Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #6

Chapter VI: (Ashlyn Aprilia)

Pukul 19.00.

Aku sudah tiba di apartemen. Perutku keroncongan, jadilah aku langsung makan nasi goreng yang dibeli saat perjalanan pulang.

Kebiasaanku adalah makan sambil main ponsel. Scroll beranda, reels sampai nonton story teman Instagram.

Story yang muncul pertama banget adalah story akun @andikasena. Aku klik untuk melihatnya. Ternyata dia repost postingan cewek akun Instagram @SepthiriaChandra. Foto yang dia posting foto lagi makan malam bersama Mas Andika dan Akbar di HokBen.

Mendadak aku jadi insecure melihat wajahnya Septhiria Chandra. Cantik banget. Tampang Cici-cici Cindo -Cina Indonesia-, rambut panjang dengan berponi, pipinya chubby dan kulitnya super putih. Aku jadi penasaran si Septhiria Chandra ini siapanya Mas Andika? Pacarnya kah?

Spontan aku balas story-nya.


Ciyeee … ngedate sama pacarnya ya?


Kebetulan dia lagi online, jadi dia langsung balas chatku.


Nggak. Cuma teman kuliah kok. Ini dia tadi ngajak ketemu karena kebetulan di Jakarta karena dia ikut suaminya di Pontianak. Kangen ngumpul katanya. Sayangnya, cuma Akbar yang bisa ngumpul bareng.


Entah kenapa hatiku terasa bahagia mendengar jawabannya ‘cuma teman kuliah’. Namun, aku nggak bisa percaya seutuhnya. Emang ada pertemanan cowok dan cewek? Andai ada, salah satunya pasti memendam cinta. Aku makin kepo. Jadilah aku semakin semangat memancing Mas Andika.

Aku balas lagi pesannya.


Yakin cuma teman kuliah? Pacaran juga nggak papa. Kalian cocok kok. Ceweknya cantik. Cindo kan? Mas Dika juga ganteng.


Mas Andika balas lagi.


Iya sih, kami sempet pacaran 2 tahun. Bubarannya 5 tahun lalu karena waktu itu aku belum siap nikah. Terus dia nikah duluan. Sama mangu. Terhalang rumah ibadah.


Tuh, kan. Ada yang patah, tapi bukan ranting. Melainkan hatiku. Aku yang sengaja memancing, aku juga yang patah hati mendengar pengakuannya. Baru aja mulai tumbuh benih-benih cinta, sudah layu sebelum berkembang. Dari awal aku sudah curiga, cowok seganteng Mas Andika kayak mustahil nggak niat nikah atau masih jomlo. Ternyata dia belum selesai dengan masa lalunya. Setidaknya, aku jadi tahu harus bersikap bagaimana sama Mas Andika. Yup, jaga jarak.

Aku baru tiba di kantor. Belum juga duduk di kursi kerja, Genk Aruna CS sudah menghampiriku. Aku mendesah napas berat. Aruna bakal bikin drama apa lagi?

“Hai, Ashlyn. Gue sama temen-temen gue mau minta maaf sama lu karena udah ngebully lu,” ucap Aruna. Dia mengulurkan tangan.

“Sama. Gue juga mau minta maaf. Kami memutuskan mau kok kerjasama ngerjain skenario bareng lu,” sahut cewek berhijab peach dan berkacamata. Aku melihat nama tertulis di nametag di dada ‘Agistya Maharani Joner’

Aku menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan aneh. Dia habis kesambet apa? Kemarin masih judes ke aku, sekarang kujuk-kujuk minta maaf.

Maafin nggak ya? Apa jangan-jangan ada udang di balik bakwan? Aku berpikir sejenak. Seketika, aku berpikir bahwa nggak ada salahnya memaafkan mereka daripada stres mengerjakan skenario sendirian.

Aku menjabat uluran tangan Aruna. “Gue udah maafin lu dari kemarin-kemarin kok. Santai aja. Gue anggep itu sambutan ospek kerja di sini.”

Kami pun duduk di kursi kerja masing-masing. Kursi Aruna tepat di sebelahku.

“Jadi tugas kami ngerjain bagian apa?”

“Gue kan masih baru ya, nggak gitu ngerti sistem kerja di sini. Biasanya kalian bagi tugasnya gimana?”

Aruna mulai menjelaskan. Sistem bagi tugasnya adalah Aruna yang mengerjakan full skenario, Agistya mengerjakan plotting, ibarat di novel itu outline detail per bab. Nah, di skenario detail adegan, setting tempat dan lain-lain. Lalu, Chelsi di bagian konsep pohon karakter. Dua lainnya saling bantu mengoreksi hasil skenario dibikin Aruna sebelum dikasih ke Mbak Dianita Devi. Bisa juga mereka bantu revisi.

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Aruna.

“Kalau gitu, tugas kalian kayak biasa ya. Aruna mengerjakan full skenario. Gue masih bisa deh ngekonsep plotnya. Agis bantuin cek bener nggak plotting yang gue kerjain. Biar gue juga ringan. Masih ada waktu ngurusin naskah baru. Naskahnya Ansar Siri. Gimana?”

“Oke, deal.”

Kami pun mulai kerja. Ketika aku mau buka komputer, mataku terpaku ke flyer lowongan kerja.

AT Picture Mencari 2 Penulis Skenario.

Aku mengernyit membaca judulnya. Om Eko kok buka loker pencarian penulis skenario nggak bilang aku dulu? Sekarang aku paham kenapa Aruna CS tiba-tiba minta maaf. Takut dipecat. Pertanyaannya adalah apa Om Eko tahu kelakuan Aruna? Atau Mas Andika yang bocorin kelakuan Aruna CS yang membulli aku ke Om Eko?

***

Aku ke kantin kantor untuk makan siang. Ternyata kantinnya penuh. Ada tempat kosong, tapi kursinya di depan Mas Andika makan. Buru-buru aku berbalik badan. Sesuai tekadku tadi malam, mulai hari ini aku mau jaga jarak sama Mas Andika.

Baru mau melangkahkan kaki …

“Ashlyn, kamu mau ke mana?”

Aku berbalik badan. “Kantinnya penuh. Jadi mau makan siang di Ayam Geprek dekat kantor aja.”

“Depanku masih kosong nih. Buruan makan sini aja. Ntar keburu diserobot orang. Kalau makan di luar, bakal lama lagi. Tahu sendiri, jam istirahat kita cuma 1.5 jam.”

Aku pikir ada benarnya juga. Akhirnya aku mau makan siang dengan duduk di depan Mas Andika.

Mas Andika melambaikan tangan ke pelayan kantin. Sesaat pelayan kantinnya datang.

“Permisi, Mbak mau pesan apa?”

“Ayam Geprek level 2 sambal matah dan es jeruk aja.”

“Baik. Bentar ya.”

Lihat selengkapnya