Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #5

Chapter V: (Andika Sena)

Gue keluar kantor. Langit Jakarta mulai berubah warna. Oranye keabu-abuan. Macet. Seperti biasa. Gue nyetir tanpa banyak pikir. Sampai akhirnya berhenti di lampu merah. Dan di situ … pikiran gue kembali ke tempat yang nggak gue undang.

Septhiria Chandra. Nama itu masih ada. Nggak sering muncul, tapi juga nggak pernah benar-benar hilang. Lima tahun. Harusnya cukup buat selesai. Ternyata… nggak sesederhana itu.

Seketika teringat kembali hari terakhir perpisahan dengannya.

Dia duduk di depan gue. Matanya merah. Suaranya tetap tenang.

“Dik, kita nggak bisa terus gini.”

Gue diam. Bukan karena nggak punya jawaban. Namun, karena tahu semua jawaban akan tetap berakhir sama.

“Aku harus nunggu kamu siap berapa lama lagi?”

Dia yang ngomong duluan. Gue… nggak bisa bantah. Bukan cuma soal siap nikah. Soal semuanya. Sedikit gue ceritakan tentang Septhiria Chandra.

Dia teman kuliah sekaligus mantan gue. Kami pernah jadian sekitar dua tahun. Dia buru-buru mengajak menikah. Waktu itu gue merasa belum siap. Baru lulus kuliah serta baru keterima kerja jadi CS bank. Sedangkan Septhiria adalah cewek Cindo dari keluarga berada. Kami juga terhalang beda agama.

Semua perbedaan itu nggak bisa diselesaikan cuma dengan cinta. Akhirnya gue memilih melepaskan dia. Lima tahun lalu kami putus baik-baik, tapi kami tetap berteman. Nggak lama kemudian, dia menikah dengan pengusaha tajir asal Pontianak. Lalu, dia pindah ke Pontianak ikut suami.

Lampu hijau. Klakson dari belakang. Gue tersadar. Mobil mulai jalan lagi. Pikiran gue masih tertinggal di masa lalu. Gue kira waktu bakal bikin semuanya hilang. Ternyata … waktu cuma bikin kita terbiasa. Bukan sembuh.

Gue parkir di depan kos. Mesin dimatikan. Sunyi. Dan lagi-lagi— gue sendirian sama pikiran gue sendiri.

Ting!

Notifikasi WhatsApp muncul. Kali ini dari Septhi. Gue menatap layar beberapa detik. Lama. Panjang umur dia. Baru dipikirin. Lalu, membuka pesan itu.

“Dik, aku lagi di Jakarta. Ketemu yuk.”

Jantung gue berdetak sedikit lebih cepat.mRefleks. Kebiasaan lama. Gue menghela napas. Harusnya ini biasa. Kami sudah bukan siapa-siapa. Dia sudah menikah. Gue juga sudah… ya, harusnya sudah move on.Harusnya.

Gue ketik balasan. Hapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Akhirnya …


Ok, boleh. Mau ketemu di mana dan jam berapa?

Singkat, aman dan nggak berlebihan.


Septhiria: Gimana kalau di HokBen Mall Bassura Cipinang aja? Aku nginep di apartemen Bassura. Jam limaan kali ya. Kamu jam segitu udah pulang kerja kan?


Gue beralih mengetik broadchast chat Akbar. Minta temenin dia. Akbar itu saksi kisah cinta gue sama Septhiria.


Bar … Septhi ngajak ketemu nih di HokBen Mall Bassura jam 5 sore. Katanya mumpung lagi di Jakarta. Temenin gue ketemu sama dia dong.


Akbar yang balas chat gue.


Ciyeee … reunian. Awas CLBK sama mantan terindah. Hahaha.


Gue balas chat Akbar.


Apaan sih. Ngaco lu. Dia udah punya laki juga. Gimana lu bisa nggak?


Belum semenit Akbar balas pesan gue lagi.


Lihat selengkapnya