juga dari Mama nih.”

“Ya udah, aku juga mau mandi. Aku cuma mau tau kabarmu aja kok. Bye, Besti.”

Sekarang giliranku terima telepon dari Mama.

“Iya, Ma. Ada apa?” Nada bicaraku lemas. Entah kenapa kalau bicara sama Mama itu bawaannya bikin malas. Yang sudah-sudah, tiap Mama mengajakku bicara kalau nggak butuh uang ya butuh tenagaku buat bantu jualan.

“Aslyn, kamu kok sampai Jakarta nggak ngabarin orang tua. Mama khawatir.”

Alah, pret, batinku.

“Maaf, Ma. Nggak sempet megang HP. Sudah capek di kantor dan di jalan.”

“Gimana hidup di Jakarta? Enak?”

“Ya gitulah.”

“Ommu bilang ke Mama kalau kamu ditempatkan di apartemen dia. Terus dikasig kartu juga buat belanja kebutuhan selama sebulan ya? Bisa kali kamu transfer uang ommu buat Mama dikit. Buat beli beras. Mbak sama Adekmu belum ngasih jatah bulanan.”

Aku mendesah napas berat. Di kantor, aku dianggap tidak pantas. Di rumah, aku hanya diingat saat dibutuhkan. Soal duit. Susah memang punya orang tua yang pola pikirnya anak adalah investasi masa tua. 

“Ya nggak bisa dong, Ma. Aku baru kerja dua hari belum gajian. Kartu yang dikasih Om Eko itu kartu kredit. Hanya bisa dipakai buat beli barang aja.”

Tit. Ponsel pintarku berbunyi. Aku lirik layarnya. Tertera pemberitahuan bahwa baterai sisa 10%. Aku semringah. Pas sekali bisa kujadikan alasan buat mengakhiri sambungan telepon dengan Mama. Males sekali mendengarkan keluhan Mama tentang duit.

“Udah dulu ya, Ma. Baterai HP-ku udah mau abis nih.”

Jleb. Sambungan telepon mati dengan sendirinya. Aku menatap layar yang kembali gelap. Lalu, menaruh ponsel itu pelan.

Huft, lagi-lagi aku mendengus napas berat. Aku pikir hijrah ke Jakarta hidupku akan bahagia karena berhasil lepas dari orang tua toxic. Nyatanya, aku salah. Tidak semudah itu melepaskan diri dari orang tua. Terbayang beberapa tahun ke depan aku jadi anak bagian sandwich generation. Uang gajian hasil kerjaku habis buat kirim ke orang tua doang. Ya sudahlah. Mau gimana lagi coba. Nikmati dan syukuri aja.

“Maaf. Beneran nggak sempet buka HP. Waktuku habis macet-macetan di jalan dan desak-desakan di kereta.”

“Iya deh, aku percaya. Sehat-sehat ya di Jakarta.”

Aku merasakan ponselku bergetar lagi. Ternyata ada telepon baru masuk juga. Dari Mama.

“Eh, Fir, udah dulu ya. Ada telepon juga dari Mama nih.”

“Ya udah, aku juga mau mandi. Aku cuma mau tau kabarmu aja kok. Bye, Besti.”

Sekarang giliranku terima telepon dari Mama.

“Iya, Ma. Ada apa?” Nada bicaraku lemas. Entah kenapa kalau bicara sama Mama itu bawaannya bikin malas. Yang sudah-sudah, tiap Mama mengajakku bicara kalau nggak butuh uang ya butuh tenagaku buat bantu jualan.

“Aslyn, kamu kok sampai Jakarta nggak ngabarin orang tua. Mama khawatir.”

Alah, pret, batinku.

“Maaf, Ma. Nggak sempet megang HP. Sudah capek di kantor dan di jalan.”

“Gimana hidup di Jakarta? Enak?”

Lihat selengkapnya