Gue benci bangun pagi dalam keadaan kayak gini.mKepala berat. Badan panas. Dan pikiran… lebih kacau dari biasanya. Gue menatap langit-langit kamar.Kosong. Sama kosongnya kayak kepala gue yang terlalu penuh.
“Apa sih yang salah dari hidup gue…”
Ini bukan soal kerjaan. Ini soal satu hal—perasaan. Sejak Ansar bilang dia suka Ashlyn, semuanya berubah. Gue mulai jaga jarak. Mulai pura-pura sibuk. Bukan karena gue nggak peduli. Justru karena gue terlalu peduli. Itu yang bikin gue takut.
Septhiria di depan gue.,“Aku harus nunggu kamu sampai kapan, Dik?”
Adegan masa lalu kembali terbayang di benak gue. Gue diam. Gue nggak mau jadi orang yang sama. Nyatanya, sekarang gue ada di posisi yang sama lagi. Bedanya—yang bakal gue sakitin bukan satu orang, tapi dua. Ashlyn dan Ansar.
Gue lanjut rebahan aja. Gue ambil ponsel pintar di meja. Ada banyak sekali notifikasi grup sekolah, grup kerjaan sampai grup PPSUM Squad. Nah, gue cek grup PPSUM Squad dulu.
Akbar.
Bro, ntar sore kita mau nonton di mana? Nonton bioskop atau Netflix? Klo Netflix di rumah siapa?
Jadi, PPSUM itu biasanya tiap awal atau akhir bulan ada jadwal nonton bareng. Kalau nggak nonton di bioskop ya berarti nonton Netflix di rumah salah satu dari gue, Roby atau Akbar.
Gue mengetik chat di grup
PPSUM Squad.
Gaess … klo nonton Netflix di apartemen gue aja gimana? Gue lagi nggak enak bodi nih. Keliyengan. Terus agak anget juga.
Gue juga tinggal di apartemen. Walau apartemen gue nggak semewah apartemennya Ashlyn. Yang per bulan tiga jutaan. Nggak lama kemudian, Roby dan Akbar balas chat gue bersamaan.
Roby.
Oke, kami ke sana jam 5 sorean ya. Lu tidur aja dulu seharian.
Akbar.
Mau dibawain makanan apa?
Gue balas lagi chat mereka.
Bawain Nasi Padang, Pizza dan Cappucino aja bisa? Nggak tau kenapa pengen Nasi Padang, Pizza dan Kopi.
Akbar.
Oke, siap. Tungguin ya. Inget, lu seharian istirahat aja sampe kami datang.
Muncul chat Ragiel.
Ragiel.
GWS, Bro.
Gue cukup balas chat Ragiel dengan ucapan terima kasih.
***
Akbar dan Roby sedang asyik nonton film horor Indonesia di Netflix. Mulut mereka nggak berhenti julid. Tujuan mereka nonton horor Indonesia bukan karena penasaran ceritanya, tapi bukan santapan enak dijulidin. Katanya melepas pelampiasan maki-maki tokohnya, adegan bodoh dan sekaligus bisa jadi bahan bikin tertawa.
Gue hanya mendengarkan julid mereka dengan saksama. Gue nggak ikut julid. Pikiran gue malah melayang ke arah Ashlyn.
“Dik, tumben lo diem aja?” ujar Akbar melirik ke arah gue. “Lo lemes banget ya. Sampe ngomong aja nggak bisa? Biasanya kan lo paling semangat julid film Horor Indonesia apalagi saingan utama PH tempat kerja lo. Apa perlu gue bawa ke rumah sakit?” sambungnya lagi.
“Gue nggak papa, kok. Mungkin karena lagi banyak pikiran aja kali ya.”
Roby minum kopi yang dia bawa. “Nggak mau berbagi cerita dan masalah gitu? Biasanya kan apa pun masalahnya, pasti sharing ke kita.”
Gue terdiam sejenak. Apa gue cerita aja ya tentang Ashlyn ke mereka? Setelah berpikir, beberapa menit gue memutuskan bercerita ke mereka.