Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #7

Chapter VII: (Andika Sena)

Waktu itu cepat banget berlalu. Setelah dua hari libur weekend, tahu-tahu sudah Senin lagi aja. Seperti biasa, tiap Senin itu waktunya rapat dengan Pak Eko. Nah, sekarang gue sudah di ruang rapat. Gue duduk di kursi, tangan terlipat di atas meja, berusaha fokus ke apa yang Pak Eko jelasin.

Perhatian gue nggak benar-benar di sana. Gue lebih sadar ke hal-hal kecil. Tatapan Aruna. Nada suara Ashlyn. Kehadiran satu orang baru di sampingnya. Seorang cewek berhijab syar'i dan berkacamata. Ini pertama kali gue lihat cewek itu. Siapa dia? Karyawan baru kah? Firasat gue mengatakan masih ada hubungannya dengan Pak Eko dan Ashlyn.

Sepuluh menit menunggu, muncul Pak Eko. Beliau langsung duduk di kursi CEO kesayangannya.

“Pagi, semua. Perkenalkan gadis di sebelah Ashlyn bernama Elfira Novia biasa dipanggil Fira. Dia masih ponakan saya, dan mulai hari ini dia kerja di sini sebagai tangan kanannya Ashlyn.” Pak Eko memulai rapat dengan memperkenalkan Fira.

Ponakan lagi. Gue hampir pengen ketawa.

Pandangan gue nggak sengaja tertuju ke arah Aruna. Dia terlihat sibuk mengipasi diri dengan kertas. “Duh, gerah ya di kantor ini. Lama-lama sesak dengan ‘orang dalam',” lirihnya. Namun, gue masih bisa mendengar ucapannya.

Jujur, gue setuju dengan celetukan Aruna tadi. Lama-lama kantor ini gerah juga jika Pak Eko selalu masukin ‘orang dalam’ yang notabennya ponakan beliau. Nanti yang ada satu kantor full diisi keluarga Pak Eko doang.

Gue rasa Pak Eko juga mendengar ucapan Aruna. Terbukti Pak Eko langsung melotot ke arah Aruna. “Kamu tadi bilang apa, Aruna? Coba ucapin yang lebih keras.”

Wajah Aruna seketika pucat pas. DIa langsung menunduk. “Nggak, Pak. Saya nggak bilang apa-apa.”

“Oke. Aruna, dengar ya. Kalau saya tahu kamu masih membully Ashlyn atau Fira, saya nggak akan segan-segan memecat kamu.” Pak Eko mulai membuka laptop. Pandangannya beralih ke Ashlyn. “Ashlyn, gimana progres skenario novelmu?”

“Sudah separo jalan, Pak. Tim Aruna sudah bersedia bekerja sama dengan saya mengerjakan skenario ini makanya lebih cepat prosesnya. Saya usahakan akhir bulan ini selesai,” jawab Ashlyn.

“Berarti bisa dong, sekarang pegang project novelnya Ansar Siri juga? Saya dapat info dari pihak DKJ, mereka minta proses filmnya dipercepat buat menjaga euforia kemenangan novelnya biar nggak anyep. Sekarang lagi gencar dibicarakan para kritikus sastra di media cetak dan sosial media.”

“Apa nggak terlalu cepat? Bukannya bulan depan kita memulai memegang novelnya Ansar? Klo bulan ini saya takut konsentrasi saya terpecah dua.”

“Menurutmu gimana, Andika?”

Jantung gue serasa mau copot ketika tiba-tiba Pak Eko menyebut nama gue. Langsung gue berpikir keras mencari solusinya.

“Menurut saya Ashlyn ada benarnya, bulan ini dia fokus skenario yang dia pegang aja. Namun, jika Pak Eko mau sekalian menangani naskah Ansar, bisa ditangani Fira dulu. Tugas Fira cukup baca naskah novelnya dan diskusi sama Ansar tentang bagian mana yang dipertahankan di skenario dan bagian mana yang dibuang atau dirombak.”

Pak Eko bertopang dagu di meja kerja. “Idemu bagus juga.” Pandangan Pak Eko beralih ke Fira. “Gimana Fira kamu bersedia dilimpahi tugas pertama dengan menangani naskah novelnya Ansar?”

“Kalau Pak Eko percaya saya, insyaallah saya bersedia menerima tugas Pak Eko. Mohon bimbingannya.”

“Tentu saja. Nanti kamu bisa diskusi sama Ashlyn juga.” Pak Eko mengangkat tangan kanannya. “Hmmm … berhubung sudah tidak ada masalah lagi, rapat saya akhiri cukup sampai di sini. Saya ada urusan di luar soalnya.”

Pak Eko dan satu per satu Genk Aruna meninggalkan ruang rapat. Tersisa gue, Ashlyn dan Fira.

“Mas Dika buru-buru ke ruang kerja nggak?” tanya Ashlyn.

“Nggak sih. Napa?”

“Bisa nggak VC Ansar? Mau ngenalin Fira, ngasih tau Ansar kalau mulai dari sekarang yang menangani naskah dia itu Fira.”

“Oke, bentar.” Gue mengambil ponsel di tas kerja. Lalu, gue melakukan video call dengan Ansar di Whatsapp.

Muncullah wajah Ansar.

“Hay, Bro. Sori ganggu kerja lu.”

“Kebetulan banget lagi sepi nih. Jadi agak slow. Napa? Tumben vc jam segini?”

“Nih, Ashlyn mau ngomong sama lu.” Gue arahin kameranya ke Ashlyn.

“Halo, Mas Ansar. Apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik.”

“Kenalin cewek di sebelah saya namanya Fira. Dia sepupu saya sekaligus tangan kanan saya di kantor. Nah, mulai sekarang yang menangani naskahmu Fira ya. Kamu bisa diskusi sama dia bagian mana yang dipertahankan skenarionya mana yang dirombak atau dibuang.”

“Yah.” Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Ansar.

Gue jadi penasaran, “Yah, kenapa coba? Ada masalah, Sar?”

“Nggak papa sih. Siapa pun yang menangani naskah gue, gue fine-fine aja. Selama hasilnya bagus, gue tetep seneng.”

 “Syukurlah kalau gitu.”

“Eh, gue mau lanjut kerja dulu ya. See you.”

Panggilan video call dengan Ansar berakhir. Entah kenapa gue mulai ngerasa ada yang aneh. Wajah Ansar. Suaranya. Cara dia jawab. Gue kenal dia. Terlalu kenal. Gue tahu itu bukan ekspresi biasa. Mendadak perut gue terasa mulas.

***

Lihat selengkapnya