Bukan Rumah yang Kutuju

Ariny Nurul haq
Chapter #8

Chapter VIII: (Ashlyn Aprilia)

“Ciyeeee … yang digendong Mas Dika. Dia baik ya. Kamu pasti suka sama dia kan?” celetuk Fira begitu duduk di sebelahku.

Aku memijat kening yang masih pusing. Eh, ini Fira malah godain aku dengan Mas Dika. “Apaan sih. Aku sama dia biasa aja. Sebatas rekan kerja aja.”

Fira menoel lenganku. “Ah, masa sih? Lebih dari rekan kerja juga nggak papa banget loh. Dia kayaknya juga suka sama kamu.”

“Nggak mungkin lah. Kemarin gue liat dia masih makan bareng sama mantannya yang Cindo itu. Dia mengaku sendiri kalau dia juga bingung perasaannya antara udah move on atau belum.”

“Nah, bisa jadi dia aslinya udah move on dan sekarang lagi naksir kamu. Nggak mungkin cowok bener-bener baik sampe bela-belain gendong kamu dari kantor sampai masuk apartemen. Ih, so sweet banget tau.”

“Nggak usah ngaco deh.”

“Tapi kamu juga suka kan sama Mas Dika?” Fira mendekatkan wajahnya ke arahku. “Tuh, memerah pipimu tanda salting. Inget digendong Mas Dika yaaa. Gimana rasanya digendong cowok ganteng?”

“Au, ah.”

“Ciyeee.”

Suara Fira masih terdengar, tapi seperti jauh. Aku hanya menutup wajah dengan bantal. Bukan karena malu. Namun, karena… aku terlalu lelah untuk memikirkan perasaan lain. Aku belum selesai dengan hidupku sendiri. Masih banyak hal aku bereskan terlebih dahulu.

Drrrrttt...

Ponsel di dalam tas bergetar.

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku sudah tahu siapa. Mama. Dadaku langsung terasa berat. Bukan kaget. Lelah. Aku menolak panggilan itu. Namun, ponsel kembali bergetar. Mama.

Aku langsung mematikan ponsel. Sunyi. Justru di situ, kepalaku mulai berisik.

“Ashlyn, kamu durhaka.”

“Ashlyn, dia tetap ibumu.”

“Ashlyn, kalau dia kenapa-kenapa gimana?”

“Fir… aku jahat nggak sih? Aku capek.” Aku bernapas sejenak. “Aku capek tiap kali dia telepon, bukan nanya aku makan atau nggak… bukan nanya aku sehat atau nggak… tapi langsung—duit. Aku ini anak… atau mesin ATM? Aku tahu dia ibuku… tapi kenapa aku nggak pernah ngerasa punya ibu? Kalau aku berhenti bantu dia… terus dia susah gimana?”

Fira menatapku lekat. “Itu tanggung jawab semua anak, bukan cuma kamu.”

“Kalau aku bahagia tanpa mereka itu dosa nggak?”

“Kamu nggak berdosa karena ingin sembuh.”

Aku menyalakan ponsel. Puluhan notifikasi pesan Whatsapp muncul.


Mama:

“Angkat telepon Mama!”

“Kamu kenapa sih sekarang susah dihubungi?”

“Kalau sudah kerja jangan lupa keluarga!”

Aku buka kontak, mencari nomor Mama. Tanganku gemetar. Aku tekan. Block Contact.

Hening.

“Fir… aku barusan…” Tagisku pun pecah. “Aku jahat. Aku anak durhaka. Satu sisi, entah kenapa rasanya… lega…”

Aku tidak tahu… aku harus bangga karena berhasil tegas menolak terus-terusan dijadikan mesin ATM atau menyesal.

Fira memelukku erat dan menepuk-nepuk pundakku. “Nggak papa kok. Mungkin kamu memang butuh jarak dulu sama mamamu agar saling intropeksi. Siapa tau abis ini mamamu sadar betapa berharganya kamu jadi anaknya.”

Lihat selengkapnya